Korut Tembakkan Rudal Balistik ke Timur Laut Korsel, di Luar ZEE Jepang
Choirul Arifin August 12, 2026 09:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Militer Korea Utara menembakkan setidaknya satu rudal balistik ke arah Laut Timur Korea Selatan pada hari Rabu. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk protes Korea Utara terhadap latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat yang akan segera digelar.

Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan menyatakan pihaknya mendeteksi peluncuran rudal dari wilayah Wonsan di pantai timur sekitar pukul 06.00 Rabu pagi, 12 Agustus 2026. 

JCS menyatakan telah meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya peluncuran tambahan.

"Korea Selatan, AS, dan Jepang mempertahankan kesiapsiagaan penuh dengan saling berbagi informasi secara intensif terkait peluncuran rudal balistik Korea Utara tersebut," sebut pernyataan JCS.

Peluncuran terbaru ini terjadi enam hari setelah Korea Utara menembakkan apa yang diidentifikasi oleh militer Korea Selatan sebagai rudal jarak pendek ke arah Laut Timur pada hari Kamis pekan lalu.

Peluncuran rudal ini berlangsung menjelang dimulainya latihan gabungan tahunan utama antara Korea Selatan dan AS pada pekan depan.

Pyongyang telah mengecam keras latihan militer sekutu tersebut dan menyebutnya sebagai simulasi perang, serta kerap melakukan uji coba senjata sendiri selama periode latihan sebagai bentuk protes.

Baca juga: Korsel Perkuat Militer Berbasis AI, 500.000 Prajurit Drone Disiapkan Untuk Hadapi Korut

Pihak Jepang menyatakan rudal Korea Utara kemungkinan jatuh di luar perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang.

Kementerian Pertahanan Jepang di Tokyo menyatakan belum ada konfirmasi bahwa rudal tersebut jatuh di dalam ZEE Jepang yang membentang sejauh 200 mil laut (370 kilometer) dari garis pantainya.

Militer Korea Selatan juga mengonfirmasi peluncuran tersebut, seraya menyebutkan bahwa rudal itu ditembakkan ke arah timur.

Peluncuran ini menyusul uji coba rudal balistik oleh Pyongyang pekan lalu sebagai unjuk kekuatan, sehari setelah mereka menyatakan akan menempuh "opsi militer tambahan" yang tidak dirinci sebagai tanggapan atas peningkatan kemampuan pertahanan Jepang.

Baca juga: Pertemuan Cina-Korut: Sepakat Kerja Sama, Tak Bahas Nuklir

Peluncuran tersebut merupakan yang pertama bagi Korea Utara sejak pemimpin Kim Jong Un memantau uji coba rudal balistik taktis serta peluncur roket ganda baru dan senjata lainnya pada 25 Juni.

Saudara perempuan Kim yang merupakan tokoh berpengaruh Korut, Kim Yo Jong, pada 5 Agustus menyataan bahwa Pyongyang tidak akan tinggal diam sebagai "penonton pasif" terhadap apa yang ia gambarkan sebagai transformasi Jepang yang kian cepat menjadi kekuatan militer, demikian dilaporkan media pemerintah.

"Kepemilikan kemampuan serangan pendahuluan oleh Jepang—negara penjahat perang—merupakan ancaman serius yang merusak perdamaian dan keamanan global," ujarnya.

Pernyataannya ini merujuk pada upaya Tokyo untuk memperoleh kemampuan serangan jarak jauh, termasuk uji coba rudal jelajah jarak jauh Tomahawk baru-baru ini dari kapal perusak Pasukan Bela Diri Maritim.

Dalam buku putih pertahanan tahunan yang dirilis hari Selasa, Tokyo menyatakan bahwa aktivitas militer Korea Utara "menimbulkan ancaman yang jauh lebih serius dan mendesak terhadap keamanan nasional Jepang dibandingkan sebelumnya."

Sumber: Korea Times/The Japan Times

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.