Motif Penonton Pukul Pemain di Turnamen Bola HUT RI Anambas Terungkap, Terbawa Euforia Laga
Dewi Haryati August 11, 2026 05:27 PM

 

ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Peristiwa pemukulan terhadap pemain tim sepak bola Desa Impol dalam pertandingan HUT ke-81 Republik Indonesia di Lapangan Sepak Bola Letung, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. 

Penyelesaian tersebut dilakukan setelah pihak-pihak yang terlibat bertemu dan membahas persoalan tersebut melalui mediasi.  

Dalam kesepakatan itu, pelaku pemukulan menyampaikan permintaan maaf kepada korban. 

Pelaku pemukulan diketahui bernama Raja Ghani Syafaat (RGS), sementara korban merupakan pemain Desa Impol dengan nomor punggung 11, Dervin. 

Kapolsek Jemaja, Iptu Sutomo mengatakan, pemukulan tersebut terjadi saat pertandingan antara tim Desa Impol melawan SMAN 1 Jemaja pada Jumat, 7 Agustus 2026. 

Menurut Sutomo, tindakan pemukulan itu dilakukan karena pelaku yang merupakan penonton, terbawa euforia pertandingan.  

Selain itu, pelaku juga dinilai sedikit usil, sehingga situasi yang awalnya terjadi di tengah pertandingan kemudian berkembang menjadi keributan. 

"Motifnya karena terbawa euforia pertandingan dan sedikit usil. Namun, tindakan tersebut tentu tidak dibenarkan," kata Sutomo saat dikonfirmasi, Selasa (11/8/2026). 

Sutomo menjelaskan, identitas pelaku diketahui setelah pihak kepolisian melakukan penelusuran terhadap video kejadian yang beredar di media sosial. 

"Setelah video beredar, kami melakukan identifikasi terhadap orang yang melakukan pemukulan. Dari video tersebut kemudian diketahui siapa pelakunya," ujarnya. 

Peristiwa itu bermula ketika pertandingan antara Desa Impol dan SMAN 1 Jemaja berlangsung.

Saat itu, tim Desa Impol tertinggal dengan skor 2-0 dari lawannya. 

Di tengah pertandingan, terjadi pelanggaran yang dilakukan pemain Desa Impol.

Situasi tersebut kemudian memicu cekcok hingga terjadi aksi saling dorong antara pemain kedua kesebelasan. 

Keributan semakin memanas setelah sejumlah pendukung masuk ke dalam lapangan.

Kondisi tersebut membuat situasi di tengah lapangan menjadi tidak terkendali dan terjadi keributan antara sejumlah orang yang berada di lokasi. 

Dalam kondisi tersebut, RGS kemudian menendang Dervin dari arah samping.

Tendangan itu membuat korban kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke tanah. 

Tidak berhenti di situ, beberapa pendukung lainnya juga melakukan tindakan serupa dengan menendang korban yang masih berada di tanah.

Saat itu, Dervin berusaha melindungi bagian kepalanya menggunakan kedua tangannya. 

"Korban sempat berada di bawah dan melindungi kepalanya. Tidak lama kemudian, ada beberapa orang yang menarik korban keluar dari kerumunan," ujar Sutomo. 

Setelah kejadian tersebut, persoalan kemudian dibawa ke proses mediasi.

Korban menyampaikan sejumlah permintaan sebagai bentuk penyelesaian secara kekeluargaan. 

Salah satu permintaan korban adalah penggantian biaya pengobatan sebesar Rp500.000.

Selain itu, pelaku juga diminta membuat surat pernyataan permintaan maaf dan menyatakan kesanggupan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa. 

Permintaan tersebut tidak hanya berlaku terhadap korban, tetapi juga pemain maupun tim sepak bola lainnya.  

Sebagai bagian dari kesepakatan, pelaku juga membuat video pernyataan permintaan maaf yang disaksikan oleh pihak-pihak yang hadir dalam mediasi. 

Sutomo berharap penyelesaian secara kekeluargaan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pihak, khususnya pemain dan suporter agar mampu menjaga sportivitas selama pertandingan berlangsung. 

"Kami berharap kejadian seperti ini menjadi yang terakhir. Pertandingan sepak bola harus menjadi ajang olahraga dan hiburan, bukan tempat untuk melakukan kekerasan," tegas Sutomo. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.