TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Festival film pendek May Day Short Movie Festival (MADFEST) Merah Putih 2026 hadir sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia khususnya pekerja untuk menyampaikan aspirasi tanpa harus turun ke jalan.
Ketua Penyelenggara MADFEST, Sonny Pudjisasono, mengungkapkan alasan pihaknya menghadirkan festival film pendek yang secara khusus mengangkat kehidupan dan aspirasi kelas pekerja.
"Selain menyampaikan aspirasi di jalanan, demo-demo, yang itu juga dilindungi oleh undang-undang, saya membuat bagaimana untuk menyampaikan aspirasi demo ini tanpa kekerasan, yaitu melalui media digital," kata Sonny di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan film pendek dipilih karena memiliki kekuatan untuk merekam suara, kegelisahan, hingga harapan masyarakat secara lebih permanen.
Berbeda dengan aksi demonstrasi yang berlangsung di jalan dan dapat berakhir setelah kegiatan selesai, aspirasi yang dituangkan dalam film dapat terus disaksikan dan menjadi arsip.
"MADFEST Merah Putih ini adalah kamera mengganti megafon, layar menggantikan jalanan, dan visualisasi menggantikan slogan atau aspirasi para kelas pekerja itu," ujarnya.
Sonny menegaskan MADFEST Merah Putih bukan festival film dalam pengertian kompetisi pada umumnya. Ia menyebut tidak ada pembagian juara pertama, kedua, maupun ketiga.
Festival tersebut lebih diarahkan sebagai ruang untuk memberikan penghargaan terhadap karya yang mampu menyampaikan aspirasi masyarakat melalui medium film pendek.
"Tapi ini lebih kepada bagaimana untuk menyampaikan aspirasi di depan umum melalui media digital itu," tutur Sonny.
Pada penyelenggaraan 2026, panitia menetapkan lima kategori penghargaan dari 10 film yang masuk tahap nominasi akhir.
Beberapa isu yang diangkat dalam film peserta antara lain sengketa lahan pertanian, kehidupan pengemudi ojek online, serta kehidupan nelayan.
Baca juga: Dalami Karakter Sophia di Film Seni Merayu Tuhan, Lutesha Sampai Tanya Teman soal Cinta Beda Agama
Sonny mengatakan keberagaman persoalan kelas pekerja menjadi salah satu hal yang ingin direkam melalui festival tersebut.
Mulai dari persoalan upah, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga hak-hak pekerja yang dinilai belum terpenuhi dapat disampaikan melalui film pendek.
"Keberagaman kehidupan kelas pekerja itu kita ingin angkat masalah perjuangan upah, masalah mengenai PHK, masalah mengenai hak-hak perkara pekerja yang belum terpenuhi sampai hari ini," katanya.
Ia berharap karya-karya tersebut tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi dapat menjadi arsip yang merekam berbagai persoalan masyarakat dari waktu ke waktu.
Sonny juga memastikan penyampaian kritik melalui film tetap memiliki batasan dan mengikuti kaidah sinematografi.
Panitia turut berkolaborasi dengan Lembaga Sensor Film (LSF) agar karya yang ditampilkan tetap berada dalam koridor yang sesuai dan terhindar dari hoaks, ujaran kebencian maupun konten negatif.
"Film pendek ini masuk kepada rezim sinematografi, film, sehingga sudah wajar dan selayaknya kalau LSF ikut ada di dalamnya sejak awal," katanya.
MADFEST Merah Putih sendiri diluncurkan bertepatan dengan peringatan May Day pada 1 Mei 2026.
Sementara itu, malam puncak penganugerahan Aspirasi MADFEST Merah Putih dijadwalkan berlangsung pada 18 Agustus 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan kemerdekaan Indonesia yang akan dihadiri oleh Menteri Tenaga Kerja Yassierli, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Said Iqbal.