Rejo Farm Tularkan Semangat Pertanian Terintegrasi Melalui Eduwisata
Joko Widiyarso August 11, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menularkan ilmu pertanian ke seluruh kalangan menjadi salah satu semangat yang diusung oleh Rejo Farm.

Usaha agribisnis dan agrobisnis terintegrasi yang terletak Kapanewon Ngaglik, Sleman tersebut terbuka bagi semua pihak yang ingin belajar pertanian. Sebab Rejo Farm menghadirkan program wisata edukasi pertanian.

Edukator Rejo Farm, Edi Rahmat Hidayat mengatakan pertanian mestinya menjadi kemampuan dasar masyarakat. Dengan kemampuan bertani, masyarakat dapat mewujudkan ketahanan pangan di lingkungannya sendiri.

Di sisi lain, bisnis di dunia pertanian masih sangat menjanjikan. Namun, pertanian kadang diasosiasikan dengan pekerjaan yang kotor dan panas.

“Semangat kami memperluas edukasi pertanian. Kami ingin menanamkan sejak dini kepedulian terhadap pertanian, supaya ke depan lebih peduli terkait dunia pertanian. Bisnis pertanian itu masih menjanjikan sebenarnya, tapi karena dianggap kotor, panas, orang-orang jadi resisten duluan,” katanya, Selasa (11/8/2026).

Di lahan seluas 1,7 hektare tersebut, Rejo Farm mengintegrasikan greenhouse melon, anggur, pengembangbiakan lele, hingga ayam kampung. Pihaknya juga mengolah pupuk secara mandiri.

Konsep integrasi pertanian itu yang kemudian ditularkan ke berbagai kalangan melalui program eduwisata. Pasalnya, peminat eduwisata di Rejo Farm cukup beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, kelompok wanita tani, hingga instansi pemerintahan.

Bagi kalangan pelajar, pihaknya memfokuskan pada pengalaman menanam hingga memetik melon. Melon merupakan salah satu komoditas unggulan di Rejo Farm yang mengembangkan sekitar 25 greenhouse melon. 

Pelajar juga dapat memanen lele hingga telur ayam. Tarif yang dipatok beragam, mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 40.000 tergantung paket yang diminati.

“Kalau misal nanti petik melon ya nanti bisa mendapat melon yang sudah kami sediakan, atau bisa juga membawa pulang ikan, atau telur ayam atau anak ayam. Sehingga ada hasil juga dari yang dipelajari,” ujarnya.

Pihaknya juga mengembangkan sosiopreneur yang melibatkan masyarakat untuk belajar pertanian terintegrasi. Dengan begitu, pertanian terintegrasi dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

“Kami juga melibatkan masyarakat sekitar. Banyak juga pekerja dari wilayah Sleman, mungkin sekitar 60 persen yang bekerja di sini adalah warga Sleman. Dan beberapa yang bekerja di sini, kemudian mengembangkan sendiri di lingkungannya,” pungkasnya. (maw)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.