TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Emil menilai penanganan karhutla harus dilakukan dengan cepat agar api tidak semakin meluas. Selain kesiapan alat, menurutnya ketersediaan personel menjadi faktor penting dalam proses pemadaman.
Salah satu metode yang dinilai efektif untuk menangani api di kawasan rawan karhutla adalah pemadaman manual menggunakan gepyok.
"Yang penting manual itu. Daerahnya itu bisa pakai gepyok, yang penting orangnya ada," ujar Emil Dardak saat giat di Trenggalek beberapa waktu lalu.
Menurut Emil, peralatan pemadam manual perlu tersedia di kawasan yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan.
Ia mengaku dalam penanganan kebakaran sebelumnya, pihaknya sempat mengalami kekurangan alat gepyok.
"Kemarin itu kita kehabisan gepyok. Gepyoknya habis itu untuk memadamkan karena sebenarnya kadang yang penting manual itu," ungkapnya.
Selain alat, Emil menekankan pentingnya kesiapan personel dalam menghadapi situasi darurat.
Personel TNI dan Polri, kata dia, dapat membantu proses pemadaman ketika terjadi kebakaran yang membutuhkan penanganan cepat.
Namun, Emil mengingatkan agar petugas tidak mengambil risiko ketika melakukan pemadaman. Keselamatan personel, terutama dari paparan asap, harus tetap menjadi perhatian.
Ia juga mendorong adanya perlengkapan tambahan untuk melindungi petugas saat berada di lokasi kebakaran.
"Melalui dukungan alat pelindung, kesiapan personel, serta bantuan TNI dan Polri, penanganan situasi darurat diharapkan dapat dilakukan lebih optimal," ulasnya.
Selain pemadaman, Emil Dardak mendorong pembuatan sekat bakar di kawasan yang rawan terjadi karhutla.
Sekat bakar dibuat dengan membersihkan jalur dari tanaman atau alang-alang yang mudah terbakar. Dengan demikian, api diharapkan tidak mudah menyebar dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
Emil berkaca dari pengalaman penanganan kebakaran di kawasan Gunung Bromo. Menurutnya, sekat bakar dengan lebar sekitar 18 meter masih kurang efektif apabila kondisi angin cukup kencang.
"18 meter kurang. Mungkin kalau bisa lebih lebar untuk melindungi dan jangan sampai dari satu titik tersebar," bebernya.
Suami Arumi Bachsin ini mengatakan pemetaan wilayah yang membutuhkan sekat bakar perlu dilakukan bersama Dinas Kehutanan, Perhutani, dan BPBD Provinsi Jawa Timur.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi penyebaran api di kawasan hutan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Emil juga menyinggung penanganan kebakaran hutan di kawasan wisata Gunung Bromo yang sebelumnya telah mencapai sekitar 520 hektare.
Ia berharap kebakaran tersebut tidak kembali meluas. Menurutnya, api sebelumnya berawal dari satu titik kemudian menyebar ke area yang cukup luas.
Saat ini, salah satu fokus penanganan berada di kawasan puncak B29 dan B30. Kawasan B30 yang berada semakin ke arah timur menuju Lumajang mendapat penanganan menggunakan water bombing.
Sementara itu, penanganan di kawasan Penanjakan telah dilakukan. Namun, muncul titik api terpisah di kawasan bukit lainnya.
Menurut Emil, titik api yang terpisah tersebut belum tentu merupakan hasil rambatan langsung. Ada kemungkinan percikan api terbawa angin dan mengenai daun-daun yang kondisinya sangat kering.
Karena itu, pria yang pernah menjabat Bupati Trenggalek ini kembali menekankan pentingnya pencegahan penyebaran api melalui pembuatan sekat bakar.
"Koridor tersebut sengaja dibuat tanpa tanaman yang mudah terbakar dan selanjutnya dipatroli secara rutin untuk memastikan api tidak meluas," jelasnya.
Emil mengatakan upaya serupa perlu diterapkan di sejumlah kawasan yang rawan terjadi kebakaran hutan, termasuk kawasan yang dikelola bersama Perhutani.
"Ini yang kemudian kita harapkan juga di daerah-daerah yang rawan terjadi kebakaran hutan bersama dengan Perhutani tentunya bisa coba melihat potensi sekat bakar," ujarnya.
Ijen, Arjuno hingga Lawu Masuk Kawasan Rawan
Emil menyebut sejumlah kawasan di Jawa Timur yang perlu mendapat perhatian karena rawan kebakaran, di antaranya Ijen, Arjuno, dan Lawu.
Menurutnya, penanganan karhutla harus mempertimbangkan karakteristik setiap wilayah serta potensi penyebaran api.
Jawa Timur, lanjut Emil, termasuk wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
"Ini menjadi penting mengingat kawasan yang terbakar tidak hanya memiliki nilai ekologis. Namun juga berada di sekitar kawasan strategis pariwisata dan permukiman penduduk," tandasnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)