Wow! Arkeolog Temukan Wine Berusia 2.300 Tahun di Dekat Tembok China
GH News August 12, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Arkeolog menemukan 3,7 liter minuman beralkohol berusia 2.300 tahun di dekat Tembok Besar China. Hasil analisis mengungkap bahan dan teknik fermentasi kuno.

Temuan arkeologi di China kembali mengungkap jejak kehidupan masyarakat pada masa lampau. Kali ini, para peneliti menemukan sesuatu yang masih tersimpan dalam bentuk cair setelah melewati ribuan tahun.

Penemuan tersebut menuntun ahli menemukan kebiasaan, bahan pangan, dan keterampilan masyarakat China kuno. Analisis ilmiah bahkan membantu mengungkap cara mereka mengolah bahan hingga menghasilkan minuman fermentasi.

Dilansir dari Bangkok Post (11/8/2026), arkeolog menemukan sekitar 3,7 liter cairan dalam sebuah wadah perunggu di pemakaman Shanjiabao, Ningxia, China. Pemakaman ini berada sekitar 2 kilometer dari peninggalan Tembok Besar Qin.

Sudah Tahu Belum? Tembok China Dibangun dengan Beras Ketan!Tak jauh dari tembok besar China, sekelompok peneliti menemukan wine kuno. Foto: Istimewa

Cairan tersebut diperkirakan berasal dari periode Negara-Negara Berperang, sekitar 475-221 SM. Wadahnya ditemukan dalam makam M39 dan masih tersegel setelah lebih dari dua milenium.

Uniknya, cairan itu tampak jernih dengan warna biru kehijauan serta tidak memiliki aroma yang terdeteksi. Jumlahnya juga tergolong sangat besar dibandingkan temuan minuman beralkohol kuno yang biasanya hanya berupa sisa cairan.

Meski kerap disebut wine dalam berbagai laporan, hasil penelitian menunjukkan cairan ini merupakan minuman beralkohol berbahan serealia. Bahan utamanya adalah millet jenis broomcorn, dengan jejak gandum atau jelai.

Analisis juga menemukan 24 kelompok senyawa organik dalam cairan kuno tersebut. Kandungannya antara lain asam amino, karbohidrat, asam lemak, serta berbagai senyawa yang berkaitan dengan cita rasa.

Baca juga: Coffee Shop Asal Maroko Sajikan Bebek Madura hingga Croissant Ketan Hitam

Wow! Arkeolog Temukan Wine Berusia 2.300 Tahun di Dekat Tembok ChinaUsia wine tersebut diuga sekitar 2.300 tahun. Foto: Bangkok Post

"Studi ini memberikan pemahaman yang jelas tentang pemanfaatan serealia dan teknik pembuatan minuman masyarakat Qin," tulis Ruru Chen dari Northwest University selaku penulis pertama dalam penelitian tersebut.

Kemampuan cairan bertahan selama sekitar 2.300 tahun menjadi salah satu hal paling menarik dari penemuan ini. Wadah perunggu, teknik penyegelan, kondisi makam, dan lingkungan yang relatif kering diduga berperan besar.

Wadah tersebut diketahui memiliki leher menyerupai bentuk bawang putih dan disegel menggunakan kain serta material penutup organik. Teknik tersebut membantu mencegah cairan keluar atau tercampur dengan lingkungan sekitar.

Pemakaman Shanjiabao sendiri memiliki 183 makam dari periode Negara-Negara Berperang. Sebanyak 179 makam diketahui berkaitan dengan masyarakat Qin, termasuk kelompok yang tinggal di wilayah pertahanan perbatasan.

Para peneliti menduga minuman tersebut berkaitan dengan praktik pemakaman. Kehadiran minuman beralkohol di dalam makam dapat menunjukkan bahwa makanan atau minuman menjadi bagian dari bekal bagi orang yang meninggal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.