Warga Surabaya Antre MinyaKita di Gerakan Pangan Murah 31 Kecamatan
Titis Jati Permata August 12, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Puluhan warga rela mengantre untuk mendapatkan 2 liter MinyaKita di Gerakan Pangan Murah (GPM) dan pasar murah di Rusunawa Penjaringan Sari, Surabaya, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar serentak di 31 kecamatan di Surabaya. Dalam kegiatan ini, MinyaKita dijual dengan harga Rp 15.500 per liter.

Minyakita Jadi Komoditas yang Paling Cepat Habis

Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga minyak goreng di pasaran yang biasanya mencapai Rp 20.000-Rp 21.000 per liter.

Tak heran, MinyaKita menjadi komoditas yang paling cepat habis dan menarik antrean pembeli.

Berada di kawasan padat penduduk, pasar murah ini menyasar konsumen rumah tangga hingga sejumlah pelaku UMKM kuliner.

Baca juga: Daftar Harga Sembako di Surabaya Per 27 Juli 2026: Cabai Stabil Murah, Minyak Goreng Merangkak Naik

Mereka memanfaatkan harga bahan pangan yang lebih terjangkau.

Salah satunya Retno, pelaku UMKM kuliner yang membeli bahan untuk mendukung usahanya.

Retno mengatakan, dirinya menjual berbagai makanan, seperti nasi uduk, soto Betawi, dan soto Banjar.

Usahanya menerapkan sistem open pre-order untuk mengurangi risiko makanan tidak terjual.

"Sebetulnya sih membantu ya. Kalau perlu, ya diadakan tiap bulan atau dua bulan sekali. Sasarannya ya ke warga sekitar. Hari ini kan agak susah cari dana untuk penjualan untuk UMKM, terutama. Kalau diadakan seperti ini kan membantu sekali," kata Retno.

Warga Berharap Pasar Murah Lebih Sering Digelar

Sementara itu, Rere Sinaga, penghuni Rusunawa Penjaringan Sari, mengaku terbantu dengan adanya pasar murah. Ia membeli dua liter minyak dan satu sak beras kemasan 5 kilogram.

"Kalau beras Rp 74.000, kalau yang halusan yang biasa yang enak itu kan Rp 83.000, Rp 88.000. Jadi ini lumayan dapat Rp 74.000," ujar Rere.

Rere berharap kegiatan serupa lebih sering digelar dan cakupannya diperluas sehingga lebih banyak masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga murah.

"Kalau bisa sering-sering, benar-benar dikondisikan sama pasar umum, biar semua dapat barang murah, harga murah. Jadi enggak cuma sini, enggak cuma satu-satu tempat. Kalau bisa semua rakyat bisa beli murah," katanya.

Harga Beras hingga Lele Lebih Murah

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, GPM digelar serentak bersama pasar murah di 31 kecamatan.

"Produk paling dicari atau yang paling habis duluan adalah minyak. Selisih harga yang kita jual di sini dengan yang di pasaran jauh masih yang, masih tinggi," kata Nanik.

Selain Minyakita, sejumlah bahan kebutuhan pokok juga dijual dengan harga terjangkau. Di antaranya beras SPHP Rp 58.000 per kemasan 5 kilogram, gula Rp 17.000 per kilogram, telur Rp 22.000 per kilogram, dan beras premium Rp 14.500 per kilogram.

Ada pula telur ayam kampung yang dijual Rp30.000 per 10 butir, lele Rp22.000 per kilogram, serta minyak goreng Rose Brand Rp22.000.

Nanik mengatakan, penyediaan bahan pangan murah tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Bulog dan distributor pangan.

"Jadi, hari ini kita ada GPM, Gerakan Pangan Murah, yang kebetulan serentak berbarengan dengan pasar murah dengan Dinkop dan kolaborasi. Jadi, di 31 kecamatan hari ini serentak bareng-bareng di waktu yang sama," ujarnya.

Pasar Murah Digelar Setiap Bulan hingga Desember

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopdag) Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan, pasar murah merupakan salah satu upaya pemerintah memastikan masyarakat mendapatkan komoditas pangan dengan harga terjangkau sekaligus menekan inflasi.

"Jadi sebenarnya pasar murah ini diadakan selain dalam rangka untuk mendekatkan atau memastikan masyarakat mendapatkan komoditas, terutama beras dan minyak. Sebenarnya juga ini salah satu upaya kita untuk menekan inflasi kota," kata Mia.

Mia memastikan kegiatan pasar murah akan digelar setiap bulan hingga Desember 2026.

Pasar murah akan digelar di 30 kecamatan, sedangkan GPM menjadi kegiatan yang dikolaborasikan dalam pelaksanaannya.

Komoditas utama yang disediakan secara rutin yakni beras SPHP, Minyakita, dan gula.

Mia mengatakan, Pemkot Surabaya memastikan beras SPHP dan Minyakita dijual maksimal sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), bahkan diupayakan lebih murah apabila memungkinkan.

"Kalau beras murah sih dimungkinkan, tapi kalau minyak sepertinya karena stok dari Bulog sendiri juga terbatas, maka tetap harus dijual sesuai HET," ujarnya.

UMKM dan Kelompok Tani Ikut Terlibat

Selain bahan pokok, kegiatan tersebut juga melibatkan UMKM dan kelompok tani (Poktan).

Produk hasil Poktan seperti lele dan sayuran turut dijual dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan, antusiasme warga menunjukkan bahwa pasar murah memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat.

"Kalau terkait daya beli, pastinya daya beli masyarakat kalau kita lihat antusiasme ya, itu antusias banget karena memang apa yang dijual di sini itu harganya memang harga di bawah harga pasar," kata Vykka.

Dia mencontohkan harga lele yang dijual Rp 22.000 per kilogram. Sementara harga lele di pasar bisa mencapai Rp 26.000 hingga Rp 27.000 per kilogram.

"Jadi kalau di pasar harganya Rp 26.000, Rp 27.000, di sini Poktan bisa menjual lele per kilogramnya hanya Rp 22.000. Jadi itu kan cukup jauh," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.