Kisah Abdul Hamid, Setia Lestarikan Tradisi Bejiu Safar Suku Tidung di Nunukan
Amiruddin August 13, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Seperti inilah kisah Abdul Hamid, yang setia melestarikan tradisi Bejiu Safar Suku Tidung di Nunukan, Kalimantan Utara.

Di usia 78 tahun, Abdul Hamid masih setia menjaga salah satu tradisi yang diwariskan leluhurnya, Bejiu Safar atau Mandi Safar.

Warga Suku Tidung ini menjadi salah satu saksi panjang perjalanan tradisi Mandi Safar di Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan.

Abdul Hamid mengatakan tradisi Bejiu Safar sudah ia kenal sejak masih muda.

Ia pindah dari Sembakung ke Binusan pada 1954.

Sejak saat itu, ia sudah melihat orang-orang tua di kampung tersebut melaksanakan ritual pada bulan Safar.

"Saya pindah dari Sembakung tahun 1954.

Sejak itu sudah ada ritual pada bulan Safar.

Sudah dilakukan orang tua dulu," ujar Abdul Hamid kepada TribunKaltara.com, Rabu (12/8/2026).

 

Abdul Hamid (78) memandikan peserta dalam prosesi Bejiu Safar atau Mandi Safar
BEJIU SAFAR - Abdul Hamid (78) memandikan peserta dalam prosesi Bejiu Safar atau Mandi Safar di Desa Binusan, Kabupaten Nunukan, Rabu (12/8/2026). Tradisi ini merupakan warisan masyarakat Suku Tidung yang dilakukan secara turun-temurun.(TribunKaltara.com/Fatimah Majid)

Baca juga: Tradisi Mandi Safar Suku Tidung di Nunukan Kaltara, Warisan Leluhur yang Terus Dijaga

Puluhan tahun berlalu, tradisi tersebut masih dipertahankan masyarakat Tidung di Binusan.

Bagi Abdul Hamid, Bejiu Safar bukan sekadar kegiatan mandi bersama.

Ritual ini merupakan bagian dari warisan leluhur, yang mengandung doa dan harapan agar masyarakat terhindar dari bala.

Salah satu bagian yang masih ia pertahankan adalah penggunaan Salamun Tujuh.

Salamun Tujuh merupakan tulisan ayat Al-Quran yang dibuat pada pucuk kelapa.

Abdul Hamid bahkan membuat sendiri pucuk kelapa tersebut untuk digunakan dalam prosesi Mandi Safar.

Dengan tangannya sendiri, ia mengukir tulisan tersebut sebelum digunakan dalam ritual.

"Ini namanya Salamun Tujuh.

Artinya untuk membersihkan bala-bala yang diturunkan Tuhan dari langit ke bumi, supaya hilang jauh dari bumi kita," jelas Abdul Hamid.

Dalam pelaksanaan Mandi Safar, Salamun Tujuh digunakan sebagai bagian dari prosesi memandikan peserta.

Sebelum air disiramkan, masyarakat membaca doa atau niat Mandi Safar dan salawat.

Setelah itu, air disiramkan sebanyak tiga kali.

Menurut Abdul Hamid, seluruh rangkaian tersebut tidak boleh dilepaskan dari doa dan salawat.

"Untuk memandikan, untuk menolak bala.

Dari nenek moyang sampai turun-temurun," kata Abdul Hamid.

Dibuat Kembali Setiap Tahun

Menariknya, Salamun Tujuh yang digunakan dalam ritual tersebut tidak dipakai kembali pada tahun berikutnya.

Setelah selesai digunakan, pucuk kelapa itu disimpan hingga mengering.

Ketika Mandi Safar kembali dilaksanakan pada tahun berikutnya, Abdul Hamid akan membuat Salamun Tujuh yang baru.

"Kalau sudah dipakai, disimpan saja sampai kering.

Tahun yang akan datang kita buat lagi," ujarnya.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tidung, yang masih hidup hingga sekarang.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan, H. Sura'i, mengatakan Bejiu Safar merupakan tradisi masyarakat Tidung yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu.

"Bejiu Safar atau tolak bala merupakan tradisi Suku Kaum Tidung sejak turun-temurun," kata Sura'i.

Menurutnya, tradisi Bejiu Safar tidak hanya dilaksanakan masyarakat Tidung di Kabupaten Nunukan.

Ritual serupa juga dilaksanakan komunitas Tidung di sejumlah wilayah Kalimantan Utara, yakni Kabupaten Malinau, Tana Tidung, Bulungan, serta Kota Tarakan.

 

Salamun Tujuh merupakan tulisan ayat Al-Quran yang dibuat pada pucuk kelapa
SALAMUN TUJUH - Salamun Tujuh merupakan tulisan ayat Al-Quran yang dibuat pada pucuk kelapa. Abdul Hamid bahkan membuat sendiri pucuk kelapa tersebut untuk digunakan dalam prosesi Mandi Safar. Dengan tangannya sendiri, ia mengukir tulisan tersebut sebelum digunakan dalam ritual. (TribunKaltara.com/Fatimah Majid)

 

Baca juga: Bejiu Safar Suku Tidung di Desa Binusan Nunukan, Ajang Tolak Bala dan Pererat Silaturahmi


Tradisi tersebut juga dikenal di komunitas Tidung yang berada di negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Bagi Abdul Hamid, tradisi yang telah ia saksikan sejak 1954 itu bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Di usianya yang kini 78 tahun, ia masih berusaha mempertahankan apa yang diajarkan para orang tua terdahulu, termasuk membuat Salamun Tujuh dari pucuk kelapa.

Warisan itu terus hidup di Desa Binusan, dari generasi ke generasi.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.