TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Kasus malaria di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, masih tergolong tinggi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong menyebut tingkat penularan malaria secara umum berada dalam kategori tinggi.
Namun, penularannya tidak merata di seluruh wilayah dan terkonsentrasi di sejumlah desa yang menjadi daerah endemis.
Baca juga: 1.509 Warga Sorong Positif Malaria Semester I 2026, Dinkes: API Masih Jauh di Atas Target Nasional
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong Agustinus Wabia mengatakan, terdapat empat kategori tingkat penularan malaria berdasarkan pemetaan wilayah.
Kategori tersebut ditandai dengan warna putih untuk wilayah bebas malaria, hijau untuk penularan rendah, kuning untuk penularan sedang, dan merah untuk penularan tinggi.
“Secara kabupaten kita masuk dalam kategori penularan tinggi, tetapi terkonsentrasi hanya di beberapa desa atau kampung. Jadi tidak merata di semua wilayah,” ujar Agustinus, Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Dinkes Kota Sorong Gelar Sosialisasi Percepatan Eliminasi Malaria
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah di Kabupaten Sorong masuk dalam kategori penularan tinggi atau zona merah.
Di Distrik Aimas, wilayah yang masuk kategori tersebut antara lain Kampung Maibo, Warmon, dan Klabinaim.
Sementara di Distrik Mayamuk terdapat Kampung Arar dan Jeflio.
Kondisi serupa juga ditemukan di Distrik Seget, Salawati Tengah, dan Salawati Selatan.
Di Salawati Tengah, salah satu wilayah yang masuk kategori merah adalah Kampung Waliam.
Sedangkan di Salawati Selatan mencakup Kampung Sailolof dan Kotlol.
“Kita masuk kategori daerah endemis tinggi, tetapi tidak merata di semua wilayah. Hanya di desa-desa tertentu. Ini yang sementara kita intervensi,” katanya.
Menurut Agustinus, tingginya penularan malaria membutuhkan penanganan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah distrik, pemerintah kampung, serta masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong melakukan berbagai upaya untuk menekan penularan, mulai dari menemukan dan mengobati penderita hingga mengendalikan nyamuk sebagai vektor malaria.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Indoor Residual Spraying (IRS) atau penyemprotan insektisida pada permukaan dinding bagian dalam rumah.
Penyemprotan dilakukan untuk membunuh nyamuk yang hinggap di permukaan dinding setelah penyemprotan dilakukan.
Baca juga: Kasus Malaria Kota Sorong Turun ke 2.818 Pascapuncak 3.925: Kelambu Massal Jadi Kunci Eliminasi
Selain IRS, Dinkes melakukan pengendalian tempat perindukan nyamuk dengan memberikan larvasida pada lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Selain menemukan dan mengobati, kita juga melakukan pengendalian vektor. Ada IRS, kemudian kita melakukan pengendalian di tempat-tempat perindukan nyamuk,” ujar Agustinus.
Dinkes Kabupaten Sorong juga membagikan kelambu kepada masyarakat, terutama warga yang teridentifikasi positif malaria dan ibu hamil.
Pemberian kelambu menjadi salah satu langkah untuk melindungi masyarakat dari gigitan nyamuk.
Agustinus menegaskan, penanganan malaria tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
Peran masyarakat dan pemangku kepentingan di tingkat lokal sangat dibutuhkan, terutama di wilayah dengan tingkat penularan tinggi.
Baca juga: Maybrat Raih Penghargaan Bebas Malaria dari Kemenkes, Begini Pesan Wabup Ferdinando
Karena itu, Dinas Kesehatan terus membangun kolaborasi dengan kepala distrik, kepala kampung, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat.
“Kita juga sementara mengupayakan dengan dukungan dari berbagai pihak, seperti kepala desa, kepala distrik, tokoh adat dan tokoh agama,” katanya.
Menurut Agustinus, keterlibatan tokoh agama penting untuk membantu menyampaikan edukasi kesehatan kepada masyarakat dengan menyesuaikan karakteristik dan kondisi masing-masing wilayah.
“Kita jadikan ini sebagai sesuatu yang dikerjakan bersama-sama,” ucap Wabia.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong mengajak masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah endemis, untuk aktif melakukan pencegahan malaria.
Baca juga: Dinkes Papua Barat Daya Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Atasi AIDS, TBC, dan Malaria
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, menggunakan kelambu, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada malaria.
Agustinus berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat mempercepat penurunan tingkat penularan malaria di Kabupaten Sorong.
Melalui intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan dan dukungan seluruh elemen masyarakat, wilayah dengan tingkat penularan tinggi diharapkan dapat ditekan sehingga risiko penyebaran malaria semakin berkurang. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)