TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Apheresis merupakan salah satu prosedur medis yang dapat digunakan untuk membantu menangani sejumlah kondisi dan penyakit yang berkaitan dengan darah.
Prosedur ini dilakukan dengan mengalirkan darah pasien melalui mesin khusus untuk memisahkan komponen-komponen darah sesuai kebutuhan terapi.
Hal tersebut disampaikan dr Ivan Tumban Toruan, Sp.PD, K-H, Onk., M, saat menjadi narasumber dalam program Bingke Soedarso bersama Tribun Pontianak dengan tema “Mengenal Apheresis untuk Terapi Penyakit Darah”.
Ivan menjelaskan, darah secara umum terdiri atas plasma, sel darah putih atau leukosit, serta sel darah merah.
Melalui mesin apheresis, komponen darah tersebut dapat dipisahkan sehingga komponen tertentu yang menjadi target terapi dapat dikurangi atau dikeluarkan, sementara komponen lainnya dikembalikan ke dalam tubuh.
• Kasus Pneumonia di Kalbar Naik, RSUD Soedarso Pontianak Siapkan Oksigen hingga Ventilator
Menurut Ivan, apheresis secara umum terbagi menjadi dua penggunaan, yakni untuk donor dan terapi.
“Kalau kita bicara apheresis, kita bagi menjadi dua, yaitu untuk donor dan untuk terapi. Pada donor, orang yang sehat mendonorkan komponen darah tertentu menggunakan mesin apheresis, misalnya trombosit,” jelasnya.
Pada proses donor trombosit dengan apheresis, darah pendonor dialirkan ke mesin untuk memisahkan trombosit.
Setelah komponen yang dibutuhkan terkumpul, komponen darah lainnya akan dikembalikan ke tubuh pendonor.
Sementara dalam penggunaannya sebagai terapi, apheresis dapat dimanfaatkan untuk menangani berbagai kondisi medis tertentu.
Salah satunya adalah leukapheresis, yaitu prosedur untuk mengurangi jumlah leukosit yang sangat tinggi, terutama pada kondisi tertentu seperti leukemia.
Ivan menjelaskan, jumlah leukosit yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko komplikasi serius karena darah menjadi lebih sulit mengalir melalui pembuluh darah kecil.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada organ-organ penting dan membutuhkan penanganan medis segera.
Selain leukapheresis, terdapat plateletpheresis, yang digunakan untuk mengurangi jumlah trombosit pada kondisi tertentu ketika kadar trombosit sangat tinggi.
Jumlah trombosit yang sangat tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pembekuan darah dan komplikasi lainnya. Karena itu, pada kasus tertentu diperlukan tindakan untuk menurunkannya.
Apheresis juga dapat digunakan untuk membantu mengurangi jumlah sel darah merah pada kondisi tertentu.
Salah satu prosedur yang berkaitan dengan hal tersebut adalah red-cell exchange.
Sementara pada kondisi tertentu, pengurangan sel darah merah juga dapat dilakukan melalui flebotomi, yakni pengeluaran sejumlah darah dari tubuh sesuai indikasi medis.
“Jadi, dengan mesin apheresis kita bisa menurunkan jumlah leukosit, trombosit, atau komponen darah tertentu sesuai dengan kebutuhan pasien,” ujarnya.
Jenis apheresis lainnya yang dikenal adalah plasma exchange atau pertukaran plasma.
Dalam prosedur ini, plasma pasien dipisahkan dari komponen darah lainnya. Plasma tersebut kemudian dikeluarkan dan digantikan dengan cairan pengganti atau plasma donor sesuai kebutuhan medis.
Ivan mengatakan, terapi plasma exchange sebenarnya bukan merupakan teknologi baru di RSUD dr. Soedarso. Prosedur tersebut telah digunakan dalam berbagai kondisi medis dan sempat banyak dibicarakan masyarakat pada masa pandemi COVID-19.
“Kalau kembali ke era COVID-19, ada yang namanya plasma exchange. Mesin ini sebenarnya sudah digunakan cukup lama di Soedarso,” katanya.
