Bukan Cuma ASI, Dokter Ungkap Masalah Ibu dan Bayi di Surabaya
Titis Jati Permata August 13, 2026 01:05 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Persoalan menyusui pada ibu tidak selalu berkaitan dengan produksi ASI. 

Di lapangan, tenaga kesehatan juga menemukan persoalan lain yang berkaitan dengan pemenuhan nutrisi, tumbuh kembang bayi, stimulasi, hingga pemahaman orang tua dalam merespons kebutuhan anak.

Temuan tersebut terlihat dalam rangkaian pendampingan ibu dan keluarga yang dilakukan Mom Uung melalui gerakan #NoMotherLeftBehind.

Program ini menghadirkan edukasi, konsultasi, hingga kunjungan langsung ke rumah untuk melihat kondisi ibu dan bayi.

Dokter Temukan Masalah Nutrisi Bayi di Posyandu Kapasari

Di Posyandu Kapasari, Surabaya, misalnya, dokter spesialis anak Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A, menemukan masih adanya anak yang membutuhkan perhatian dari sisi gizi.

Salah satunya anak berusia 11 bulan dengan berat badan 6,78 kilogram. Dari hasil komunikasi dengan keluarga, diketahui anak tersebut sehari-hari lebih banyak mengonsumsi nasi putih tanpa lauk pendamping yang cukup.

“Yang saya temukan tadi cukup membuka mata. Ada anak 11 bulan beratnya baru 6,78 kilogram. Setelah kita tanya makannya apa, ternyata sehari-hari cuma nasi putih, lauknya enggak ada. Jadi memang masih ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Dr. Ian dikonfirmasi SURYA.CO.ID, Kamis (13/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi kepada orang tua sebelum persoalan kesehatan anak berkembang lebih jauh.

“Sebagai dokter, saya sering ketemu ibu ketika masalahnya sudah terjadi. Jadi saya senang dengan program seperti ini karena kita datang lebih awal. Sebelum ada masalah, ibu sudah dibekali ilmu dulu. Menurut saya, ini jauh lebih baik karena kita bukan cuma mengobati, tapi juga mencegah,” katanya.

Dr. Ian menekankan, kebutuhan anak tidak hanya berkaitan dengan makanan.

Kasih sayang, stimulasi, kesehatan, serta perawatan juga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang.

“Anak perlu Asih, Asah, dan Asuh. Ada kasih sayang, stimulasi untuk tumbuh kembang, dan kebutuhan dasar seperti ASI, makanan bergizi, kesehatan, serta perawatan,” jelasnya.

Meski menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian, ia mengingatkan orang tua agar tidak merasa sudah terlambat untuk melakukan perbaikan.

“Kalau ditanya masih bisa diperbaiki atau enggak, masih bisa. Yang penting kita tahu masalahnya apa dan mulai diperbaiki dari sekarang,” tuturnya.

Home Visit Ungkap Persoalan Stimulasi Bayi

Persoalan lain ditemukan dalam kegiatan home visit di Surabaya dan sekitarnya.

Dokter spesialis anak, dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A, mengatakan kunjungan langsung memungkinkan tenaga kesehatan melihat kondisi ibu dan bayi secara lebih menyeluruh.

Dalam salah satu kunjungan, orang tua mengkhawatirkan bayinya yang masih mengalami head lag, belum bisa tengkurap, serta kenaikan berat badan yang dinilai kurang optimal.

Namun setelah dievaluasi, kondisi tersebut lebih mengarah pada kurangnya stimulasi.

“Jadi kita langsung praktikkan stimulasi bersama orang tuanya,” ujar dr. Natasya.

Pendampingan dilakukan bersama orang tua selama sekitar 1,5 hingga dua jam. Setelah stimulasi, head lag tidak lagi terlihat dan bayi mulai mampu tengkurap.

“Progresnya ternyata bagus. Head lag-nya sudah tidak terlihat dan dia mulai bisa tengkurap. Dari situ orang tuanya juga jadi lebih paham bahwa stimulasi memang perlu dilakukan secara rutin di rumah,” katanya.

ASI Terlalu Deras Juga Bisa Jadi Persoalan

Pada keluarga lain, persoalannya berbeda. Orang tua mengira bayi yang sering menyusu dan rewel disebabkan produksi ASI ibu kurang.

Setelah diamati, ternyata aliran ASI justru terlalu deras atau mengalami oversupply sehingga bayi kesulitan mengatur transfer ASI.

“Orang tuanya awalnya mengira ASI-nya kurang karena bayinya sering minta menyusu dan rewel. Tapi setelah kita lihat langsung, ternyata aliran ASI ibunya justru terlalu deras. Jadi masalahnya bukan ASI kurang, tetapi bagaimana mengatur transfer ASI dari ibu ke bayi supaya direct breastfeeding-nya lebih nyaman,” jelas dr. Natasya.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi secara langsung.

Kekhawatiran orang tua belum tentu sama dengan persoalan yang sebenarnya dialami ibu dan bayi.

“Ini yang menarik dari home visit. Kadang apa yang dikhawatirkan orang tua belum tentu menjadi masalah sebenarnya. Setelah kita lihat langsung, kita bisa evaluasi satu per satu dan cari tahu apa yang benar-benar dibutuhkan ibu dan bayinya,” tambahnya.

Menyusui Tidak Hanya soal ASI

Founder Mom Uung sekaligus Certified Breastfeeding Counselor, Uung Victoria Finky, mengatakan temuan di lapangan menunjukkan, perjalanan menyusui tidak dapat dilihat hanya dari apakah ASI keluar atau tidak.

“Kalau ngomongin menyusui, sebenarnya jangan cuma lihat ASI-nya keluar atau enggak. Di lapangan, ceritanya jauh lebih kompleks. Ada Mommy yang bingung, capek, butuh informasi, butuh didengar, bahkan ada yang sebenarnya sudah tahu ilmunya tapi masih bingung bagaimana menerapkannya,” ujar Uung.

Karena itu, menurut Uung, dukungan kepada ibu perlu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari edukasi dan konsultasi hingga pendampingan langsung.

“Di mana pun Mommy berada dan apa pun kondisi serta kebutuhannya, setiap ibu berhak mendapatkan akses, kesempatan, dan dukungan yang setara,” lanjutnya.

Ayah dan Keluarga Diminta Terlibat dalam Menyusui

Uung juga menekankan pentingnya keterlibatan ayah dan keluarga. Menurut dia, ibu tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang memikul tanggung jawab dalam perjalanan menyusui.

“Menurutku, Ayah bukan cuma support system, tapi bagian dari sistem itu sendiri. Perjalanan menyusui bukan tanggung jawab Mommy seorang. Ada Papa, keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dan lingkungan yang semuanya punya peran untuk membuat Mommy merasa didukung,” tuturnya.

Pesan tersebut diterapkan melalui sejumlah kegiatan, antara lain Couple Babywearing Workout yang melibatkan 25 pasangan suami istri, serta Papa ASI Edu Stage dan Papa ASI Love Letter untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam perjalanan menyusui.

Pendampingan di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo

Pendampingan juga dilakukan melalui konsultasi, home visit di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, intimate sharing session, hingga kunjungan ke rumah sakit.

Di Posyandu Kapasari, sebanyak 45 ibu hamil dan ibu menyusui mendapatkan edukasi mengenai 1.000 Hari Pertama Kehidupan, nutrisi, kesehatan anak, ASI, dan manajemen laktasi.

Sementara itu, home visit dilakukan di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo dengan melibatkan konselor menyusui, bidan partner, serta dokter spesialis anak. Konsultasi juga diperluas ke berbagai kota di Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.