BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Sebab utama dua rumah warga Desa Sungai Sandung HSU Kalsel nyaris ambruk
Dua rumah amblas yang berada di tepi sungai Desa Sungai Sandung Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Rabu (12/8/2026).
Kondisi tanah di bantaran sungai diduga mengalami pergeseran atau kemiringan akibat kemarau dan turunnya debit air. Kondisi tersebut diduga mempengaruhi kestabilan tanah di sekitar bantaran hingga menyebabkan dua rumah warga nyaris ambruk.
Diketahui banyak pemukiman warga di HSU yang berada di tepi sungai, sebelumnya longsor juga terjadi di Desa Panangkalaan.
Baca juga: Saatnya Pilih Rumah Impian di REI Kalsel Expo, Ini Kemudahan Mendapatkannya
Baca juga: Awal Mula Perempuan dari Tanahlaut KalseL Sampai Menikah dengan Pria Turki, Bertugas Ke Luar Negeri
Wakil Bupati HSU melakukan pengecekan kondisi sekaligus menyerahkan bantuan, merespon cepat dengan musibah yang terjadi.
Dalam peninjauan tersebut, Hero Setiawan memastikan pemerintah daerah hadir untuk membantu warga yang terdampak. Ia juga melihat langsung kondisi lingkungan sekitar dan berkoordinasi dengan instansi terkait mengenai langkah penanganan yang diperlukan.
Penanganan di lapangan melibatkan sejumlah instansi terkait, yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSU, Dinas Sosial HSU, Dinas Ketahanan Pangan HSU, serta Camat Sungai Pandan. Seluruh unsur tersebut turut turun langsung melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi.
“Perlu kewaspadaan adanya pergeseran tanah yang berdampak pada pemukiman, warga berharap segera melaporkan jika terjadi musibah serupa karena berpotensi membahayakan,” ujar Hero Setiawan.
Dalam kunjungan tersebut sekaligus menyerahkan bantuan untuk dua keluarga yang terdampak dari terjadinya pergeseran tanah yang menyebabkan kerusakan dua rumah warga.
Tips Mendirikan Bangunan agar Kuat Diterjang Hujan Deras dan Banjir
Tidak ada seorang pun yang ingin terdampak saat hujan deras dan banjir melanda.
Namun, saat hujan deras intens mengguyur suatu wilayah dan memicu banjir di wilayah tersebut, potensi dampak kerusakan bangunan kerap kali terjadi.
Dalam kurun waktu sepekan terakhir, setidaknya ada tiga bangunan rusak bahkan roboh di wilayah Jabodetabek karena tidak kuat menahan terjangan banjir.
Ketiga peristiwa itu terjadi di MTsN 19 Jakarta, Sekolah Al-Fath Cirendeu Tangerang Selatan, dan tempat pemancingan di Kramatjati, Jakarta Timur.
Peristiwa tembok roboh di MTsN 19 Jakarta bahkan menewaskan tiga siswa di sekolah itu.
Sementara itu, tembok roboh di Sekolah Al-Fath Cirendeu menimpa lima mobil yang terparkir di bawah tembok.
Lalu, saat pemancingan di Kramatjati roboh akibat diterjang banjir luapan Kali Ciliwung, satu ton ikan lele di dalam kolam tersebut terbawa arus.
Berkaca dari beberapa kejadian tersebut, bagaimana cara agar bangunan tahan diterjang hujan deras dan banjir?
Arsitek dari SAIA Architecture Ariko Andikabina menyebutkan, hal mendasar yang paling penting untuk menghindari peristiwa serupa terjadi adalah penguatan fondasi.
Disampaikan Ariko, salah satu yang paling penting untuk membuat bangunan kuat diterjang hujan deras dan banjir adalah fondasi yang sesuai dengan daya dukung tanah.
Hal ini menjadi penting karena fondasi merupakan bagian paling dasar suatu bangunan agar tetap kuat dan kokoh.
Besarnya fondasi, kedalaman fondasi, hingga jenis fondasi harus disesuaikan saat mulai membangun sebuah bangunan.
Tiga hal utama dalam membangun fondasi itu juga harus disesuaikan dengan topografi tanah di tempat yang akan dibangun.
“Jenis tanah kan macam-macam dan daya dukung tanah di setiap tempat bisa sangat berbeda,” ujar Ariko kepada Kompas.com, Rabu (12/10/2022).
Ariko menegaskan, kedalaman fondasi juga harus sampai ke bagian tanah yang keras, jangan sampai membangun fondasi tapi belum menyentuh tanah keras.
“Kalau enggak menyentuh tanah keras, lalu tanah di bawah fondasi tergerus, dinding atau bangunannya bisa geser atau bahkan roboh,” jelas dia.
Fondasi yang dibuat sesuai standar dan daya dukung tanah ini menjadi faktor penting untuk membuat fondasi tidak bergerak meski diterjang hujan deras dan banjir.
Jika fondasi tak dibuat sesuai standar, ketika ada banjir atau gangguan air, tanah di bawah fondasi tergerus sehingga mengakibatkan dinding di atasnya roboh
(Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurniawati/kompas.com).