SURYA.co.id, JEMBER – Krisis air bersih di Kabupaten Jember kian meluas.
Memasuki pekan kedua Agustus 2026, jumlah warga yang kesulitan mendapatkan air layak konsumsi telah mencapai 862 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tujuh kecamatan.
Kondisi terbaru ditemukan di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Air sumur warga di kawasan tersebut berubah warna menjadi kuning sehingga tidak lagi aman untuk dikonsumsi.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, laporan dari Kaliwining baru diterima dan langsung ditindaklanjuti dengan asesmen pada Rabu (12/8/2026).
“Laporan terbaru kami terima dari Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Tim langsung melakukan asesmen dan menemukan air sumur warga sudah berwarna kuning sehingga tidak layak dikonsumsi. Ada sekitar 50 KK yang terdampak di Desa Kaliwining,” ujar Edy seusai tasyakuran HUT ke-81 RI sekaligus perayaan kemenangan BPBD Jember sebagai juara umum Lomba Gelar Peralatan se-Jatim, Rabu (12/8/2026).
Dengan masuknya Kaliwining, kini terdapat tujuh wilayah di Jember yang tercatat mengalami krisis air bersih.
Baca juga: Jember Terima Rp223 Miliar DAU dan DBH, Bisa Kurangi Utang Daerah
Wilayah tersebut meliputi Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari; Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat; Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo; Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari; Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk; Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari; serta Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji.
Dari tujuh titik tersebut, enam wilayah sudah mendapatkan distribusi air bersih. Sementara Kaliwining baru selesai menjalani asesmen dan selanjutnya akan masuk dalam jadwal pengiriman air.
Penanganan krisis tersebut tidak dilakukan BPBD seorang diri. Distribusi air bersih melibatkan PMI Jember, PDAM atau Perumdam Tirta Pandalungan Jember, serta Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Jember.
“Penanganan dampak krisis air bersih ini tidak bisa dilakukan BPBD sendiri. Kami melibatkan PMI, PDAM, dan Dinas Perkim. Masing-masing menggunakan anggaran lembaganya untuk mendukung distribusi air karena ini merupakan tugas kemanusiaan,” kata Edy.
Kebutuhan air bersih di setiap wilayah berbeda-beda.
Ada kawasan yang sudah puluhan kali mendapat pasokan, sementara beberapa lokasi lainnya baru menerima distribusi pertama.
Pengiriman paling sering dilakukan ke Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari.
Sebanyak 125 KK di wilayah tersebut telah menerima distribusi air bersih hingga 20 kali sejak awal Juli.
Berikutnya, sebanyak 77 KK di Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat, telah mendapatkan pengiriman air sebanyak 14 kali.
Sementara warga di dua RT Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, sudah lima kali menerima pasokan air bersih.
Menurut Edy, Dusun Baban Timur menjadi salah satu wilayah yang cukup menantang untuk mendapatkan pasokan air karena lokasinya jauh dari pusat kota dan berada di kawasan berbukit.
“Baban merupakan daerah yang cukup jauh dari pusat kota Jember dan berada di kawasan berbukit,” ujarnya.
Wilayah tersebut memang berada di gugusan perbukitan Gunung Gumitir yang berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi.
Sementara itu, distribusi air bersih di beberapa wilayah lainnya masih relatif sedikit karena laporan dampak krisis baru diterima.
Sebanyak 50 KK di Lingkungan Pelinggian, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, dan 75 KK di Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, masing-masing baru mendapatkan satu kali pengiriman air bersih dengan volume 5.000 liter.
Adapun 102 KK di Dusun Sumbertengah, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, telah dua kali mendapatkan distribusi air bersih.
Edy menjelaskan, pengiriman air tidak dilakukan setiap hari. Rata-rata distribusi dilakukan dua hari sekali dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
“Pengiriman air memang tidak dilakukan setiap hari. Rata-rata distribusi dilakukan dua hari sekali,” katanya.
Di tengah meluasnya wilayah terdampak, BPBD Jember mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih.
Edy mengatakan, meskipun berdasarkan prediksi BMKG puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi kemungkinan kemarau yang berlanjut hingga September.
Karena itu, penghematan air dinilai penting agar persediaan yang masih tersedia dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, kami meminta masyarakat untuk menghemat penggunaan air,” tegas Edy.