TRIBUNMANADO.CO.ID - Miranti Yoyang tak kuasa membendung air matanya saat menceritakan kenangan terakhir bersama adiknya, Ali Yoyang.
Ali Yoyang, turut menjadi korban meninggal dalam tragedi drag race di Kelurahan Upai, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara, Minggu 9 Agustus 2026.
Tribun Manado mengunjungi rumah duka Almarhum Ali Yoyang di Bilalang 4, Kabupaten Bolaang Mongondow, pada siang saat panas matahari terasa menyengat, Selasa 12 Agustus 2026.
Meski sudah masuk wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow, Bilalang berjarak sangat dengan dengan Kota Kotamobagu, sekitar 7,2 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 18 menit.
Desa ini berada di kawasan perbukitan.
Begitu tiba di rumah Ali Yoyang, suasana duka nan emosional langsung menyambut kami.
Dari dalam rumah, jerit tangis terdengar.
Ali Jojang adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Siswa kelas 1 SMK Cokroaminoto itu baru dua bulan menjalani sekolah.
Miranti mengenakan kaos warna biru langit, di pundak kirinya ada selendang warga putih. Dalam tradisi Mongondow, ini adalah tanda bahwa ia sedang berkabung.
Matanya sembab. Setiap kali nama adiknya disebut, Miranti menangis. Ia begitu terpukul dengan kepergian Ali, pasalnya dia sangat dekat dengan sang adik. Terlebih ia menyaksikan sendiri bagaimana Ali terenggut darinya.
Ia mengenang peristiwa tragis yang menimpa adiknya.
Miranti menyebut, adiknya memang suka menonton gelaran drag.
Bahkan saat drag race kali ini digelar dialah yang mengajak sang kakak untuk ikut menonton.
Miranti mengenang, waktu sampai adiknya tidak mengizinkan ia berada terlalu jauh dari motor yang mereka tumpangi.
Maka hanya Ali Yoyang yang masuk terus ke dalam dan berdiri di sisi kiri pembatas lintasan drag race, sementara Miranti berada agak jauh dari lokasi adiknya itu berada.
"Dia bilang di sini saja, jaga motor," ujar Miranti.
Tak di sangka sebuah tragedi akan terjadi pada sore hari ini.
Di tengah riuh penonton, tiba-tiba Miranti mendengar dentuman keras.
Ia pun segera mendekati lokasi untuk melihat apa yang terjadi.
Ia syok dan panik, adiknya ada di sana, tergeletak bersama belasan orang lainnya.
Ia langsung histeris. Mencoba memanggil sang adik namun yang terdengar hanya suara tanpa kata.
"Saya panggil Ali, Ali, hanya terdengar suara," ujar dia.
Ia pun ikut mengantar sang Adik ke rumah sakit terdekat. Setelah sempat dirawat nyawa adiknya itu tak tertolong.
Miranti menuturkan usai kejadian itu, dia menelepon keluarganya termasuk sang ayah yang waktu itu masih berada di Kota Manado.
Ali menderita luka cukup parah di beberapa bagian tubuhnya, terutama di kepala, rusuk dan kaki.