Pendidikan Islam Tak Boleh Kehilangan Akar, FTK UIN Antasari Banjarmasin Tekankan Tradisi dan Etika
Hari Widodo August 13, 2026 12:50 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pendidikan Islam dituntut terus beradaptasi menghadapi perubahan zaman. Namun, transformasi tersebut dinilai tidak boleh membuat pendidikan Islam kehilangan akar tradisi dan nilai yang selama ini menjadi pijakannya.

Pesan tersebut mengemuka dalam International Seminar bertajuk “Transforming Islamic Education for Sustainable Development: Bridging Tradition and Innovation” yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Antasari Banjarmasin, Kamis (13/8/2026).

Seminar yang berlangsung di Masrur Jahri Auditorium Kampus I UIN Antasari tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dari dalam dan luar negeri. Di antaranya Prof Dr Phil Sahiron Syamsuddin dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Etin Anwar dari Hobart and William Smith Colleges Amerika Serikat, Prof Dr Zainal Abidin Sanusi dari International Islamic University Malaysia (IIUM), serta Prof Dr Jamhari Makruf dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Dekan FTK UIN Antasari Banjarmasin, Hamdan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan fakultas yang kali ini mengangkat isu transformasi pendidikan Islam dalam kaitannya dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Baca juga: Setiap Hari Baca Minimal 1,5 Halaman, Nayla Mahasiswi UIN Tetap Rajin Membaca Walau Sibuk Kuliah

Menurutnya, lembaga pendidikan Islam juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi terhadap agenda pembangunan berkelanjutan. Namun, proses tersebut harus tetap berpijak pada tradisi dan nilai Islam.

“Tradisi tetap menjadi pijakan pertama untuk tetap berinovasi dan terbuka terhadap perkembangan zaman,” ujar Hamdan.

Ia menyebut hal tersebut sejalan dengan visi UIN Antasari yang mengusung keilmuan berbasis lokal dengan wawasan global.

Artinya, menurut Hamdan, pendidikan Islam tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi atau menerima inovasi. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.

“Prinsipnya memelihara sesuatu yang baik dan dilanjutkan, dan memahami sesuatu yang lebih baik. Artinya tetap mengadopsi dengan tetap berpijak pada tradisi yang ada,” jelasnya.

Karena itu, Hamdan menilai inovasi dalam pendidikan Islam harus memiliki batas yang jelas, terutama dari sisi etika.

Ia berharap seminar internasional tersebut dapat menjadi tonggak untuk memperkuat pemahaman bahwa etika Islam tetap menjadi pegangan utama dalam setiap inovasi pendidikan.

“Apapun inovasi yang didapatkan dan dihasilkan nanti dalam rangka mengadopsi semua tema yang baru, tetap berlandaskan pada etika Islam yang ada,” tegasnya.

Di sisi lain, Wakil Rektor Bidang AUPK UIN Antasari Banjarmasin, Fatwiah Noor, mengatakan pihak universitas memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, seminar internasional tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan bagi sivitas akademika, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan UIN Antasari ke lingkungan akademik yang lebih luas.

“Kami berharap kegiatan ini bisa menambah pengetahuan bagi orang luar terkait dengan kegiatan yang diadakan oleh UIN,” katanya.

Fatwiah mengakui posisi UIN Antasari sebagai perguruan tinggi yang berada di daerah membuat kampus tersebut belum terlalu dikenal secara luas di tingkat nasional.

Baca juga: Tiga Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin Pernah Dicurangi Pedagang, Begini Respons Islami Mereka

Karena itu, kegiatan bertaraf internasional dinilai dapat menjadi salah satu cara memperluas jejaring akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia maupun luar negeri.

“Selama ini karena mungkin kita daerah, UIN Antasari tidak terlalu terkenal dalam ranah nasional. Jadi kami berharap ketika diadakan di UIN ini, semakin dikenal dengan kegiatan yang sangat bermutu dan kolaborasi bisa terjalin hingga kerja sama dengan lembaga-lembaga PTKIN di bawah Kementerian Agama,” pungkasnya.

Melalui seminar tersebut, FTK UIN Antasari tidak hanya ingin membicarakan bagaimana pendidikan Islam mengikuti perubahan zaman, tetapi juga bagaimana perubahan tersebut tetap memiliki arah, yakni modern dalam inovasi, tetapi tidak kehilangan tradisi dan etika sebagai pijakan.

(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.