FULL Cerita Erwinsyah Ismail Mulai Masa Kecil hingga Terjun ke Dunia Politik, Ayah Jadi Inspirasi
Aldi Ponge August 13, 2026 02:47 PM

TRIBUNGORONTALO.COM-- Cerita Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Gorontalo, Erwinsyah Ismail soal perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecil, pendidikan, membangun usaha di Yogyakarta, hingga keputusan kembali ke Gorontalo dan terjun ke dunia politik.

Hal ini diungkap Anggota DPRD Provinsi Gorontalo ini dalam Tribun Podcast dipandu Fajri A. Kidjab, Editor TribunGorontalo.com pada Selasa (11/8/2026).

Podcast ini mengusung tema Lebih Dekat dengan Erwinsyah Ismail: Seni Komunikasi Politik Zaman Now

Putra Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail ini berbicara mengenai tantangan sebagai anggota DPRD, komunikasi politik di era media sosial, kritik terhadap pemerintah, agenda setting hingga cara politisi membaca isu yang berkembang.

Berikut wawancara Fajri A. Kidjab bersama Erwinsyah Ismail yang tayang di Facebook dan YouTube Tribun Gorontalo:

Tribun Gorontalo : Bang, kesibukan apa akhir-akhir ini?

Erwinsyah Ismail: Kalau kerjaan di DPR ya masih sama. Kita sekarang lagi masuk fase pembahasan anggaran. Untuk RKPD atau APBD perubahan maupun induk tahun depan 2027.

Sudah masuk tahap KUA PPAS sudah lewat. Terus habis itu kita masih rapat sama TAPD. Ini juga curi-curi waktu untuk diundang Tribun Podcast.

Masih ada rapat sebenarnya, cuma alhamdulillah beberapa usulan kami, beberapa aspirasi kami sudah terinput, sudah amanlah seperti itu, sehingga bisa dirasakan masyarakat tahun depan.

Terus habis itu kesibukan saya masih bisnis. Saya usaha masih jalan semua di Gorontalo sama di luar juga masih ada beberapa bisnis project yang sedang kita kembangkan.

Alhamdulillah. Kalau olahraga, gym masih dan sekarang lagi keranjingan main padel. Lagi ikut tren lah. Ikut pada main padel teman-teman.

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Erwinsyah Ismail,  ffffddd
PODCAST -- Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Gorontalo sekaligus Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Erwinsyah Ismail,menjadi narasumber dalam program Tribun Podcast yang digelar di Studio Tribun, Selasa (11/8/2026) sore

Tribun Gorontalo : Kalau dari segi masa kecil, Bang, mungkin bisa dibagikan. Tribuners mungkin penasaran seperti apa sih Bang Erwinsyah Ismail saat kecil?

Erwinsyah Ismail: Saya kecil lahir di Manado. Terpisah dengan Pak Gusnar sampai kelas 4 SD. Pindah ke Gorontalo kelas 5 kalau enggak salah.

Terus habis itu SD di sini, SD 46 Kota Selatan. Terus habis itu SMP 1, SMA 1. Terus habis itu 2005 saya merantau ke Jogja.

Waktu itu kuliah, kerja, bangun usaha, bangun bisnis, bangun segalanya. Masa depan, target, cita-cita dari kuliah. Habis itu menikah, punya anak dan 2019 disuruh balik sama Bapak.

Tribun Gorontalo : Disuruh jadi anggota DPR?

Erwinsyah Ismail: Sebenarnya pernah 2014 dia minta untuk nyaleg, cuma waktu itu belum, terlalu ini.

Karena pada waktu 2014 itu umur saya lagi prime. Lagi pengin lepas bebas, pengin coba segala macam. Jadi waktu itu nyaleg tapi tidak terlalu fokuslah seperti itu.

Nanti 2019 ketika keluarga sudah siap, anak istri sudah oke, ekonomi sudah oke, terus habis itu kita niatin untuk pulang ke Gorontalo untuk membantu masyarakat, menghidupkan kembali Gorontalo dengan ide-ide dan gagasan-gagasan kita.

Maka 2019 saya pulang dan alhamdulillah sampai hari ini masih di sini.

Tribun Gorontalo : Kalau dari segi cita-cita, apakah memang jadi politikus itu cita-cita sejak masih sekolah atau bagaimana, Bang?

Erwinsyah Ismail: Enggak. Saya pengin dulu itu cita-citanya pengusaha sebenarnya.

Tapi dulu masih kecil itu saya sebenarnya pengin jadi pilot. Saya pengin jadi pilot.

Terus habis itu mama tidak kasih. Mama bilang, "Aduh, bahaya."

Kalau papa itu penginnya saya jadi pengacara, penasihat hukum, sekolah hukumlah seperti itu.

