Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan DIY per Mei 2026 tercatat sebesar Rp 96,21 triliun. Secara tahunan mengalami peningkatan sebesar 4,29 persen.
Namun dalam tahun kalender terjadi penurunan tipis yaitu 2,17 persen. Sebab DPK perbankan pada Desember 2025 mencapai Rp 98,34 triliun.
Khusus untuk komponen tabungan, tercatat sebesar Rp 56,63 triliun, secara tahunan meningkat 5,48 persen namun turun tipis 0,35 persen tahun kalender.
Kepala OJK DIY, Eko Yunianto mengatakan melihat kondisi terkini DPK masih menunjukkan pertumbuhan positif, komponen tabungan pun masih tumbuh.
Menurut dia, kondisi DPK maupun tabungan di DIY belum cukup bukti untuk menunjukkan adanya fenomena “makan tabungan”.
“Berdasarkan data sampai Mei 2026, tabungan masih tumbuh secara yoy, sehingga belum cukup bukti untuk menyimpulkan adanya fenomena “makan tabungan” secara luas di DIY,” katanya, Rabu (12/8/2026).
“Analisis lebih lanjut memerlukan data yang lebih terperinci berdasarkan kelompok nasabah, nominal simpanan, serta perkembangan pendapatan dan konsumsi rumah tangga,” sambungnya.
Pihaknya pun terus mencermati perkembangan DPK, kredit kondisi sektor jasa keuangan. Di samping itu, pihaknya juga mendorong peningkatan literasi dan kesehatan keuangan masyarakat.
Dalam menyikapi fenomena “makan tabungan”, OJK DIY mengajak masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara penghasilan, pengeluaran, tabungan, dan kewajiban utang.
Dengan demikian, penggunaan tabungan tidak menjadi solusi permanen untuk menutup defisit pengeluaran rutin.
Menurut dia, masyarakat perlu menyusun anggaran hingga melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Dengan begitu, masyarakat dapat mengevaluasi dan mengontrol arus kas.
Eko menekankan pentingnya kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Artinya masyarakat mesti memprioritaskan pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu daripada keinginan.
“Sehingga terhindar dari potensi penggunaan tabungan secara terus menerus untuk menutup kekurangan arus kas. Perlu juga mulai membangun atau memupuk dana darurat secara konsisten, untuk berjaga-jaga apabila ada pengeluaran tak terduga,” terangnya.
Di tengah kemudahan akses keuangan, ia juga meminta masyarakat untuk bijak dalam berhutang.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai belajar berinvestasi. Namun, investasi juga harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
“Investasi bukan dari uang yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, namun dari dana yang dipisahkan yang khusus dialokasikan untuk investasi, sehingga apabila mengalami resiko kerugian tidak mengganggu keuangan pribadi atau keluarga,” imbuhnya. (maw)