Iseng Pakai Mur Baja Jadi Cincin, Santri di Ponorogo Alami Jari Bengkak: Damkar Butuh 3 Jam Evakuasi
Pipit Maulidya August 13, 2026 12:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Sebuah aksi iseng berujung petaka dialami oleh HF (15), seorang santri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Niat hati ingin bergaya dengan menyematkan mur baja berukuran 22 di jarinya, remaja asal Tangerang, Banten tersebut justru harus berurusan dengan tim medis dan petugas pemadam kebakaran.

Lantaran mur baja tersebut tidak bisa dilepas, jari HF mengalami pembengkakan yang cukup parah. Kondisi darurat ini memaksa petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Satpol PP Ponorogo turun tangan untuk melakukan evakuasi yang tergolong sulit.

Baca juga: Jawa Timur Dilanda Kekeringan, Lebih dari 200 Hektare Lahan Pertanian Terdampak

Proses Evakuasi

Berbeda dengan penanganan cincin pada umumnya yang hanya memakan waktu singkat, material mur baja yang tebal membuat petugas harus bekerja ekstra keras. Proses pemotongan tersebut bahkan memakan waktu hingga tiga jam.

Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ponorogo, Bambang Supeno, membenarkan bahwa kasus ini cukup menguras waktu dan tenaga dibandingkan kasus serupa lainnya.

“Biasanya hanya 15 menit. Sekitar 3 jam lah,” ungkap Bambang Supeno pada Rabu (12/8/2026).

Bekerja Sama dengan Pihak Rumah Sakit

Insiden ini bermula saat pihak Rumah Sakit (RS) Yasfin Gontor menghubungi Damkar Ponorogo. Pasien HF datang ke IGD dalam kondisi jari yang sudah membengkak akibat lilitan mur baja yang sangat keras.

Karena peralatan medis tidak memadai untuk memotong baja setebal itu, pihak rumah sakit meminta bantuan profesional dari tim Damkar.

“Minta bantuan ke Damkar untuk melepaskannya. Karena pihak IGD tidak bisa. Kami datang ke rumah sakit. Tentu disampingkan oleh tim kesehatan,” jelas Bambang.

Pendampingan medis dilakukan untuk mengantisipasi adanya gangguan kesehatan atau luka serius pada jari pasien setelah mur berhasil dilepas. Petugas menggunakan gerinda kecil, namun ketebalan mur baja menjadi tantangan utama.

“Ini karena bautnya itu kan tebal, Mbak. Bautnya itu kan tebal. Sedangkan gerinda yang kita pakai itu kan gerinda kecil untuk pemotongan cincin biasa yang normal. Itu kan tidak terlalu berat,” urainya lebih lanjut.

Agar tidak melukai jari santri tersebut, petugas harus melakukan pemotongan secara perlahan dari dua sisi yang berbeda. “Dilakukan demikian agar tidak luka nggih. Ya lumayan. Kita berangkat 13.30 nggih. Sekitar sampai jam 5 selesai. Ada 3 jam lebih, Mbak,” tambahnya.

Sempat Jeda untuk Salat dan Makan

Petugas Damkar yang bertugas di lapangan, Franky Christianto, menceritakan detail proses evakuasi yang berlangsung penuh kehati-hatian tersebut.

Mengingat durasi pengerjaan yang lama dan kondisi mental pasien, petugas sempat memberikan waktu istirahat.

“Petugas Damkar ke IGD 13.30 WIB. Mulai pelepasan pukul 14.00, waktu Ashar kita rehat, anaknya saya sarankan sholat Ashar dulu dan makan. Kami lanjut lagi sampai Maghrib baru bisa dilepas,” tutur Franky.

Ia juga menekankan betapa kerasnya material mur ukuran 22 tersebut. Menurutnya, evakuasi ini merupakan salah satu yang tersulit.

“Sangat keras sekali dipotong. Biasanya kalau lepas cincin itu cuma 15 menit dan mudah,” pungkasnya.

Berdasarkan pengakuan korban, mur baja tersebut ia temukan secara tidak sengaja.

Karena iseng, ia memasukkannya ke jari dan baru menyadari benda tersebut terkunci rapat hingga menyebabkan rasa sakit dan bengkak.

Kini, setelah proses dramatis selama 3 jam, mur tersebut berhasil dilepas dan HF mendapatkan perawatan lebih lanjut untuk jarinya.

 
Keyword Utama: Santri Ponorogo, , Evakuasi Mur Baja, Jari Bengkak, RS Yasfin Gontor.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.