Ia menegaskan bahwa apheresis tidak digunakan untuk semua penyakit darah. Penggunaannya harus berdasarkan diagnosis, kondisi pasien, jumlah komponen darah yang mengalami gangguan, serta pertimbangan dokter spesialis.
Selain untuk terapi pasien, apheresis juga memiliki manfaat dalam proses donor komponen darah, salah satunya donor trombosit menggunakan mesin apheresis.
Menurut Ivan, donor trombosit dengan metode apheresis dapat menghasilkan jumlah trombosit lebih banyak dari satu pendonor dibandingkan metode donor trombosit konvensional.
Dengan demikian, kebutuhan komponen trombosit bagi pasien dapat dipenuhi dengan jumlah pendonor yang lebih sedikit.
“Kalau menggunakan mesin apheresis, satu pendonor bisa menghasilkan trombosit yang setara dengan beberapa pendonor konvensional. Ini tentu sangat membantu ketika kebutuhan trombosit pasien cukup banyak,” jelasnya.
Namun, calon pendonor tetap harus memenuhi persyaratan kesehatan dan menjalani pemeriksaan terlebih dahulu sesuai standar operasional prosedur (SOP) sebelum melakukan donor.
Proses donor apheresis dilakukan menggunakan akses vena yang terhubung dengan mesin. Darah akan dialirkan secara bertahap ke dalam mesin untuk mengambil komponen yang dibutuhkan, sedangkan komponen darah lainnya dikembalikan ke tubuh pendonor.
Selama proses berlangsung, pendonor tetap dalam kondisi sadar dan dapat makan atau minum sesuai ketentuan petugas medis. Waktu tindakan dapat berlangsung hingga sekitar dua jam, tergantung kondisi dan kebutuhan prosedur.
Ivan menjelaskan, selama proses apheresis terdapat penggunaan antikoagulan, yaitu obat atau zat yang berfungsi mencegah darah mengalami pembekuan di dalam mesin.
Penggunaan antikoagulan tersebut dapat menyebabkan penurunan kadar kalsium sementara dalam tubuh sehingga sebagian pasien atau pendonor dapat merasakan sensasi tidak nyaman.
Untuk mengatasinya, tenaga medis dapat memberikan suplementasi kalsium selama tindakan sesuai kebutuhan.
“Karena dalam prosesnya ada penggunaan pengencer darah atau antikoagulan. Kalau tidak diberikan, darah bisa mengalami pembekuan di dalam mesin. Efek samping dari antikoagulan ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, sehingga biasanya kita berikan suplementasi kalsium,” ungkapnya.
Di sisi lain, penerapan terapi apheresis masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi pembiayaan serta ketersediaan alat dan komponen darah.
Ivan menyebut sebagian besar pasien yang menjalani pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan peserta BPJS Kesehatan.
Karena itu, diperlukan kesesuaian antara kebutuhan pelayanan apheresis dengan sistem pembiayaan yang berlaku.
Selain itu, kebutuhan terhadap komponen darah hasil apheresis juga cukup tinggi.
Biaya penyediaan satu kantong komponen darah melalui proses apheresis dapat mencapai jutaan rupiah, sehingga ketersediaan stok harus terus dijaga.
“Kalau kita bicara tantangan, hampir 99 persen pasien merupakan pasien BPJS. Jadi bagaimana kita menemukan titik temu dalam pembiayaannya. Kasusnya juga cukup banyak, sehingga bagaimana kita memastikan kecukupan bloodline dan kebutuhan komponen darah. Karena biaya apheresis juga cukup besar,” ujarnya.
Ia berharap ke depan terdapat penambahan mesin apheresis serta dukungan fasilitas dan pembiayaan sehingga pelayanan bagi pasien dengan gangguan darah yang membutuhkan prosedur tersebut dapat semakin optimal.
Apheresis, kata Ivan, merupakan teknologi medis yang memiliki peran penting dalam menangani kondisi tertentu pada darah.
Namun, penggunaannya tetap harus berdasarkan indikasi medis dan dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan fasilitas serta peralatan yang memadai.(*)