BANGKAPOS.COM, BANGKA – Rajungan menjadi komoditas utama untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.
Hasil tangkapan nelayan setempat tidak hanya dipasarkan di tingkat lokal, tetapi dibawa ke Kota Pangkalpinang untuk kemudian masuk ke pasar ekspor.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi nelayan untuk mendapatkan nilai ekonomi lebih besar dari komoditas laut yang menjadi unggulan desa.
Di bawah gubuk sederhana di Desa Kumbung, sejumlah ibu-ibu tampak sibuk mengolah rajungan yang telah direbus.
Sebelum dagingnya diambil, mereka terlebih dahulu memisahkan bagian-bagian rajungan dengan tangan terampil dan pisau kecil yang digunakan secara hati-hati.
Setiap bagian dipilah satu per satu untuk memudahkan proses pengambilan daging. Setelah bagian-bagian rajungan terpisah, mereka mulai mengeluarkan daging dari balik cangkang.
Daging dari badan, capit, dan kaki kemudian dipisahkan berdasarkan jenisnya sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah disiapkan.
Sesekali, di tengah kesibukan mengolah rajungan, ibu-ibu tersebut menyempatkan diri mengusir penat dengan mengabadikan aktivitas mereka melalui siaran langsung di media sosial.
Kamera ponsel diarahkan ke suasana pengolahan rajungan, sementara tangan mereka tetap sibuk memisahkan daging dari cangkang.
Kepala Desa Kumbung, Sutarpan, bilang sebagian besar masyarakat desanya menggantungkan penghasilan dari aktivitas melaut.
Jenis tangkapan nelayan mengikuti musim, mulai dari ikan, cumi-cumi hingga rajungan yang saat ini sedang menjadi komoditas utama.
Dalam kondisi musim rajungan, hasil tangkapan nelayan rata-rata berada di kisaran satu hingga dua kilogram per orang setiap hari.
“Kalau sektor unggulan di Desa Kumbung saat ini nelayan,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya harga rajungan saat ini bervariasi berada di kisaran Rp300 ribu per kilogram untuk rajungan yang dijual dalam kondisi biasa.
Sementara daging rajungan yang sudah dibersihkan memiliki nilai jual lebih tinggi, yakni sekitar Rp420 ribu per kilogram.
Proses pengolahan tersebut dilakukan setelah nelayan pulang melaut sebelum hasilnya diserahkan kepada tengkulak yang berada di desa.
Keberadaan tengkulak di Desa Kumbung membuat hasil tangkapan nelayan dapat langsung terserap setelah melalui proses pengolahan.
Rajungan yang telah direbus dan diambil dagingnya kemudian dijual kepada tengkulak untuk dipasarkan lebih lanjut. Dari Kumbung, sebagian rajungan tersebut dibawa menuju Kota Pangkalpinang sebagai bagian dari rantai distribusi komoditas rajungan.
“Kebetulan di sini ada tengkulaknya. Jadi, nelayan pulang, direbus, diproses, baru hasil dagingnya dijual ke tengkulak,” beber Sutarpan.
Rajungan dari Desa Kumbung selanjutnya berpotensi masuk ke pasar yang lebih luas melalui jalur perdagangan di Kota Pangkalpinang.
Komoditas rajungan asal Kepulauan Bangka Belitung menjadi bagian dari produk perikanan yang dipasarkan ke berbagai negara. Pasar ekspor rajungan Indonesia antara lain mencakup Amerika Serikat serta sejumlah negara Asia dan kawasan lainnya.
Tingginya aktivitas nelayan membuat pemerintah desa menempatkan sektor perikanan sebagai prioritas dalam mendukung perekonomian masyarakat.
Pemdes juga mengingatkan nelayan agar meningkatkan kewaspadaan karena kondisi angin saat ini cukup kuat.
Keselamatan menjadi perhatian karena sebagian besar masyarakat Desa Kumbung bekerja sebagai nelayan dan tetap bergantung pada kondisi cuaca di laut.
“Saat ini kita mencoba mendukung nelayan. Dengan memberi arahan kepada masyarakat, apalagi sekarang karena anginnya kuat.”
Meski menjadi sektor unggulan, pada tahun ini nelayan Desa Kumbung belum mendapatkan bantuan alat tangkap dari pemerintah.
Sebelumnya, Pemdes Kumbung pernah bekerja sama dengan Pemkab Bangka Selatan untuk mendapatkan bantuan bubu rajungan bagi nelayan. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu karena harga bubu saat ini cukup mahal dan menjadi salah satu kebutuhan utama nelayan rajungan.
Pemdes Kumbung juga menyambut baik apabila ada wacana agar komoditas rajungan dapat diekspor secara langsung dari daerah.
Rencana tersebut masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah kabupaten dan perlu dipastikan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jika terealisasi dengan baik, jalur ekspor langsung dinilai dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi rajungan sekaligus memperkuat posisi nelayan.
“Andai kata itu memang khususnya baik untuk masyarakat kami, khususnya untuk nelayan kami, kenapa tidak kalau yang sifatnya untuk memajukan masyarakat,” pungkas Sutarpan. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)