TRIBUNNEWS.COM - Serangan mematikan kembali terjadi di jalur pelayaran strategis kawasan Laut Merah setelah enam orang dilaporkan tewas dan sepuluh lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi pada kapal MV Tihamah yang sedang berada di muara Bab el-Mandeb pada Selasa, (11/8/2026).
Korban tewas terdiri atas empat anggota kru kapal MV Tihamah yang meliputi tiga warga negara Pakistan dan satu warga negara Indonesia.
Sementara itu, dua korban tewas lainnya merupakan personel dari Brigade Marinir Kedua Angkatan Laut Yaman.
Selain enam korban tewas, tercatat pula sepuluh korban luka-luka mencakup tujuh awak kapal, dua anggota pasukan penjaga pantai, dan seorang anggota Brigade Marinir Kedua AL Yaman.
Berdasarkan data pelacakan navigasi dari platform Marine Traffic yang dianalisis oleh unit sumber terbuka Jaringan Al Jazeera, kapal kargo yang menjadi target serangan tersebut memiliki nomor identifikasi internasional IMO 1031329 serta mengibarkan bendera Tanzania.
Posisi dan aktivitas terakhir kapal tercatat di perairan lepas pantai Yaman, tepatnya di sekitar kawasan Fort Murad dan Pulau Mayyun.
Dalam catatan operasionalnya, manajemen komersial dan pengelolaan teknis kapal ini dipegang oleh perusahaan Blue Sea For Management Marine yang terdaftar di Mesir.
Dilansir dari Al Jazeera, Kementerian Perhubungan Yaman menyatakan bahwa kapal kargo tersebut membawa muatan bahan makanan.
Kapal tersebut, menurut Pemerintah Yaman, dihantam oleh tiga rudal balistik secara berturut-turut oleh kelompok Houthi.
Parahnya lagi, Pemerintah Yaman mengklaim sebuah rudal tambahan dilaporkan kembali diluncurkan Houthi ke arah kapal saat tim penyelamat berupaya mendekati lokasi untuk mengevakuasi para korban cedera.
Baca juga: Kapal MV Tihamah Diserang Drone di Perairan Yaman, 2 ABK WNI Selamat
Terkait insiden tersebut, media militer Al-Masirah yang berafiliasi dengan kelompok Ansar Allah atau Houthi mengumumkan secara terbuka operasi tersebut.
Houthi hanya menyatakan bahwa pasukan mereka telah melakukan operasi penargetan terhadap kapal pengangkut peralatan militer Saudi di Bab el-Mandeb.
Di pernyataannya tersebut, Houthi tidak merinci identitas spesifik rincian teknis penyerangan tersebut.
Selang beberapa waktu kemudian, media yang dikelola oleh kelompok Houthi turut menyebarkan sejumlah foto serta rekaman video yang memperlihatkan kerusakan parah pada kapal MV Tihamah.
Houthi sendiri menolak pernyataan pemerintah Yaman dan mengklaim bahwa kapal tersebut sarat dengan peralatan militer Arab Saudi.
Empat hari sebelum insiden penyerangan terjadi, aktivitas pengawalan militer di kawasan selatan Laut Merah sejatinya sempat ditingkatkan.
Hal ini sempat terekam oleh citra satelit Sentinel-2 milik Eropa pada 7 Agustus.
Dalam citra tersebut, terlihat frigat Italia Carlo Bergamini yang tergabung dalam Operasi Aspides yang digalakkan oleh pertahanan maritim Uni Eropa, sedang bergerak berdampingan dengan kapal-kapal dagang.
Baca juga: Houthi Yaman Klaim Serang Kilang Minyak Aramco Arab Saudi, Pelabuhan di Laut Merah Juga Jadi Target
Pola pergerakan ini selaras dengan mandat perlindungan jarak dekat yang diemban oleh militer Uni Eropa bagi kapal-kapal komersial yang melintasi wilayah rawan tersebut.
Operasi Aspides sendiri diluncurkan pada Februari 2024 sebagai respons atas memburuknya keamanan navigasi, dengan cakupan wilayah mulai dari Bab el-Mandeb, Laut Merah, Teluk Aden, Laut Arab, Teluk Oman, hingga Selat Hormuz.
Mandat operasi ini juga telah diperpanjang hingga 28 Februari 2027.
Berdasarkan laporan sebelumnya, perwakilan tinggi Uni Eropa sempat mencatat bahwa misi pertahanan ini telah sukses memberikan perlindungan bagi lebih dari 670 kapal dagang serta menyelamatkan 128 pelaut selama kurun waktu 29 bulan operasionalnya.
(Tribunnews.com/Bobby)