TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kebakaran melanda kawasan hutan Gunung Andong, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sejak Senin (11/8/2026) kemarin.
Sedikitnya delapan titik api ditemukan di kawasan Petak 27, tepatnya di atas Dusun Sejaran, Desa Pagergunung, Kecamatan Ngablak, hingga wilayah Dusun Tempel, Desa Tirto, Kecamatan Grabag.
Luas kawasan hutan yang terdampak diperkirakan mencapai dua hektare. Api membakar material kering berupa daun pinus, ranting, dan semak yang berada di bawah tegakan pohon pinus.
Kepulan asap terlihat membumbung dari sela-sela pepohonan. Kobaran api dengan cepat merambat melalui material yang mengering akibat musim kemarau.
Medan yang terjal dan sulit dijangkau membuat proses pemadaman tidak mudah. Petugas bersama warga harus berjalan menerobos semak belukar untuk mencapai titik-titik api.
Pemadaman dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana dengan cara menggebuk kobaran api dan menutup material yang terbakar menggunakan tanah.
Pengelola Basecamp Gunung Andong via Temu Kidul, Sururi, mengatakan kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 12.00 WIB.
"Sekitar jam 12.00 WIB itu warga melihat ada kepulan asap dari kawasan hutan," kata Sururi saat ditemui, Selasa (11/8/2026).
Setelah mengetahui adanya kebakaran, warga kemudian melaporkan kejadian tersebut dan bersama petugas langsung menuju lokasi.
"Setelah terlihat ada asap, kemudian petugas bersama warga langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman," ujarnya.
Menurut Sururi, material yang terbakar didominasi bahan-bahan kering yang mudah terbakar.
"Yang terbakar berupa daun-daun kering, daun pinus, sama ranting-ranting kering," jelasnya.
Sururi mengatakan petugas menemukan sekitar delapan titik api di kawasan tersebut.
"Tadi ada sekitar delapan titik api yang kami temukan," ungkapnya.
Kondisi medan menjadi salah satu kendala utama. Petugas tidak bisa langsung membawa kendaraan pemadam ke lokasi sehingga proses pemadaman harus dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan peralatan manual.
"Akses menuju titik api cukup sulit. Jadi kami harus masuk ke lokasi dan memadamkan secara manual," ujar Sururi.
Persoalan lain muncul akibat angin yang cukup kencang. Sejumlah titik yang sebelumnya terlihat padam kembali menyala setelah terkena hembusan angin.
"Yang tadi itu banyak yang sudah ditinggal tapi nyala lagi karena angin cukup kencang dan daun-daun dan ranting yang cukup kering," katanya.
Kondisi tersebut membuat petugas harus kembali menyisir kawasan untuk memastikan tidak ada bara yang masih tersisa.
Sururi memastikan lokasi kebakaran bukan berada di jalur pendakian Gunung Andong yang biasa digunakan wisatawan.
"Lokasinya bukan jalur pendakian," tegasnya.
Menurut dia, kawasan tersebut justru merupakan wilayah hutan yang relatif jarang dijamah masyarakat.
"Ini aksesnya jarang, bahkan hampir tidak pernah dijamah masyarakat," katanya.
Meski demikian, kondisi hutan yang kering selama musim kemarau membuat kawasan tersebut tetap memiliki risiko kebakaran cukup tinggi.
Material berupa daun pinus, ranting, dan semak kering menjadi bahan bakar alami yang membuat api mudah menjalar ketika terkena sumber api dan hembusan angin.
Proses pemadaman melibatkan berbagai unsur. Selain warga dan pengelola basecamp, sejumlah personel dari Polsek, Koramil, Perhutani, Palawi, Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD, serta pengelola basecamp lainnya turut membantu pemadaman.
Mereka bekerja bersama menyisir kawasan hutan dan memastikan seluruh titik api dapat dikendalikan.
Sururi mengatakan kondisi medan membuat koordinasi dan kerja sama antarunsur menjadi sangat penting.
"Semua bersama-sama membantu melakukan pemadaman, karena kalau dibiarkan api bisa merambat lebih luas," ujarnya.
Setelah api berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.00 WIB, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Penyisiran kembali dilakukan untuk memastikan tidak ada bara maupun titik api yang masih berpotensi menyala.
Hingga kini penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Tidak ditemukan indikasi yang dapat memastikan sumber api berasal dari aktivitas tertentu.
"Untuk saat ini belum tahu indikasi kebakarannya. Yang kami lihat karena ada kepulan asap, jadi kami tanggulangi," kata Sururi.
Ia menduga kondisi kemarau dan material hutan yang sangat kering dapat mempercepat penyebaran api.
"Sekarang kondisinya memang kering. Daun dan ranting juga banyak yang kering, sehingga kalau ada api mudah sekali membesar," jelasnya.
Petugas dan warga kini meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemantauan di sekitar lokasi kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, terutama karena kondisi angin masih cukup kencang dan material kering masih banyak ditemukan di kawasan hutan.