Kenapa Ada Orang yang Enggan Kontak Mata Saat Berbicara? Ini Alasannya
Joko Widiyarso August 13, 2026 10:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM- Pernah ngobrol dengan seseorang, tetapi pandangannya malah sering ke bawah, ke samping, atau ke benda di sekitarnya? Padahal pembicaraan sedang berlangsung dan lawan bicaranya terlihat memperhatikan.

Situasi seperti ini cukup sering ditemui dalam percakapan sehari-hari. Kontak mata memang sering dianggap sebagai tanda seseorang sedang memperhatikan atau percaya diri.

Karena itu, ketika seseorang menghindarinya, perilaku tersebut kadang langsung disalahartikan sebagai sikap tidak sopan, tidak tertarik, bahkan dianggap sedang menyembunyikan sesuatu.

Kecenderungan menghindari kontak mata dapat berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu, tetapi juga bisa muncul dalam situasi yang sangat biasa.

Jadi, tidak semua orang yang jarang menatap mata lawan bicara sedang mengalami masalah dalam bersosialisasi.

Sedang fokus mencari jawaban

Salah satu alasan yang cukup sederhana adalah karena otak sedang bekerja lebih keras untuk memikirkan sesuatu.

Saat sedang memikirkan jawaban, seseorang bisa saja spontan mengalihkan pandangan.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa maupun anak-anak lebih sering melakukan hal ini ketika mendapat pertanyaan yang sulit.

Mengalihkan pandangan ternyata juga bisa membantu mereka lebih fokus menyusun jawaban tanpa terganggu oleh apa yang ada di sekitar.

Itulah mengapa seseorang bisa tiba-tiba melihat ke atas, ke samping, atau ke tempat lain ketika sedang berpikir.

 Bukan karena tidak mau mendengarkan, melainkan karena perhatian sedang dialihkan dari wajah lawan bicara agar lebih mudah berkonsentrasi.

Jadi, kalau seseorang mengalihkan pandangan sesekali ketika sedang menjawab pertanyaan, belum tentu ada masalah dalam percakapan tersebut.

Kontak mata bisa terasa terlalu intens

Friends chatting while sitting on sofa
Friends chatting while sitting on sofa (freepik.com)

Bagi sebagian orang, menatap mata secara langsung justru terasa cukup intens. Ada perasaan seperti sedang benar-benar diperhatikan dan dinilai oleh orang lain.

Hal ini lebih terlihat pada orang yang memiliki kecenderungan kecemasan sosial. Penelitian menemukan adanya hubungan antara kecemasan sosial dengan rasa takut serta kecenderungan menghindari kontak mata.

Semakin tinggi kecemasan sosial yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kecenderungan untuk menghindari tatapan dalam situasi sosial tertentu.

Dalam kondisi seperti ini, kontak mata bukan sekadar aktivitas melihat wajah orang lain. Tatapan tersebut bisa membuat seseorang merasa menjadi pusat perhatian.

Akibatnya, muncul kekhawatiran tentang bagaimana dirinya terlihat, apakah perkataannya terdengar aneh, atau apakah lawan bicara sedang memberikan penilaian negatif.

Takut dinilai saat sedang berbicara

Bayangkan sedang presentasi, wawancara kerja, atau berbicara dengan orang yang baru dikenal. Ketika lawan bicara terus menatap, sebagian orang justru semakin sadar terhadap dirinya sendiri.

Pikiran seperti “Aku ngomongnya benar nggak, ya?” atau “Dia kelihatan bosan nggak?” bisa muncul bersamaan dengan percakapan. Akibatnya, kontak mata terasa membuat situasi semakin menegangkan.

Penelitian menunjukkan bahwa rasa takut dinilai orang lain bisa membuat seseorang lebih jarang melakukan kontak mata. Orang dengan kecemasan sosial tinggi juga lebih sedikit menatap lawan bicaranya.

Namun, ini bukan berarti setiap orang yang menghindari tatapan pasti mengalami kecemasan sosial. Hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai salah satu kemungkinan alasan, bukan diagnosis.

Merasa lebih nyaman tanpa terus menatap

Ada juga orang yang sebenarnya nyaman bersosialisasi, tetapi tidak terbiasa melakukan kontak mata dalam waktu lama.

Kontak mata dalam percakapan tidak harus berlangsung terus-menerus. Dalam komunikasi alami, pandangan seseorang memang bisa berpindah antara mata, wajah, lingkungan sekitar, atau objek lain. 

Artinya, kebiasaan melihat ke arah lain saat berbicara tidak cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang.

Bisa saja dia memang lebih nyaman berbicara sambil sesekali mengalihkan pandangan.

Tatapan lawan bicara juga bisa terasa mengintimidasi

Kontak mata merupakan salah satu sinyal sosial yang kuat. Ketika seseorang menatap langsung, otak dapat menangkapnya sebagai bentuk perhatian yang sangat jelas.

Pada individu dengan kecemasan sosial, tatapan langsung bahkan dapat menjadi sumber rasa tidak nyaman karena membuat mereka merasa sedang diperhatikan secara intens.

Penelitian menunjukkan, orang dengan kecemasan sosial tinggi bisa merasa lebih tegang ketika ditatap langsung. Meski begitu, mereka tidak selalu menghindari kontak mata di setiap situasi.

Respons setiap orang terhadap kontak mata memang bisa berbeda. Ada yang merasa lebih terhubung ketika saling menatap, sementara orang lain justru membutuhkan sedikit jarak agar tetap nyaman mengikuti percakapan.

Jadi, kalau ada orang yang tidak selalu menatap mata saat berbicara, Tribunners tidak perlu buru-buru mengartikannya sebagai tanda tidak sopan, tidak tertarik, atau sedang berbohong.

Bisa jadi, dia sedang berpikir. Bisa juga karena merasa canggung, lebih nyaman melihat ke arah lain, atau memang membutuhkan sedikit ruang agar percakapannya terasa lebih natural.

Bahasa tubuh tidak bisa dibaca hanya dari satu tanda. Kontak mata hanyalah salah satu bagian kecil dari cara seseorang berkomunikasi.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.