TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN – Cuaca di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) diprediksi masih didominasi kondisi cerah dalam tiga hari hingga satu pekan ke depan.
Kepala BMKG Tarakan, M Sulam Khilmi, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan kondisi tersebut sebagai musim kemarau. Sebab, peluang hujan masih tetap ada, hanya saja intensitasnya diprakirakan rendah.
Ketika kembali ditanyakan apakah kondisi tersebut berarti cerah atau kering, ia menegaskan prakiraan BMKG menunjukkan kondisi cerah.
Namun, untuk mengetahui kapan hujan dengan intensitas lebih tinggi kembali berpotensi terjadi, BMKG masih harus melakukan pemantauan secara berkala.
Tidak hanya untuk tiga hari ke depan, kondisi cuaca cerah juga diprakirakan masih berlangsung hingga satu pekan mendatang.
M.Sulam Khilmi menjelaskan, wilayah Kalimantan Utara masuk dalam wilayah yang berdasarkan prakiraan BMKG masih didominasi warna hijau. Prakiraan tersebut juga berlaku untuk sejumlah wilayah Kalimantan lainnya.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kaltara Kamis 6 Agustus 2026, Tarakan Cerah, Tanjung Selor Berawan
"Iya sama. Karena Tarakan ini juga masuk di Kalimantan ya. Jadi seminggu depan ini prediksinya cerah ya, ini hijau semua," jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa warna hijau pada peta prakiraan bukan berarti wilayah tersebut sama sekali tidak akan mengalami hujan. Sebaliknya, masih terdapat peluang hujan, tetapi intensitasnya diperkirakan rendah.
"Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah ini hijau. Artinya ya peluang hujannya ada tapi intensitasnya rendah ya. Antara 0,5 sampai 20 mm," katanya.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami arti warna dalam peta prakiraan cuaca agar tidak keliru mengartikan kondisi "hijau" sebagai tidak adanya hujan sama sekali.
"Itu hijau. Kalau putih ya itu baru ya. Kalau putih itu memang cerah berawan. Kalau hijau ya cukup ini ya. Cukup kecil intensitas hujannya," lanjutnya.
Meski hujan dalam beberapa hari terakhir relatif minim, BMKG Tarakan belum menetapkan Tarakan maupun Kaltara sebagai wilayah yang telah memasuki musim kemarau.
M Sulam Khilmi menjelaskan, penetapan musim kemarau tidak hanya berdasarkan kondisi satu atau beberapa hari tanpa hujan. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi secara berturut-turut.
"Tiga dasarian berturut-turut itu intensitas hujannya kurang dari 50 mm. Itu baru disebut kemarau. Belum memenuhi," terangnya.
Dasarian merupakan periode selama 10 hari. Dengan demikian, untuk menentukan suatu wilayah telah memasuki musim kemarau, kondisi curah hujan harus memenuhi kriteria tersebut selama tiga dasarian berturut-turut.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kaltara Sabtu 1 Agustus 2026, Tanjung Selor dan Tarakan Cerah
BMKG nantinya akan melakukan rekapitulasi data pada akhir bulan untuk memastikan apakah kondisi yang terjadi telah memenuhi klasifikasi musim kemarau atau belum.
"Itu nanti kan di akhir bulan akan kami recap apakah ini memenuhi klasifikasi kemarau atau tidak. Kalau nanti memenuhi berarti nanti data rujukannya akan dirubah bahwa Tarakan itu mengalami ada musim kemarau. Tapi saat ini belum," jelasnya.
Dengan demikian, meskipun prakiraan cuaca menunjukkan kondisi cerah dalam beberapa hari ke depan, masyarakat tidak perlu langsung menyebut kondisi tersebut sebagai musim kemarau.
M. Sulam Khilmi kembali menegaskan, prakiraan cuaca untuk tujuh hari ke depan memang menunjukkan kondisi yang cenderung cerah. Namun, peluang hujan tetap ada dengan intensitas yang diperkirakan tidak mencapai 20 milimeter per hari.
"Ya dalam 7 hari ke depan memang prediksinya cerah namun seperti tadi saya sampaikan ada peluang hujan tapi intensitasnya tidak sampai 20 mm per hari," ujarnya.
Kondisi tersebut juga harus dilihat dalam konteks karakteristik iklim Tarakan yang secara umum masuk dalam kategori wilayah dengan hujan sepanjang tahun.
Menurutnya, secara statistik jumlah hari hujan di Tarakan masih lebih banyak dibandingkan hari tanpa hujan.
Ia bahkan menyebut jumlah hari hujan di Tarakan rata-rata masih berada di atas 20 hari dalam sebulan.
"Hari hujannya lebih banyak daripada hari yang tidak hujan. Jadi hari hujannya kalau di Tarakan itu rata-rata ya di atas 20 hari per bulan," jelas M. Sulam Khilmi.
Meski demikian, kondisi cuaca harian tetap menjadi perhatian BMKG karena karakteristik cuaca sangat dinamis.Data mengenai kondisi hujan juga terus diperbarui melalui pemantauan BMKG.
"Ini jarak hujannya masih nol ya. Ini 25 jam terakhir untuk Tarakan," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan BMKG untuk melihat perkembangan hari tanpa hujan dan kondisi kelembapan wilayah.
Sebab, meskipun secara klimatologis Tarakan dikenal sebagai wilayah dengan hujan sepanjang tahun, periode tanpa hujan selama beberapa hari tetap dapat meningkatkan kekeringan di permukaan.
M. Sulam Khilmi memberikan perhatian khusus terhadap potensi kebakaran apabila hujan tidak turun selama beberapa hari.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat di Tarakan, Bulungan maupun wilayah Kaltara lainnya.
"Namun yang perlu diingat bahwa ketika Tarakan atau Bulungan ya. Ataupun semua wilayah Kalimantan Utara pada umumnya tidak hujan 3 hari atau sampai 5 hari saja. Ini sudah sangat kering," ungkapnya.
Kondisi kering tersebut dapat membuat potensi terjadinya kebakaran meningkat, khususnya apabila terdapat aktivitas pembakaran terbuka.
"Dan level kemudian terbakarnya meningkat. Itu yang perlu diperhatikan," katanya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran secara sembarangan, terlebih pembakaran yang dilakukan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan.
"Jadi mohon kami kepada masyarakat. Mohon di musim yang saya tidak bilang kemarau ya. Tapi hujannya turun ya, intensitas hujannya sangat minim ya. Mohon untuk tidak melakukan pembakaran. Apalagi dengan tidak bertanggung jawab ya," tegasnya.
Selain potensi kebakaran, kondisi cuaca yang lebih kering juga perlu diantisipasi masyarakat dari sisi kesehatan. BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh, salah satunya dengan memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi.
"Kemudian ya apa, jaga kesehatan ya. Dengan cukup minum air. Saya kira itu," ujar M. Sulam Khilmi.
Di sisi lain, masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan Kaltara juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Dalam satu hari ke depan, BMKG memprakirakan potensi gelombang tinggi masih cukup signifikan di wilayah perairan Kalimantan Utara.
"Dan juga jangan lupa potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Kalimantan Utara juga cukup tinggi potensinya sampai bisa mencapai 2,5 meter," katanya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang menggunakan transportasi laut maupun melakukan aktivitas di perairan diminta tidak mengabaikan aspek keselamatan.
"Jadi kepada masyarakat yang beraktivitas di perairan. Mohon berhati-hati dan selalu memperhatikan aspek keselamatan," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah