Gorontalo (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) terintegrasi dengan skrining Tuberkulosis (TBC), di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa di Kota Gorontalo, Kamis mengatakan mendampingi kunjungan tersebut.
Wamenkes dan Wamendagri, kata dia, melihat langsung kondisi klinik kesehatan yang tersedia di Lapas Kelas IIA Gorontalo, termasuk dukungan tenaga kesehatan serta sarana dan prasarana pelayanan.
Wamenkes menilai keberadaan klinik di lingkungan lapas, menjadi bagian penting dalam memperluas akses pelayanan kesehatan bagi warga binaan.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan CKG secara optimal, termasuk pemeriksaan faktor risiko penyakit tidak menular dan deteksi dini TBC.
Ia juga menitip pesan agar kegiatan tersebut dapat disesuaikan dengan program pemerintah, yaitu CKG bisa juga dilakukan pemeriksaan gula darah, tensi, kemudian kalau mengarah ke suspek infeksi TBC atau kelainan jantung, bisa diperiksa.
"Bekerja sama dengan rumah sakit pun penting, sehingga kalau ada yang memang memerlukan rawat inap, bisa dilakukan," kata Wamenkes.
Integrasi pemeriksaan kesehatan dengan skrining penyakit berpotensi, menurutnya, mempercepat penemuan kasus dan memastikan warga binaan yang memiliki faktor risiko, segera memperoleh tindak lanjut sesuai kebutuhan medis.
Oleh karena itu, pemerintah akan memperkuat seluruh klinik kesehatan yang berada di lapas di Indonesia dengan dukungan alat kesehatan, khususnya peralatan penunjang pelaksanaan program CKG bagi warga binaan.
Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pelayanan kesehatan, sekaligus memastikan kelompok masyarakat di lingkungan pemasyarakatan mendapatkan akses deteksi dini dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Ia berharap warga binaan yang memiliki faktor risiko dapat dipantau dan diperiksa secara berkala, termasuk setiap minggu bila diperlukan, sehingga kondisi kesehatan mereka dapat segera ditindaklanjuti dan tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar.
“Ada 532 klinik kita petakan dulu, mengingat tiap wilayah beda-beda, ada yang besar ada yang kecil ada yang sedang jadi dibantu sesuai dengan kebutuhan,” kata Wamenkes.





