Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
SEORANG teman tiba-tiba bicara tentang seorang pemimpin dengan narasi berbalut kehebatan, penuh pujian setinggi langit. Dalam narasi teman tadi, pemimpin tersebut seolah-olah sangat berkualitas dalam memimpin. Sarat keberhasilan dalam memimpin.
Masih menurut teman tadi, pemimpin itu sangat terbukti dalam komitmen membangun kesejahteraan warga dengan beragam aksinya. Seorang teman kami ngopi, secara tiba-tiba tertawa ngakak. Kopi hitamnya hampir saja muncrat dari mulutnya. Cahaya rembulan tiba-tiba menghitam. Awan gelap.
Memuji pemimpin bukan sesuatu yang salah. Siapa pun berhak untuk menarasikan kehebatan seorang pemimpin. Tentunya dengan tolok ukur yang jelas. Parameter yang digunakan valid. Dapat dipertanggungjawabkan dengan data dan aturan. Bukan hanya sekadar omongan semata. Bukan hanya sekadar cerita pengisi waktu saat kongkow-kongkow, dan bukan pula omon-omon.
Bagaimana mungkin seorang pemimpin dikatakan hebat bila organisasi yang dipimpinnya belum memenuhi standar pemerintah yang baik. Bagaimana mungkin seorang pemimpin dikategorikan berhasil bila masih banyak pewaris masa depan bangsa yang menuju rumah pengetahuan dengan menyeberangi sungai?
Bagaimana mungkin seorang pemimpin disebut sukses ketika masih banyak masyarakatnya hidup dalam kemiskinan? Pada sisi lain, apakah pemimpin tersebut tidak malu dinarasikan sebagai pemimpin yang berhasil, sementara masih banyak sekolah yang rusak?
Kita boleh saja meng-endorse pemimpin dengan cara masing-masing. Tentunya dengan para parameter yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentunya dengan data-data yang dapat dipercaya. Bukan cuma sekadar mengandalkan hubungan emosional semata.
Sejatinya, seorang pemimpin tidak boleh terbuai oleh pujian dari orang-orang di sekitarnya. Sebab, sanjungan yang berlebihan dapat mengurangi ketajaman dalam melihat keadaan yang sebenarnya.
Sebaliknya, pemimpin memerlukan nasihat, kritik, dan masukan yang objektif. Tujuannya sungguh sangat jelas agar kebijakan yang diambil tepat dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Menjaga kewarasan dalam memuji pemimpin adalah bentuk tanggung jawab kolektif. Apresiasi atas kinerja memang penting sebagai bentuk penghargaan publik. Namun, ketika pujian melewati batas dan berubah menjadi pemujaan, di situlah akal sehat mulai digeser oleh loyalitas yang membabi buta.
Pujian yang berlebihan sering kali merupakan awal dari keterasingan seorang pemimpin dari realitas. Ia tidak lagi mendengar apa yang sesungguhnya terjadi, melainkan hanya mendengar apa yang ingin didengarnya.
Khalifah Ali bin Abi Thalib menyampaikan nasihat bahwa sesungguhnya bukan tidak boleh seseorang memuji atau dipuji, asalkan dilakukan secara bijaksana, proporsional dan tidak berlebihan.
“Memuji seseorang lebih daripada yang dia berhak menerimanya sama saja menjilatnya. Tetapi melalaikan pujian bagi orang yang berhak menerimanya menunjukkan kedengkian,” ujar Ali bin Abi Thalib.
Tentunya jangan sampai kita malu dengan endorse itu. Apalagi dengan narasi yang terlalu mendewakan seorang pemimpin. Publik sudah sangat pintar, tidak mudah terbodohi dengan cerita yang tidak berdata kuat.
Bukan tidak mungkin narasi kita berbau dewa itu dianggap orang sebagai ucapan " ngerahul" atau kisah yang mengada-ada. Dan bukan tidak mungkin pula kita dianggap publik sebagai "pengalok " (pemuji). Alamak. Ngeri! (*)