TRIBUNNEWSMAKER.COM - Iran kembali menaikkan tensi konflik dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka dalam waktu dekat.
Jalur strategis tersebut menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dunia.
Iran bahkan menetapkan sejumlah syarat sebelum lalu lintas kapal kembali normal.
Amerika Serikat diminta menghentikan operasi militer dan mencabut blokade pelabuhan Iran.
Teheran juga menuntut pembebasan aset-aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri.
Tak berhenti di situ, Iran meminta gencatan senjata di seluruh kawasan Timur Tengah.
Gaza dan Lebanon turut masuk dalam tuntutan yang disampaikan kepada Washington.
Sikap keras tersebut disampaikan pejabat keamanan senior Iran pada Rabu (12/8/2026).
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump masih membuka peluang negosiasi dengan Teheran.
Namun Trump juga kembali mengisyaratkan opsi serangan militer jika perundingan gagal.
Kondisi ini membuat masa depan Selat Hormuz dan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan.
Baca juga: Iran Tak Gentar Ditekan Donald Trump, 47 Tahun Hadapi Sanksi Jadi Modal Bertahan di Tengah Konflik
Seperti diketahui, pemerintah Iran kembali mempertegas sikapnya terkait pembukaan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
Teheran menegaskan selat tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi seluruh tuntutan yang diajukan Iran.
Tidak hanya meminta Washington menghentikan operasi militer dan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, Teheran kini menambahkan syarat baru, yakni penghentian perang di Gaza dan Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru diangkat, Mohsen Rezaei, saat menerima kunjungan Duta Besar China untuk Iran, Cong Peiwu, pada Rabu (12/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Rezaei menegaskan peluang pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat masih sangat kecil, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah semakin dekat.
Menurut Rezaei, Iran tidak akan mengubah keputusannya sebelum Washington menghentikan operasi militernya, mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta menyetujui gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Gaza dan Lebanon.
"Pesan Iran jelas. Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai AS mengakhiri perang dan blokade, melepaskan aset Iran yang dibekukan, serta menyetujui gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Gaza," tulis Rezaei melalui akun resminya di media sosial X.
Mengutip Al Jazeera, sikap keras Iran muncul ketika Presiden Donald Trump masih mengirimkan sinyal yang berbeda-beda terkait penyelesaian konflik.
Dalam wawancara dengan Real America's Voice, Trump mengatakan pemerintahannya masih membuka ruang perundingan dengan Teheran.
Namun di sisi lain, ia juga kembali melontarkan ancaman bahwa Amerika Serikat siap melakukan serangan militer apabila proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan.
"Saya sedang bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik," kata Trump.
Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan dirinya memiliki dua pilihan, yakni membiarkan Iran terus tertekan secara ekonomi atau melancarkan serangan yang jauh lebih besar.
Pernyataan yang berubah-ubah tersebut menunjukkan bahwa hingga kini strategi Washington terhadap Iran masih belum sepenuhnya konsisten.
Di tengah kebuntuan negosiasi, Pakistan mulai mengambil peran sebagai mediator. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan resmi ke Teheran dan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama politik, ekonomi, perdagangan, budaya, hingga keamanan regional, sekaligus menjadi bagian dari upaya Islamabad membantu mendorong penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Sebelumnya, Qatar juga menyampaikan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjutan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan prioritas para mediator saat ini adalah memastikan Selat Hormuz dapat kembali dibuka serta menjaga peluang terciptanya gencatan senjata di kawasan.
Meski demikian, Iran menegaskan kesepakatan teknis dengan Oman mengenai jalur pelayaran tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan kembali dibuka selama tuntutan politik Teheran belum dipenuhi.
Mantan diplomat senior Amerika Serikat, Alan Eyre, menilai keputusan Iran mempertahankan penutupan Selat Hormuz merupakan strategi untuk meningkatkan tekanan terhadap Washington.
Menurut Eyre, meski Iran telah menyepakati pengaturan jalur kapal bersama Oman, Teheran sengaja belum mengaktifkannya karena ingin memperoleh konsesi politik dari Amerika Serikat.
Ia menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Iran membangun kembali efek penangkal (strategic deterrence) agar Amerika Serikat tidak kembali melancarkan serangan di masa mendatang.
Di tengah proses diplomasi yang berjalan lambat, eskalasi militer di kawasan Timur Tengah justru terus meningkat.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa helikopter MH-60 Seahawk Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi sebuah kapal kargo berbendera Panama di Teluk Oman.
Washington menuduh kapal tersebut berupaya menerobos blokade angkatan laut yang diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sementara itu, situasi di kawasan Laut Merah juga semakin memanas.
Kementerian Transportasi Yaman melaporkan sedikitnya empat awak kapal tewas setelah sebuah kapal kargo diserang di Selat Bab al-Mandeb. Dua anggota tim penyelamat Yaman juga dilaporkan meninggal dunia ketika melakukan operasi evakuasi.
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang kapal milik Arab Saudi yang disebut mengangkut perlengkapan militer.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Saudi terkait klaim tersebut.
Rangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari kata selesai. Selama belum tercapai kesepakatan politik antara Iran dan Amerika Serikat, penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan terus mengganggu distribusi energi global dan mempertahankan tekanan terhadap harga minyak dunia.
(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)