Pameran IFMAC dan WOODMAC 2026 Hadir Libatkan 350 Industri dari 20 Negara Tahun Ini
raka f pujangga August 12, 2026 08:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di bidang industri mebel atau furnitur dampak regenerasi perajin yang tidak berjalan optimal, menjadi sebuah tantangan.

Sementara konsistensi produksi mebel harus tetap berjalan dengan segala keterbatasan yang ada.

Para industri mebel, baik skala UMKM maupun industri besar tertantang untuk bermigrasi ke sektor mesin guna memenuhi permintaan pasar.

Produsen mebel dituntut bisa menjaga konsistensi produksi dengan langkah yang efektif. Kehadiran mesin dinilai dapat membantu proyeksi industri agar tetap eksisting ke depannya.

Baca juga: Dalam 24 Jam Dua Pabrik Mebel di Jepara Ludes Terbakar, Kerugian Miliaran Rupiah

Pameran Komponen Manufaktur Furnitur Internasional dan Pameran Mesin Pengerjaan Kayu bertajuk IFMAC and  WOODMAC kembali hadir tahun 2026.

Rencananya, pameran tahun ini digelar selama empat hari tertanggal 23-26 September di Jakarta International Expo (JI Expo) Kemayoran Jakarta.

Project Director IFMAC and  WOODMAC, Cloudinia J. Dieter mengatakan, pameran tahun ini dikemas lebih meriah dengan melibatkan 350 peserta dari berbagai industri.

Peserta yang dihadirkan tidak hanya dari Indonesia saja, juga melibatkan peserta pameran dari 20 negara.

Kata dia, IFMAC and  WOODMAC merupakan sebuah wadah yang menjembatani industri alat hingga permesinan, dengan calon pengguna.

Dalam hal ini adalah pelaku industri mebel atau furnitur sebagai calon konsumen atas produk permesinan dan segala bahan yang dibutuhkan.

IFMAC and WOODMAC 2026 hadir dengan berbagai brand lokal dan internasional. Mulai dari mesin, material, hingga inovasi terbaru berkaitan dengan dunia industri kayu. Di antaranya mesin pemotong, mesin pellet kayu, mesin pembuatan kayu lapis dan sebagainya.

Dalam pameran ini, pihaknya berupaya menghadirkan produk teknologi yang dibutuhkan industri mebel.

Dengan harapan, alat bantu modern bisa membantu sistim produksi furnitur yang lebih efektif dan efisien. Serta memberikan peluang dan manfaat pengembangan usaha bagi pelaku industri.

"Sebelum menuju pameran, kami juga menggelar seminar dengan mengangkat tema Kolaborasi Inovasi dan Peluang Bisnis Untuk Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Jepara sebagai sentra industri mebel," terangnya, Rabu (12/8/2026).

Kata dia, seminar sebagai wadah bagi para profesional industri untuk berbagi wawasan, inovasi, serta memperkuat kolaborasi menuju IFMAC and WOODMAC 2026. Dengan menggandeng perusahaan di bidang mesin dan kebutuhan penunjang produksi furnitur lainnya.

Dalam pelaksanaan pameran nanti, Cloudinia memastikan tidak hanya peralatan mesin yang bakal ditampilkan, juga disediakan software hingga bahan baku yang dibutuhkan di industri furnitur.

Pengunjung bisa mengeksplorasi produk dan teknologi, melihat langsung demonstrasi mesin, seminar, juga upaya membangun jaringan bisnis dengan pelaku industri dari dalam dan luar negeri.

"Tujuan lainnnya adalah memperkuat koneksi antar pelaku usaha dan membuka peluang baru bagi perkembangan industri furnitur dan pengolahan kayu di Indonesia," tutur dia.

Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara (APKJ), Andriyan Susanto menyatakan, minat generasi penerus masuk ke sektor industri mebel menjadi persoalan.

Sektor industri mebel pun lambat lahun semakin minim generasi. Secara langsung berdampak pada ketersediaan SDM di bidangnya, praktis juga berpengaruh pada kuantitas produkai mebel di Jepara hingga Indonesia pada umumnya.

Andriyan tidak memungkiri bahwa industri mebel saat ini bertahan berkat bantuan mesin. Dia menilai bahwa peran mesin saat ini cukup banyak dalam mendukung sektor industri, meski kehadirannya tidak bisa menggeser sepenuhnya peran manusia sebagai aktor utama di industri mebel.

Saat ini, pelaku industri furnitur membutuhkan mesin-mesin pendukung agar tetap survive. Mesin yang lebih fleksibel untuk skala industri UMKM, namun tetap efektif dalam menjaga kuantitas dan kualitas produk.

"Permesinan ini sangat dibutuhkan karena perkembangan furnitur sangat cepat, harus ada efisiensi, namun tetap kompetitif. Kebutuhan tenaga kerja bisa dikurangi dengan adanya bantuan mesin, namun bukan menggantikan," ucap dia.

Andriyan menegaskan, sejauh ini prosentase industri mebel antara tenaga pekerja dengan tenaga mesin sudah mendekati 50 persen.

Lewat pameran IFMAC and WOODMAC nantinya diharapkan bisa menjadi sarana edukasi para industri furnitur atas tantangan migrasi penggunaan mesin sampai 80 persen.

Sekaligus sebagai solusi atas setiap problematika kekurangan pekerja, khususnya di sektor permebelan.

"Pergeseran minat gen z dan gen milenial lebih tertantang dengan kerjaan yang relatif bersih. Kita harapkan dengan pameran ini nantinya terjadi konektivitas antara pelaku UMKM kecil, menengah dan pelaku usaha besar dengan industri yang bisa menyediakan mesin modern sesuai dengan kebutuhan," jelasnya.

Pihaknya sekaligus memberikan tantangan bagi produsen mesin agar bisa menciptakan mesin yang lebih fleksibel dan bisa diserap UMKM.

Mengingat tuntutan migrasi industri ke sektor mesin tidak bisa ditunda-tunda lagi. Dalam upaya menjaga konsistensi, kualitas dan kuantitas produksi mebel.

Baca juga: Penyebab Kebakaran Pabrik Mebel di Jepara Diduga Korsleting Listrik, Kerugian Ditaksir Rp 1,5 Miliar

Dengan dukungan mesin diharapkan bisa menekan biaya, membantu kestabilan dan  kualitas produk.

Selain itu juga membantu perluasan pasar lebih merata.

"Bagaimana perkembangan teknologi dan solusi mendukung industri furnitur dan pengolahan kayu harus dihadirkan dan dioptimalkan. Misalnya pemanfaatan teknologi AI dalam mesin interior, harus ada pengembangan," ujarnya. (Sam)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.