Klaim IRGC: Rudal dan Drone Iran Berhasil Hadapi Teknologi AI Amerika Serikat
Laksmi Anindita August 12, 2026 12:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Perang Iran- Amerika Serikat (AS) tidak hanya menjadi pertarungan rudal, drone, dan sistem pertahanan udara, tetapi juga menjadi ujian bagi penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam peperangan modern.

Pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebi, mengklaim teknologi militer Amerika Serikat, termasuk sistem berbasis AI, gagal memberikan keunggulan menentukan dalam menghadapi Iran.

Sebaliknya, ia menyebut kemampuan rudal dan drone Iran mampu menekan jaringan pertahanan lawan.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika kedua negara terlibat dalam konflik yang semakin mengandalkan integrasi antara data intelijen, satelit, pesawat nirawak (UAV), radar, sensor, sistem penargetan, dan persenjataan presisi.

Menurut Mohebi, militer AS mengerahkan sistem yang mampu menggabungkan informasi dari berbagai sumber untuk membantu pengambilan keputusan secara real-time.

“Amerika Serikat telah mengerahkan teknologi militer tercanggihnya, termasuk AI, dalam aksi militer baru-baru ini terhadap Iran. Namun, pada akhirnya mereka gagal mengatasi perlawanan dan tekad Iran,” kata Mohebi.

Ia menyebut AI digunakan untuk membantu mengidentifikasi target, menilai kerusakan akibat serangan, melacak personel, sekaligus mengolah informasi dari satelit, UAV, radar, sensor, dan laporan lapangan.

Namun, menurut dia, kemampuan tersebut memiliki keterbatasan karena sistem AI hanya dapat bekerja berdasarkan data yang tersedia.

“AI menganalisis target berdasarkan data yang diterima dari berbagai sumber, tetapi tidak dapat memantau kekuatan institusional dan ideologis Republik Islam Iran,” ujarnya.

Baca juga: Suami Dituding Numpang Hidup, Nathalie Holscher Ungkap Alasan Tinggal di Rumahnya

AI dan Perubahan Cara Perang

Penggunaan AI dalam konflik bersenjata menjadi salah satu perkembangan penting dalam peperangan modern.

Sistem berbasis AI dapat membantu militer memproses data dalam jumlah besar, menemukan pola, mengidentifikasi objek, serta mempercepat proses dari pengumpulan informasi hingga penentuan target.

Salah satu sistem yang disebut dalam laporan mengenai operasi AS adalah Maven Smart System, platform yang dikembangkan Palantir Technologies untuk membantu analisis intelijen dan pemrosesan data medan perang.

Kemampuan semacam itu pada dasarnya ditujukan untuk memperpendek kill chain—rantai proses mulai dari menemukan target, mengidentifikasi, memutuskan tindakan, hingga melakukan serangan.

Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak berarti keputusan militer sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

Akurasi data, kualitas intelijen, aturan keterlibatan, verifikasi target, serta keputusan manusia tetap menjadi faktor penting.

Karena itu, klaim bahwa AI “gagal” dalam perang perlu ditempatkan secara hati-hati. Pernyataan Mohebi merupakan penilaian dari pihak Iran dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sistem AI Amerika secara keseluruhan tidak efektif.

Baca juga: Korban Tewas Gempa Kolombia Tembus 250 Orang, Tim Penyelamat Berpacu Cari Korban Selamat

Iran Andalkan Rudal dan Drone

Di sisi lain, Mohebi mengeklaim Iran berhasil mengembangkan kemampuan rudal yang lebih fleksibel dibandingkan generasi sebelumnya.

Menurut dia, rudal Iran tidak lagi sekadar mengikuti lintasan sederhana dari titik peluncuran menuju sasaran. Sejumlah sistem disebut mampu melakukan manuver dan mengubah lintasan untuk menyulitkan sistem pertahanan udara.

Iran juga mengombinasikan rudal balistik bergerak dengan sejumlah besar UAV.

Konsep tersebut sejalan dengan pola peperangan modern yang menggabungkan berbagai jenis ancaman secara bersamaan.

Rudal balistik dapat digunakan untuk menghadirkan ancaman berkecepatan tinggi, sementara drone dapat digunakan untuk pengintaian, serangan, maupun menciptakan tekanan terhadap sistem pertahanan.

Tujuannya bukan semata-mata menghancurkan satu fasilitas, tetapi membebani jaringan pertahanan udara dengan banyak sasaran dan memaksa operator mempertahankan kemampuan deteksi serta intersepsi dalam waktu panjang.

Mohebi mengatakan strategi Iran diarahkan untuk menekan komponen-komponen penting dalam jaringan operasional lawan, bukan hanya menghancurkan infrastruktur secara fisik.

Baca juga: Robert Alberts Geram Dapat Komentar Buruk setelah Ajukan Masalah dengan Persib Bandung ke FIFA

Perdebatan Soal Korban Sipil
Penggunaan sistem otomatis dan AI dalam penargetan juga memunculkan persoalan serius mengenai akurasi serta pertanggungjawaban.

Laporan yang dikutip dalam naskah sumber mengaitkan penggunaan teknologi tersebut dengan sejumlah kesalahan penargetan, termasuk serangan terhadap sebuah sekolah di Minab yang dilaporkan menewaskan lebih dari 160 orang, mayoritas anak-anak.

Namun, tuduhan mengenai penyebab dan mekanisme kesalahan penargetan tersebut perlu dibedakan dari klaim politik masing-masing pihak dan diverifikasi melalui penyelidikan independen.

Kasus-kasus semacam itu memperlihatkan persoalan mendasar dalam peperangan berbasis data: AI dapat mempercepat pengambilan keputusan, tetapi tidak otomatis membuat informasi yang menjadi dasar keputusan tersebut benar.

Data yang keliru, identifikasi target yang salah atau konteks lapangan yang tidak lengkap tetap dapat menghasilkan keputusan yang fatal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.