Perang Lawan Iran Tak Hanya Kuras Amunisi AS: Cadangan Minyaknya Juga Merosot ke Level Terendah
Amirullah August 11, 2026 04:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Perang melawan Iran tidak hanya menguras persediaan amunisi militer Amerika Serikat, tetapi juga menggerogoti benteng pertahanan energi negara tersebut.

Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) milik AS kini tersedot hingga menyentuh titik terendah sejak dekade 1980-an.

Berdasarkan data terbaru Kementerian Energi AS, volume SPR merosot ke angka 298,7 juta barel per Jumat (7/8/2026). Ini menjadi momen pertama kalinya persediaan minyak darurat Paman Sam jebol di bawah ambang batas 300 juta barel sejak awal 1980-an era ketika AS gencar menumpuk stok demi menangkal dampak embargo minyak Arab era 1970-an.

Sebagai perbandingan, sebelum konflik bersenjata melawan Iran meletus, AS masih mengantongi sekitar 415 juta barel.

Intervensi Pasar di Tengah Imbas Perang

Penyusutan tajam ini sebenarnya sudah terprediksi. Pada Maret lalu, pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pelepasan 182 juta barel minyak dari SPR yang dialokasikan selama 120 hari.

Langkah radikal tersebut diambil untuk meredam gejolak harga bahan bakar akibat eskalasi militer dengan Iran yang bergulir sejak akhir Februari.

Meski demikian, gelontoran minyak darurat itu belum mampu menjinakkan lonjakan harga BBM secara signifikan. Kepala Analisis Minyak Bumi di GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan tren penyusutan ini masih akan berlanjut.

"Penurunan SPR kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa minggu lagi sebelum pelepasan yang diizinkan selesai," ujar De Haan melalui unggahannya di platform X.

Pelepasan cadangan berskala raksasa ini bukan kali pertama dilakukan. Pada 2022, mantan Presiden Joe Biden juga pernah mengizinkan pengeluaran 180 juta barel minyak dari SPR setelah invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga minyak dunia.

Baca juga: Harga Minyak Goreng Stabil di Aceh Barat Daya, Telur Ayam Naik Tipis

Terganjal Kerusakan Infrastruktur Tua

Niat pemerintah mengalirkan persediaan minyak darurat ternyata terbentur persoalan internal: fasilitas penyimpanan yang makin tergerus usia. Laporan Government Accountability Office (GAO) pada Mei lalu mengungkap bahwa lebih dari seperempat total inventaris SPR mendadak tidak dapat ditarik per Desember 2025.

Masalahnya berlapis, mulai dari penghentian operasional akibat proyek konstruksi hingga gangguan teknis pada fasilitas penampungan. Analisis Rapidan Energy per Juli bahkan menunjukkan ada setidaknya 103 juta barel minyak yang saat ini "terkunci" dan tak bisa diakses.

Dalam laporannya, GAO menegaskan risiko kondisi tersebut:

"Kemampuan penarikan, distribusi, dan pengisian SPR saat ini terbatas dan berisiko ke depannya karena masalah infrastruktur tua yang sudah berlangsung lama, diperparah oleh konstruksi besar-besaran yang tengah berlangsung untuk mengatasinya," tulis GAO.

Kendati demikian, pihak Kementerian Energi AS mengklaim kondisi operasional masih berada dalam batas aman. Batas minimum minyak yang dibutuhkan agar SPR tetap berfungsi aman adalah sekitar 70 juta barel. Pandangan senada disampaikan David Goldwyn, mantan utusan khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional era Presiden Barack Obama.

"Saya tidak khawatir tentang stabilitas cadangan minyak atau kemampuan kita untuk melakukan penarikan lagi jika kita membutuhkannya," tutur Goldwyn saat itu.

Baca juga: Harga Emas Murni dan London di Abdya Bertahan, Cek Pasaran Antam, Selasa 11 Agustus 2026

Harga Minyak Mentah Kembali Melonjak

Di pasar finansial, kekhawatiran pelaku usaha justru terus membumbung akibat memudarnya prospek kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,1 persen ke posisi 82,13 dollar AS per barel pada Senin (10/8/2026). Pada hari yang sama, acuan harga global minyak Brent menyusul naik 5 persen hingga menyentuh 87,72 dollar AS per barel.

Kenaikan tajam ini terpicu oleh pernyataan Donald Trump kepada Axios pada Minggu (9/8/2026) yang mengisyaratkan negosiasi masih jauh dari kata rampung.

"Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi besarnya dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang." kata Trump.

(Serambinews.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.