Stunting Madiun Turun Jadi 5,02 Persen, Bupati Hari Wuryanto Bidik di Bawah 2,5 Persen
Rendy Nicko August 11, 2026 04:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, MADIUN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun mengklaim angka stunting di wilayahnya terus menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data yang dimiliki Pemkab Madiun, prevalensi stunting bulan Juli 2026 berada di angka 5,02 persen.

Angka tersebut turun dibandingkan tahun 2024 yang mana stunting berada di angka 5,48 persen.

Tak mau berbangga diri dulu, Bupati Madiun Hari Wuryanto menargetkan angka stunting bisa ditekan hingga di bawah 5 persen, bahkan menyentuh di bawah 2,5 persen sesuai target internasional.

"Pokoknya kita harus di bawah 5 persen. Syukur nanti seperti target internasional itu harus di bawah 2,5 persen," kata Hari Wuryanto saat menghadiri monitoring bulan timbang di Posyandu Kartini, Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Selasa (11/8/2026).

Baca juga: Cegah Karhutla, Polres Blitar Kota Pasang Banner Larangan Bakar Lahan di Lereng Gunung Pegat

Menurut Hari, tren stunting di Kabupaten Madiun selama ini terus mengalami penurunan. Pemkab juga telah melakukan intervensi sejak sebelum anak memasuki usia balita hingga memasuki usia remaja.

Intervensi tersebut antara lain dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah bagi remaja, edukasi kepada calon pengantin (catin), hingga pemberian imunisasi oleh Dinas Kesehatan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya kasus stunting baru. Sebab, penanganan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi harus dimulai sejak dini.

"Kita intervensi supaya kita tidak akan nambah (kasus stunting baru)," ujarnya.

Meski demikian, Pemkab Madiun masih menghadapi pekerjaan rumah di sejumlah wilayah. Kecamatan Saradan dan Pilangkenceng menjadi dua kecamatan yang mendapat perhatian lebih karena angka stuntingnya masih jauh di atas 5 persen.

Hari mengakui intervensi di dua wilayah tersebut sebelumnya relatif terlambat. Kondisi geografis juga menjadi salah satu kendala dalam percepatan penanganan.

"Karena kita agak terlambat dulu intervensi kita ke sana dan memang kondisi geografisnya kita agak kesulitan. Di sana hutan, antar rumahnya juga jauh. Ini juga mempengaruhi," jelasnya.

Karena itu, Pemkab Madiun akan meningkatkan intervensi di Kecamatan Saradan dan Pilangkenceng. Kedua wilayah tersebut menjadi sasaran untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif agar turut mendorong penurunan angka stunting secara keseluruhan.

Di sisi lain, Hari juga menyinggung adanya perbedaan antara data stunting hasil survei Kementerian Kesehatan dengan data yang dihimpun Pemkab Madiun melalui pengukuran di lapangan.

Dari data Kemenkes, angka stunting Kabupaten Madiun tahun 2024 masih mencapai 12 persen jauh lebih tinggi dibandingkan data Kabupaten Madiun yang hanya berada di angka 5 persen.

Pemkab Madiun akan melakukan pendalaman sekaligus meningkatkan kemampuan kader Posyandu agar proses pengukuran dan pencatatan dilakukan secara lebih akurat.

Hari menyebut capaian Bulan Timbang di Kabupaten Madiun sendiri telah mencapai 99 persen. Dengan cakupan pengukuran yang tinggi tersebut, Pemkab berharap data yang dihasilkan semakin menggambarkan kondisi riil di lapangan.

"Nanti ada pendalaman, ada pelatihan-pelatihan kepada teman-teman bagaimana supaya mengukur tepat sasaran. Ini yang kita harapkan," katanya.

Pemkab Madiun juga berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat semakin mempercepat penurunan stunting. Koordinasi antarinstansi dalam penanganan masalah gizi dinilai kini semakin mudah.

"Harapannya begitu. Sekarang alhamdulillah koordinasinya lebih mudah," ungkap Hari.

Menurutnya, intervensi kini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga kelompok B3 (Ibu hamil, ibu menyusui, dan Balita non-Paud).

Hal tersebut diharapkan semakin memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting, termasuk di Kecamatan Saradan dan Pilangkenceng.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun Heri Setiyana mengatakan, upaya pengentasan stunting di Kabupaten Madiun dilakukan secara berkelanjutan melalui pemantauan pertumbuhan anak serta berbagai intervensi untuk mencegah munculnya kasus stunting baru.

Salah satu kekuatan Kabupaten Madiun dalam upaya tersebut adalah keberadaan Posyandu yang tersebar di seluruh wilayah.

Hingga 2025, Kabupaten Madiun tercatat memiliki 877 Posyandu dan seluruhnya berstatus aktif atau mencapai 100 persen.

Posyandu tersebut didukung 6.449 kader, yang terdiri dari 307 kader strata Pratama, 895 kader strata Madya, 271 kader strata Utama, serta 4.976 kader yang masih dalam proses pembinaan untuk mendapatkan strata.

Menurut Heri, keberadaan kader menjadi bagian penting dalam memastikan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan secara rutin.

Hal itu juga terlihat dari pelaksanaan Bulan Timbang. Pada 2025, Kabupaten Madiun berhasil mencapai cakupan 100 persen Posyandu dalam pelaksanaan Bulan Timbang.

Capaian tersebut kembali ditargetkan dipertahankan pada 2026 agar seluruh balita mendapatkan pelayanan pemantauan pertumbuhan secara optimal.

(Sofyan Arif Chandra/TribunMataraman.com/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.