Kisah Nakes di RSU Monompia saat Tangani Pasien dari Tragedi Drag Race di Upai Kotamobagu
Glendi Manengal August 11, 2026 04:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Berikut ini tiga tenaga kesehatan yang menjadi pahlawan saat menangani para korban tragedi drag race di Kelurahan Upai, Kotamobagu Utara, Kotamobagu, Sulut pada Minggu (9/8/2026).

Ketiga nakes tersebut bekerja Rumah Sakit Umum (RSU) Monompia, Kotamobagu.

Jarak lokasi kejadian tragedi drag race ke RSU Monompia sekitar 3,9 km dengan waktu tempuh sekitar 9 menit dengan kendaraan bermotor.

Nama para Tenaga Kesehatan

Ketiga nakes tersebut yakni:

·⁠  Firmansyah Mokoginta

·⁠  Amelia Pangindahen

·⁠  Ayha Hasan

Ketiganya adalah sosok pahlawan di Rumah Sakit Umum (RSU) Monompia, Kotamobagu. 

Kisah Tiga Nakes di RSU Monompia

Pasalnya, pada saat tragedi drag race maut di kelurahan Upai terjadi, ketiga tenaga kesehatan (nakes) ini rela masuk kerja.

Padahal pada saat itu, ketiganya sedang lepas dinas atau libur. 

Kepada Tribunmanado.co.id, Amelia Pangindahen mengaku datang sekitar pukul 16.30 Wita ke RSU Monompia.

"Waktu itu saya lepas dinas, tapi pas ada informasi soal kecelakaan itu saya langsung ke rumah sakit," ujarnya, Selasa 11 Agustus 2026 di ruangan IGD. 

Ia mengaku saat datang ke rumah sakit, sudah banyak sekali warga.

Selain itu, semua bed yang ada di IGD penuh dengan pasien. 

"Waktu sampai di rumah sakit langsung lakukan penindakan, bersihkan luka pasien hingga pasang infus," ucapnya. 

Pada saat itu, Amelia mengaku bekerja hingga pukul 02.00 Wita. 

Pasalnya, banyak pasien yang harus dirujuk ke Manado. 

"Seingat saya waktu itu pulangnya subuh. Sangat bersyukur karena kekompakan nakes di IGD RSU Monompia sangat luar biasa," katanya. 

Hal senada dikatakan Firmansyah Mokoginta nakes lainnya.

Ia mengaku saat tahu ada lakalantas maut saat ivent drag race, ia langsung menuju ke rumah sakit.

"Katena yang bertugas hari itu hanya empat orang, jadi saya yakin mereka akan kewalahan," ucapnya. 

Datang sekitar pukul 17.00 Wita, ia langsung membantu para korban yang dirawat. 

"Saya cek luka pasien kemudian dibersihkan. Tapi kepanikan saat itu luar biasa," tuturnya. 

Dia mengaku saat dinas biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Namun pada hari itu, Firmansyah memilih membantu rekan-rekannya di IGD. 

"Saya pulangnya sekitar pukul 22.00 Wita dan memilih membantu rekan-rekannya pada hari itu," katanya. 

Sementara itu, Ayha Hasan mengaku kondisi di IGD RSU Monompia saat itu penuh dengan warga. 

"Jadi tidak hanya bed yang full, didepan ruangan banyak degan keluarga korban," ucapnya. 

Dirinya mengaku dari 10 korban yang masuk ke IGD RSU Monompia, salah satunya sudah tewas. 

Sedangkan dua korban lainnya tewas saat mendapatkan perawatan. 

"Ada tiga yang meninggal disini. Tapi kami masih sempat melakukan perawatan kepada dua korban," ucap dia. 

Perawat yang sudah bekerja selama lima tahun di RSU Monompia ini juga sempat memberikan perawatan kepada salah satu korban anak perempuan. 

"Tapi sekarang anak itu sudah dirujuk ke Manado," ucapnya. 

Ia pun mendoakan agar para korban yang selamat bisa segera pulih. (Nie)

Baca juga: Update Terkini Restorasi SKKL Melonguane–Morotai: Pengambilan Kabel Laut Sisi Melonguane Rampung

(TribunManado.co.id/Nie)

_

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.