BANJARMASINPOST.CO.ID- Musibah kebakaran hingga sekarang masih menjadi momok bagi warga Banjarmasin. Kebakaran kerap menimbulkan kerugian material yang cukup besar, entah itu kebakaran permukiman, kebakaran pasar atau bangunan lainnya.
Terlebih pada musim kemarau, potensi terjadinya kebakaran semakin tinggi.
Angka peristiwa kebakaran di Banjarmasin pun terus bertambah.
Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banjarmasin, sejak Januari hingga awal Agustus 2026 tercatat sementara, sedikitnya telah terjadi 54 kali kebakaran.
Sebagaimana diungkapkan Kabid Pemadaman DPKP Kota Banjarmasin, Marliansyah, puluhan kejadian kebakaran tersebut tersebar di lima kecamatan.
Dari jumlah itu, Kecamatan Banjarmasin Barat tercatat menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 23 kejadian. Disusul Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Tengah masing-masing 10 kejadian, Banjarmasin Utara 6 kejadian, serta Banjarmasin Timur 5 kejadian.
Banjarmasin harus bersyukur karena masyarakatnya mempunyai jiwa sosial yang cukup tinggi. Ini dibuktikan dengan begitu banyak warga yang suka rela menjadi relawan pemadam kebakaran yang tersebar di berbagai penjuru kota.
Begitu banyaknya barisan pemadam kebakaran di Banjarmasin tentu saja sangat berperan dalam meminimalisasi korban ketika terjadi kebakaran. Api bisa lebih cepat dipadamkan sebelum menjalar ke areal yang lebih luas.
Namun yang sering menjadi permasalahan adalah soal ketersediaan air. Kadang upaya pemadaman kebakaran terhambat karena minimnya sumber air di satu lokasi. Entah itu karena lokasi kebakaran jauh dari sumber air, atau sumber air kering karena memasuki musim kemarau.
Menurut Pengamat Lingkungan dan Tata Kota ULM, Dr Eng Akbar Rahman, banyak kampung memiliki gang sempit sehingga kendaraan pemadam sulit mencapai titik api. Kondisi ini menuntut sistem proteksi sesuai karakter kota, seperti hidran lingkungan, titik sumber air, pompa portabel, APAR komunal, atau sarana pemadaman awal yang bisa digunakan warga sebelum armada tiba.
Ya, hidran bisa menjadi solusi ketersediaan air saat terjadi kebakaran. Jika memang sudah ada di beberapa titik, Pemko Banjarmasin harus menambah ketersediaan hidran di lokasi-lokasi yang dianggap perlu agar memudahkan pemadaman api ketika terjadi kekabaran, khususnya di gang-gang sempit yang padat penduduk.
Tentu saja yang pertama harus dilakukan ada pemetaan lokasi-lokasi rawan kebakaran yang akses sumber airnya cukup sulit. Berpegang peta kerawanan tersebut, bisa ditentukan titik-titik yang memerlukan pemasangan hidran yang diharapkan bisa diandalkan ketika terjadi kebakaran.
Barisan pemadam kebakaran akan lebih kuat dan bisa bekerja maksimal memadamkan api jika didukung kemudahan dalam mendapatkan air. (*)