BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Jodoh tak mengenal batas negara. Di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, pernikahan berbeda kewarganegaraan juga terjadi sebagaimana di sejumlah daerah lainnya di negeri ini.
Data dihimpun pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pelaihari, Rabu (12/8/2026), sejak awal 2026 lalu hingga saat ini setidaknya telah tercatat dua kali pernikahan berbeda kewarganegaraan.
Pernikahannya berlangsung di Kota Pelaihari pada Juli dan satu lagi pada bulan ini (Agustus).
"Yang Juli lalu pernikahan yang mempelai laki-lakinya dari Maroko. Sedangkan yang bulan ini tadi mempelai laki-lakinya dari Turki," sebut Kepala KUA Pelaihari H Muhyiddin.
Mempelai lakilaki dari Maroko tersebut bernama Amine Chaneker, sedangkan dari Turki bernama Mehmet Kabaktepe.
Baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut di Tambangulang Tanahlaut Terungkap, Sopir Pikap Tahu Senggol Motor Korban
Baca juga: Kebakaran Kafe Soari di Banjarbaru Kalsel, Diduga Berawal Dari Kebocoran Gas di Dapur
Prosesi pernikahan pengantin dari Turki berlangsung di Masjid Agung Asy Syuhada Pelaihari. Sedangkan mempelai dari Maroko pernikahannya di Balai Nikah KUA Pelaihari.
Menurut Muhyiddin, kisah perkenalan keduanya berbeda. Amine Chenekar berjodoh dengan perempuan Pelaihari yang memiliki usahajasa travel.
"Kalau tak keliru perkenalannya saat si mempelai perempuan sedang menjalankan tugasnya sebagai penyedia jasa travel di luar negeri," papar Muhyiddin.
Kini, sang suami ikut membantu istri dalam mengelola administrasi usaha travel tersebut di Pelaihari.
Sedangkan kisah Mehmet bermula dari perkenalan yang difasilitasi keluarga. Bibi calon istrinya kebetulan memiliki suami berkewarganegaraan Turki dan tinggal di Turki.
Dari situlah perkenalan berlangsung hingga keduanya merasa cocok dan memutuskan menikah.
Setelah menikah, sang istri kemudian dibawa ke Turki mengikuti suaminya yang bekerja sebagai salah satu pemasok katering untuk sebuah perusahaan di Pakistan.
Lebih lanjut Muhyiddin mengatakan pada 2025 lalu juga ada pernikahan serupa yakni laki-laki dari Korea.
"Perkenalannya melalui sosial media. Si perempuan warga Tala bisa berbahasa Korea, merasa cocok lalu menikah di Pelaihari," paparnya.
Dirinya tak sekadar menikahkan pasangan beda asal negara tersebut. Lebih dari itu juga terus menjalin komunikasi dengan mempelai yang berasal dari luar negeri.
Tujuannya untuk memantau perkembangan pernikahan dan memastikan hubungan rumah tangga yang dibangun, langgeng.
"Kebetulan saya bisa berbahasa Inggris sehingga mudah untuk menjalin komunikasi," tandas Muhyiddin.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)