Intelijen AS Bongkar Strategi Baru Iran Lawan Trump: Gunakan Selat Hormuz
Darwin Sijabat August 13, 2026 01:04 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Laporan intelijen militer Amerika Serikat (AS) membongkar perubahan mendasar pada doktrin pertahanan Iran. 

Setelah rangkaian fasilitas nuklirnya digempur pada fase awal konflik oleh AS dan Israel, Teheran secara strategis mengalihkan pilar daya gentarnya dari program nuklir ke penguasaan Selat Hormuz—urat nadi distribusi energi global.

Dua pejabat senior AS yang mengutip dokumen intelijen terbaru mengungkapkan para pimpinan Iran kini memandang kendali atas Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan geopolitik yang jauh lebih efektif dan berdampak instan ketimbang opsi nuklir.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini merupakan lintasan utama ekspor minyak bagi raksasa energi dunia seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar. 

Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dipastikan memicu lonjakan harga minyak bumi dan mengguncang rantai pasok ekonomi global.

Merespons pergeseran strategi Teheran, komandan tertinggi militer AS dilaporkan telah melayangkan peringatan keras kepada Presiden Donald Trump. 

Pihak militer menegaskan bahwa opsi operasi militer untuk merebut atau membuka penuh Selat Hormuz mengandung risiko yang sangat mematikan.

Operasi maritim berskala besar diproyeksikan memakan waktu panjang, menyerap anggaran raksasa, dan menelan banyak korban jiwa. 

Lebih lanjut, militer menegaskan tidak ada jaminan keberhasilan mutlak meskipun seluruh kekuatan tempur AS dikerahkan.

Konsensus Eropa-Teluk vs Penolakan Gedung Putih

Melansir laporan NBC News, tiga pejabat Eropa dan dua pejabat dari negara Teluk mengamini analisis intelijen AS tersebut. 

Mereka memperingatkan bahwa kapal-kapal perang AS yang melintas di Selat Hormuz akan menjadi sasaran empuk bagi hujan rudal jelajah dan serangan kawanan drone (drone swarm) milik Iran.

Baca juga: Trump Tuntut Ganti Rugi Perang ke Iran, Negosiasi Hormuz Kian Buntu

Baca juga: Penjaga Malam Kantor Dinas di Batang Hari Jambi Ditemukan Meninggal Telentang

Kendati demikian, pemerintahan Presiden Donald Trump secara tegas menolak penilaian suram dari komunitas intelijennya sendiri. 

Pejabat Gedung Putih mengklaim Selat Hormuz saat ini berada di bawah pengawasan penuh dan kontrol navigasi Angkatan Laut AS (US Navy).

"Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional sehingga tidak berada di bawah kendali negara mana pun. Setiap jalur pelayaran sementara tetap dapat dioperasikan tanpa memerlukan izin, persetujuan, pembayaran tol, maupun biaya lain dari pihak mana pun," tegas seorang pejabat senior administrasi Trump.

Perbedaan pandangan yang tajam antara komunitas intelijen dan Gedung Putih ini mempertegas betapa krusialnya posisi Selat Hormuz sebagai episentrum baru dalam perang dingin dan stabilitas geopolitik kawasan Timur Tengah.

 

Baca juga: Absen Sidang Dakwaan Baru, Permohonan Jaksa agar Dokter Tifa Wajib Lapor  Ditolak Hakim

Baca juga: Harga Pinang di Batang Hari Merangkak Naik Tembus Rp20 Ribu per Kilogram

Baca juga: Pemkot Jambi Raih Penghargaan Nasional Kemendagri, Diguyur Dana Insentif Rp1 Miliar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.