TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Keberadaan anak jalanan (anjal), khususnya manusia silver, kembali menjamur di sejumlah persimpangan lampu merah Kota Jambi, Rabu (12/8/2026).
Meski penertiban dan pemulangan ke daerah asal sudah berulang kali dilakukan, para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini terus kembali beroperasi di wilayah ibu kota provinsi tersebut.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Jambi, Yunita Indrawati, menuturkan sepanjang semester I-2026, pihak Dinsos Provinsi Jambi bahkan telah melakukan pemulangan paksa sebanyak enam kali.
"Sudah enam kali dipulangkan ke tempat asal melalui Dinsos Provinsi Jambi. Paling banyak warga asal Sumatera Selatan," ujar Yunita saat dikonfirmasi, Rabu (12/8/2026).
Dominasi Usia Remaja hingga Produktif
Fenomena itu belum sepenuhnya tuntas karena banyak di antara mereka yang kembali lagi ke Kota Jambi pascapemulangan.
Berdasarkan pendataan di lapangan, warga yang beraktivitas sebagai manusia silver ini berada di rentang usia belasan tahun (remaja) hingga 40 tahun.
Guna menekan jumlah manusia silver di perempatan jalan, Dinsos Kota Jambi terus berkoordinasi intensif dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jambi untuk menggelar razia penjangkauan.
"Untuk penertiban di jalanan, kami terus berkoordinasi dan bergerak bersama Satpol PP," katanya.
Masalah Sosial Melonjak di 2026
Tak hanya manusia silver dan anak jalanan, Dinsos Kota Jambi juga menangani berbagai pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial lainnya, mulai dari Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), lansia rentan, hingga fakir miskin.
Data Dinsos Kota Jambi menunjukkan lonjakan angka penjangkauan sosial yang cukup signifikan. Pada tahun 2025, tercatat sekitar 1.300 orang yang mendapatkan penanganan sosial.
Sementara pada tahun 2026 (hingga Agustus), angka penjangkauan melonjak tajam mencapai 10.879 orang.
Jumlah fantastis itu mencakup akumulasi penanganan anak jalanan, penyaluran bantuan/pembinaan fakir miskin, ODGJ, hingga lansia terlantar.
Kondisi ini menegaskan bahwa fenomena manusia silver di Kota Jambi bukan sekadar masalah ketertiban umum di jalan raya, melainkan ada faktor dorongan ekonomi serta kerentanan sosial yang kompleks di daerah asal mereka.(Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)
Baca juga: 2 Kelompok SAD di Merangin Saling Lempar Batu, Gesekan Tumenggung Jon vs Tumenggung Pak Jang
Baca juga: Peksos Ungkap Akar Konflik Bentrokan SAD Merangin Kelompok Temenggung Jon vs Pak Jang