Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama (NU), persoalan karakter dan pemahaman sejarah generasi muda menjadi salah satu perhatian Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung.
Baca Juga: Sebelum Pemilihan Ketum PBNU, NU Bakal Tentukan Rais Aam di Muktamar ke-35
Ketua PWNU Lampung Puji Rahardjo mengatakan, perubahan dunia yang berlangsung cepat membuat NU harus menyiapkan generasi muda agar tidak kehilangan identitas dan akar budayanya.
Menurutnya, tantangan NU ke depan bukan hanya berkaitan dengan perubahan teknologi dan globalisasi, tetapi juga bagaimana mempertahankan karakter generasi muda.
"Abad kedua ini adalah era di mana dunia mengalami perubahan yang sangat cepat. Dan yang paling penting sekarang dalam perubahan ini adalah bagaimana mempersiapkan generasi NU menghadapi perubahan tersebut," kata Puji Rahardjo dalam podcast Tribun Lampung, Senin (10/8/2026).
Ia mengingatkan jangan sampai generasi muda NU tercabut dari akar peradaban dan budaya.
Salah satu yang harus diperkuat, kata dia, adalah pembinaan karakter dan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.
"Jangan sampai generasi muda NU ini tercabut dari akar peradabannya, akar budayanya. Oleh karena itu, terkait dengan pembinaan karakter dan penguatan Aswaja kepada generasi muda ini sangat kuat," ujarnya.
Puji menyoroti pemahaman generasi muda terhadap sejarah bangsa dan sejarah NU yang dinilainya semakin jauh.
Hal tersebut, menurutnya, terlihat mulai dari lingkungan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar hingga madrasah.
"Kita melihat misalnya di TK, di sekolah dasar, di madrasah-madrasah, pemahaman mereka tentang sejarah bangsa, apalagi sejarah Nahdlatul Ulama itu seperti apa, mereka sekarang sangat jauh," kata Puji.
Karena itu, ia menilai penguatan kembali karakter menjadi salah satu agenda penting NU memasuki abad kedua.
Menurut Puji, identitas dan budaya justru menjadi modal penting masyarakat Indonesia untuk bertahan menghadapi era globalisasi dan disrupsi.
"Keunggulan kita dibanding bangsa-bangsa lain, cara kita bertahan di era global ini, disrupsi ini, ya kita kembali ke jati diri bangsa kita," ujarnya.
Puji berharap persoalan tersebut menjadi bagian dari arah perjuangan NU setelah Muktamar ke-35.
Menurutnya, NU tidak cukup hanya memikirkan persoalan organisasi dan kepemimpinan, tetapi harus mampu menjawab tantangan generasi masa depan.
Muktamar ke-35 sendiri diposisikan sebagai forum untuk merumuskan arah perjuangan NU dalam lima tahun mendatang sekaligus menyiapkan organisasi memasuki abad kedua.
"Ini yang harus menjadi perjuangan NU ke depan, bagaimana kita mengembalikan karakter," tegasnya.
Ia berharap generasi muda NU nantinya tidak hanya memiliki kemampuan menghadapi perubahan zaman, tetapi tetap memiliki pijakan kuat terhadap sejarah, budaya, dan nilai-nilai ke-NU-an.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)