BANGKAPOS.COM -- Peristiwa menegangkan terjadi saat turnamen sepak bola antarkampung (Tarkam) di wilayah Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Wasit yang memimpin jalannya laga tersebut dikeroyok massa karena membuat keputusan yang dinilai tidak tepat dan merugikan salah satu tim.
Dalam video yang beredar, sang wasit pun terlihat dalam kondisi terpojok dan mendapat kekerasan dari sejumlah orang.
Suasana di lapangan pun seketika berubah mencekam karena penonton yang berada di lapangan turut memasuki lapangan.
Sang wasit pun kemudian dikabarkan tewas imbas insiden tersebut.
Kendati demikian, Kapolsek Cigudeg AKP Budi Sehabuddin mengatakan bahwa wasit tersebut berhasil diselamatkan dari amukan massa.
Baca juga: Kronologi Aiptu Asep Suhara Tewas Ditabrak Mahasiswa Mabuk, Baru Pulang Patroli Kamtibmas
Ia menyebut bahwa sang wasit tidak mengalami luka serius akibat insiden di wilayah Desa Urug tersebut.
"Aman, engga apa-apa, sehat," ujarnya saat dikonfirmasi TribunnewsBogor.com, Rabu (12/8/2026).
AKP Budi Sehabuddin juga membantah bahwa adanya informasi yang menyebut bahwa sang wasit meninggal dunia.
Ia menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar adanya.
Peristiwa ini mendapat perhatian serius dari PSSI. Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengaku prihatin atas kembali terjadinya kekerasan dalam pertandingan tarkam.
Menurut Yunus, PSSI menemukan persoalan lain dalam penyelenggaraan pertandingan antarkampung, yakni penggunaan wasit yang tidak memiliki lisensi serta pertandingan yang digelar tanpa rekomendasi dari PSSI.
"Kami sangat prihatin dengan kejadian-kejadian tarkam seperti ini. Terinfo hari ini, ternyata wasit yang memimpin tidak memiliki lisensi."
"Kami juga mendapatkan informasi bahwa setiap tarkam tidak melaporkan dan tidak meminta rekomendasi dari PSSI, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota," ujar Yunus di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Ia menilai rekomendasi PSSI penting untuk memastikan pertandingan berjalan sesuai regulasi, termasuk memastikan perangkat pertandingan memiliki lisensi dan memahami aturan permainan.
"Kami berharap, apabila tidak ada rekomendasi dari PSSI, tarkam tersebut tidak diizinkan. Saya yakin wasit yang memimpin tidak berlisensi dan memenuhi standar sebuah pertandingan. Kalau wasit yang memimpin tidak mengetahui aturan dan regulasi, tentu akan berakibat kepada pertandingan yang dijalankan," terangnya.
Yunus juga meminta pemerintah daerah hingga tingkat desa dan kelurahan berkoordinasi dengan PSSI sebelum menggelar kegiatan sepak bola.
"Siapa pun, baik masyarakat, gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala desa, maupun lurah, apabila melaksanakan event sepak bola, berkoordinasi dengan PSSI di tingkatannya. Ini menyangkut regulasi dan aturan yang harus diterapkan, termasuk terkait wasit yang akan memimpin pertandingan," ujar Yunus.
Lebih lanjut, Yunus mengungkapkan bahwa pihaknya telah meminta kepolisian untuk tidak mengeluarkan izin keramaian bagi turnamen tarkam yang tidak memiliki rekomendasi dari PSSI setempat.
"Saya tadi meminta kepada pihak kepolisian agar apabila tidak ada rekomendasi dari PSSI setempat, izin keramaian tidak dikeluarkan. Jadi, harus ada rekomendasi atau wasit yang dikirim berdasarkan rekomendasi dari PSSI dan memiliki lisensi," pungkasnya.
Hingga kini, identitas korban dan kronologi lengkap kejadian masih belum diketahui secara pasti. Pihak kepolisian disebut masih melakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Dalam video yang beredar, tampak seorang wasit berbaju kuning terlibat adu argumen dengan pemain berbaju biru. Ketegangan meningkat ketika pemain tersebut mendesak maju dan sang wasit berusaha mundur.
Baca juga: Insanul Fahmi Diisukan Jualan Sayur usai Cerai dari Mawa, Nafkah Anak Macet 3 Bulan
Tak lama kemudian, seorang pemain berbaju biru datang dari sisi kiri korban dan berlari sambil melemparkan pukulan ke arah wajah korban.
Wasit itu langsung terjatuh dan diduga dikeroyok oleh sejumlah pemain lain serta beberapa orang yang berada di lokasi.
Peristiwa ini menambah panjang daftar kekerasan dalam sepak bola tarkam yang kerap minim pengamanan dan pengawasan.
PSSI berharap penyelenggara pertandingan antarkampung ke depan lebih memperhatikan aspek keamanan, regulasi, serta kualitas perangkat pertandingan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
(Bangkapos.com/TribunnewsBogor.com/Tribunnews.com)