TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN-Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Tarakan akhirnya buka suara terkait keluhan para pedagang terjadnya penumpukan sampah di Pasar Tenguyun, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Kabid Pengembangan Ekspor DKUKMP Tarakan, Yudhi, mengungkapkan, terjadinya penumpukan sampah tersebut, karena adanya sistem pengelolaan sampah. Sebelumnya terdapat dua fasilitas pembuangan sampah di Pasar Tenguyun. Yakni kontainer dan depo sampah di bagian belakang Pasar Tenguyun.
"Akses menuju depo sampah sebelumnya diatur melalui portal di depan. Tiap setengah lima portal ditutup karena takut orang di luar buang sampah ke depo sampah. Namun kini portal sudah cepat ditutup, sampai jam satu siang. Sehingga sampah yang dari masyarakat harusnya biasa dibuang ke depo sampah, maka dibuang ke dua kontainer yang disiapkan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, karena portal sudah tutup jam satu siang," ujarnya.
Yudhi mengatakan, dua kontainer yang ada di transfer depo peruntukannya untuk sampah penjual di Pasar Tenguyun. Akibatnya karena kontainer cepat penuh, sampah di depan Pasar Tenguyun yang berdekatan dengan lapak penjual makanan alias persisnya berada di tengah jalan area pasar tak bisa diangkut.
Baca juga: Hampir Tiga Pekan Sampah di Pasar Tenguyn Tidak Diangkut, Pedagang Keluhkan Bau dan Omzet Turun
Hal ini dikarenakan sampah berasal dari Pasar Tenguyun tidak boleh dibuang di sekitar kontainer dan wajib masuk kontainer. Jadi kontainer tidak setiap hari diambil. Baru dua atau tiga hari diambil petugas DLH Tarakan ke lokasi TPA. Jika sudah penuh, maka jadilah sampah dari Pasar Tenguyun menumpuk.
“Itu dia permasalahan dari situ sih. Makanya kita minta kalau bisa sehari sekalilah kontainer itu kosong. Jadi mereka juga bisa langsung buang ambil. Kami sudah surati DLH Tarakan hari ini kalau bisa ambil setiap hari," ujarnya.
Respons pihak DLH Tarakan, petugas sudah dikerahkan ke lokasi melakukan pengangkutan. Dan ketika pengambilan, satu kontainer diambil dan tidak sekaligus dua kontainer. "Sebenarnya kalau sampah pasar saja bisa muat tanpa dicampur sampah semesta atau sampah transfer depo," ungkapnya.
Ia mengatakan biasanya sore atau malam, sampah dari pasar diangkut petugas yang sudah ditunjuk per blok jualan untuk dibuang ke kontainer. Namun jika kontainer penuh, gerobak juga penuh maka gerobak penuh sampah tidak bisa dikosongkan untuk mengambil sampah di tengah pasar.
Mengenai adanya penumpukan sampah,di tengah Pasar Tenguyun, kata Yudhi sebelumnya sudah ada titik diletakkan tong sampah. Namun volume sampah dibuang lebih besar. Selain itu juga tong sampah kadang dicuri.
Karena setiap hari volume sampah dibuang cukup banyak maka petugas mengangkut dari lokasi tong samph disiapkan. Selain itu juga sampah diangkut menggunakan gerobak.
Yudhi menegaskan pengelola pasar tetap mengambil tanggung jawab dalam pengangkutan sampah pedagang.
Untuk penanganan tumpukan sampah yang terjadi saat ini, Yudhi menargetkan persoalan tersebut dapat diselesaikan pada hari ini. Ia kembali menegaskan bahwa koordinasi dengan DLH telah dilakukan.
Baca juga: Ini Penyebab Terjadinya Penumpukan Sampah, DLH Tarakan Imbau Penjual Buah Musiman Buang ke TPA
Penumpukan sampah ini diakuinya kedua kalinya terjadi. Pihaknya juga telah memanggil petugas kebersihan untuk mencari solusi. Namun, setelah dilakukan penanganan, persoalan kembali muncul karena masih bergantung pada kontainer.
“Nah ini jadilah tumpukan lagi. Masalahnya sama," katanya.
Sementara itu, mengenai dua petugas pengangkut sampah di Pasar Tenguyun yang berhenti bekerja, karena masa pekerjaannya sudah berakhir sesuai PKWT. Dimana satu petugas, sudah berusia melebihi dari masa kontrak maka di resignkan oleh DKUKMP sesuai PKWT.
Ia menambahkan, saat ini khusus petugas pengambil sampah di Pasar Tenguyun di bawah DKUKMP Tarakan ada tujuh orang petugas. Tugasnya mengambil sampah yang menumpuk di depan blok kemudian dibuang ke kontainer.
"Petugas sampah sudah buang, dikerjakan malam. Tapi kontainer sudah full. Bingung mau buang di mana," lanjutnya.
Dari tujuh orang, dengan mundurnya dua petugas maka tersisa lima orang. Ditanya apakah efektif bekerja dimaksimalkan ia menilai sudah efektif masing-masing punya tugas.
Bahkan upaya lain disiapkan DKUKMP Tarakan disiapkan peti kayu disulap jadi tempat sampah. Ternyata tidak diizinkan juga. Sebelumnya pihak penjual di pasar keluhkan sampah karena memang merasa sudah ada membayar kewajiban iuran meja. Sehingga berharap pemerintah membantu dari sisi kebersihan sampah.
Hal ini juga dikonfirmasi ke pihak DKUKMP Tarakan. Kata Yudhi, untuk iuran sampah tak ada. Mereka penjual hanya membayar lapak sesuai perda yang ditentukan. Besarannya sekitar Rp81 ribu per bulan untuk meja dan kios Rp125 ribu per bulan.
"Lapak sekitar 400-an sebenanrnya cuma banyak semi permanen dan kosong. Kios 200-an. Yang beroperasi datanya ada," ujarnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah