TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Petani di sejumlah wilayah di Jawa Tengah mulai mengubah jenis tanaman menghadapi musim kemarau yang melanda.
Beberapa di antara petani padi bahkan beralih menanam tembakau.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares.
"Para petani juga inisiatif mengubah jenis varietas yang ditanam, terutama tanaman tahan kering," kata pria yang akrab disapa Frans itu, Rabu (12/8/2026).
Frans mencontohkan, petani di Demak beralih dari padi menjadi tanaman kacang hijau.
Kemudian, petani di Kendal beralih ke tembaku.
Baca juga: Bencana Kekeringan di Jawa Tengah Meluas ke 24 Kabupaten Kota
Sementara, petani dari daerah lain, beralih dari padi jenis Inpari 32 ke Inpago atau padi gogo yang mampu bertahan di tanah minim air.
"Padi gogo ini dipilih karena lebih tahan di tanah kering," bebernya.
Frans mengatakan, untuk mengatasi dampak kekeringan, Distanak Jateng juga mengebut perbaikan ratusan proyek perbaikan saluran irigasi di sejumlah daerah.
Sistem irigasi penting mengingat 74 persen sawah di Jawa Tengah atau mencapai 717.800 hektare masih mengandalkan irigasi sebagai sumber penyaluran air.
Sisanya, 26 persen atau seluas 252.200 hektare, merupakan sawah tadah hujan.
Total lahan baku sawah di Jateng mencapai 970.000 hektare.
"Dalam menghadapi kekeringan ini, kami kerjakan 334 proyek irigasi, progesnya masih 30 persen," kata Frans.
Meski demikian, kata Frans, pihaknya masih memiliki pekerjaan rumah cukup berat.
Sebab, sepanjang 13 juta meter irigasi di Jateng atau sebesar 52 persen dari total panjang irigasi merupakan irigasi tanah atau non-permanen.
Kondisi ini mempersulit aliran air dari sumber mata air ke sawah.
"Jaringan irigasi itu merupakan jaringan tersier sehingga dalam perbaikannya harus mempertahakan jaringan irgasi sekunder dan primer yang merupakan kewenangan BBWS dan Dinas PUPR," terangnya.
Data sementara yang diterima, kekeringan telah melanda lahan pertanian di wilayah Grobogan, Wonogiri, Rembang, Blora, dan Jepara.
Kondisi itu, bisa saja meluas ke daerah lain.
Baca juga: Banyumas Masuk Kategori Siaga Kekeringan, BMKG Prediksi Puncak Kemarau Terjadi Agustus Ini
Untuk membantu petani memenuhi kebutuhan air selama musim kemarau, selain memperbaiki saluran irigasi, Distanak Jateng juga memberikan bantuan pompa air ke wilayah Kendal dan Magelang.
Frans berharap, musim kemarau ini tidak melebihi bulan September 2026.
Sebab, pihaknya memiliki target hasil padi atau gabah tahun ini mencapai 10,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Belajar dari tahun sebelumnya, kondisi kekeringan, banjir dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menganggu produktivitas sebesar 5 persen dari total produksi gabah.
"Pada tahun 2025, ada banjir dan serangan OPT itu menganggu produksi padi tak lebih dari 5 persen."
"Tapi, kalau tahun ini kemarau panjang, khawatir juga akan menganggu," ungkapnya. (*)