Resmi Dibuka Menbud Fadli Zon, Simposium Guru Besar Humaniora di UI Soroti Isu AI hingga STEM
Hironimus Rama August 11, 2026 09:35 PM

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) resmi menggelar Simposium Nasional Guru Besar Humaniora yang diikuti oleh perwakilan dari 33 perguruan tinggi se-Indonesia pada 11 hingga 13 Agustus 2026.

​Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi membuka forum ilmiah bergengsi tersebut bersama Dekan FIB UI, Untung Yuwono, serta jajaran panitia penyelenggara, Selasa (11/8/2026). 

​Acara nasional ini dirancang secara khusus untuk melahirkan gagasan, pemikiran kritis, serta merumuskan arah strategis ilmu humaniora di tengah derasnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca juga: Hadapi Era AI, Guru Besar Humaniora Se-Indonesia Berkumpul di UI Rumuskan Arah Baru Bangsa

​Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa pemerintah sangat siap untuk berkolaborasi dan memfasilitasi setiap gagasan besar serta praktik kemajuan kebudayaan yang dihasilkan oleh para pakar dan cendekiawan.

​“Saya mendapat kehormatan untuk membuka Simposium Guru Besar Humaniora di FIB UI yang diikuti oleh 33 perguruan tinggi se-Indonesia untuk menghasilkan gagasan serta arah humaniora agar semakin relevan dan adaptif,” tegas Fadli Zon.

​Menanggapi fenomena disrupsi digital, Fadli Zon menyoroti keberadaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau AI sebagai sebuah keniscayaan zaman yang tidak mungkin dihindari.

​Ia menekankan pentingnya menempatkan teknologi kecerdasan buatan semata-mata sebagai instrumen pendukung, bukan sebagai pemikir utama dalam peradaban manusia.

​“AI itu harus kita tempatkan sebagai alat atau instrumen untuk kepentingan kita, dan jangan justru mereka yang menjadi pemikir utama,” ujarnya. 

Fadli Zon menambahkan bahwa esensi nilai-nilai kemanusiaan dan kedalaman peradaban merupakan domain unik yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin maupun algoritma cerdas.

​Meskipun menyadari adanya tantangan berupa pergeseran sektor kerja kreatif akibat kecerdasan buatan, Fadli Zon justru mendorong para praktisi budaya untuk terus berinovasi memunculkan kebaruan.

​Selain isu teknologi, Menteri Kebudayaan secara terbuka menantang para guru besar humaniora untuk menuliskan kembali sejarah kebangsaan Indonesia secara utuh, komprehensif, dan mendalam.

​“Sejarah kita ini belum banyak yang ditulis secara utuh, misalnya sejarah Majapahit, Sriwijaya, hingga Pajajaran yang memerlukan satu kajian komprehensif mulai dari ekonomi, politik, hingga budaya,” tuturnya. 

​Mengenai dinamika alokasi anggaran riset, Fadli Zon menjelaskan bahwa pemerintah menerapkan pendekatan interdisipliner yang mengawinkan disiplin ilmu humaniora dengan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

​Sementara itu, Dekan FIB UI, Untung Yuwono, menyatakan bahwa simposium ini menjadi momentum strategis untuk menginventarisasi sekaligus merespons berbagai isu krusial yang berkembang di masyarakat.

​FIB UI mengambil inisiatif mempertemukan para pakar guna mendiskusikan posisi serta kontribusi nyata ilmu humaniora di tengah dominasi wacana penguatan bidang STEM.

​“Kami mengambil inisiatif untuk membicarakan hal-hal yang trending serta bagaimana posisi humaniora menghadapi wacana berkembang yang saat ini terkesan terbatas pada STEM saja,” ungkap Untung.

​Seluruh rangkaian diskusi intensif para akademisi lintas daerah ini ditargetkan untuk menghasilkan dokumen rekomendasi kebijakan (policy brief) yang konkret dan aplikatif.

​Dokumen rekomendasi tersebut dirancang sebagai pijakan strategis bagi Kementerian Kebudayaan dalam memperkokoh integrasi antara ilmu humaniora dan sektor keilmuan lainnya.

​“Hasil simposium berupa policy brief atau rekomendasi kebijakan akan kami serahkan secara langsung kepada Menteri Kebudayaan pada 13 Agustus 2026 mendatang,” pungkas Untung. 

​Melalui sinergi erat antara perguruan tinggi dan pemerintah ini, Indonesia optimistis mampu menempatkan ilmu humaniora sebagai panglima dalam menjaga martabat peradaban serta memajukan kebudayaan nasional di era modern. (m38)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.