Akhirnya saya pilih tengah-tengah, pilih komunikasi dan saya jadi pengusaha.

Ya kayak begitulah kan, hidup enggak bisa kita atur. Let it flow, follow the river.

Kalau kayak air sungai itu kita ikutin aja harusnya ke mana dan kita tahu kapan bisa berhenti, kapan kita stop, kapan kita lanjut.

Tribun Gorontalo : Terus akhirnya memilih ilmu komunikasi. Mendalami ilmu komunikasi itu bagaimana ceritanya?

Erwinsyah Ismail: Dulu pun sekolahnya kecelakaan, bukan kecelakaan, enggak sengaja gitu loh.

Karena waktu itu kelamaan di Jakarta sama di Bandung. Terus habis itu tiba-tiba kuliah. Masuk kuliah 2005 di Jogja. Bapak maunya hukum waktu itu.

Kita cek ke UGM sudah close. Ke UII yang paling bagus hukum di Jogja, sekolahnya Pak Mahfud MD itu kan, sudah close.

Akhirnya ya sudah, cari-cari. Ada nih komunikasi.Bapak bilang, "Ya sudah, situ dulu. Nanti setahun pindah."

Akhirnya masuk komunikasi.

Akhirnya sampai di dalam saya menyatu. Kok enak, kok bagus?

Percaya enggak, semua konten saya di TikTok, Facebook, Instagram dan lain-lain yang bikin saya.

Boleh tanya kepada semua staf saya.

Saya bikinnya pakai ChatGPT. Dulu masih apa ya aplikasinya, Splice kalau enggak salah.

Kalau memang orang media pasti tahu tuh Splice yang bulat hitam biru.

Per hari ini saya punya handphone khusus untuk tag video.

Jadi staf-staf saya itu misalnya contoh saya ada kunjungan ke Isimu, cek kandang misalnya, staf saya tag video.

Abang yang ngejahit. Pas mau pulang, masuk perjalanan dari Isimu ke kota, pasti saya ke warkop, cari warung kopi.

Saya pastikan sampai di warung kopi sudah posting itu.

Saya punya ilmu itu karena kuliah dulu ternyata di komunikasi itu ada fotografi.

Tribun Gorontalo : Ada fotografi komunikasi?

Erwinsyah Ismail: Betul. Terus habis itu multimedia, penulisan naskah, PR. Itu kan semua kita belajar di situ.

Tribun Gorontalo : Ilmu jurnalistik?

Erwinsyah Ismail: Kan waktu itu masih semester 1. Semua belajar. Waktu itu terus semester 3 saya kok kayaknya lebih enak di PR, makanya saya masuk PR.

Tribun Gorontalo : Berarti ada PR, jurnalistik sama advertising?

Erwinsyah Ismail: Advertising.

Tribun Gorontalo : Terus apa titik balik sampai memilih, "Oh, saya kayaknya mantap untuk maju sebagai politisi." Titik baliknya di mana, Bang?

Erwinsyah Ismail: Bapak saya pernah kalah dulu 2012. Dan itu sakit. Sakit dibully, sakit di macam-macam.

Terus saya sudah cuma janji aja sama Bapak, suatu saat saya akan kembalikan.

2024 saya balikin. Jadi dari titik itu saya enggak bisa mengelak.

Saya keluarga politik. Saya lahir di keluarga politik.

Dan di 2012 Bapak kalah. Saya bilang, "Oke, one day saya akan jadi politisi." Saya akan coba itu.

Tribun Gorontalo : Ada sosok yang menginspirasi Abang sampai maju di politik ini?

Erwinsyah Ismail: Bapak.

Tribun Gorontalo : Bapak sendiri?

Erwinsyah Ismail: Bapak, Pak Gusnar. Waktu itu saya disuruh balik ke Gorontalo. Saya bilang, "Tunggu dulu."

Soalnya 2018 kan persiapan untuk 2019.

2018 itu saya lagi prime lagi. Saya bawa staf saya, orang yang ikut usaha saya di Jogja yang saya rintis dari nol, benar-benar dari nol sampai punya 14 cabang.

Anak ini saya bawa, saya ikutin. 2018 itu lagi prime lagi. Oke lah, untuk anak umur 27-28 tahun hidup di Jogja dengan penghasilan segitu, menurut saya sudah cukup.

Dua digit, separuh ketiga lah. Menurut saya sudah, udahlah. Ngapain lagi saya mau politik?

Saya rumah alhamdulillah punya, anak sudah lahir sehat, istri ada, usaha saya juga ada, pergaulan di sana saya ada.

Saya memang orang yang tidak keluar dari Jogja.

Kalau keluar dari Jogja itu cuma ke mana-mana untuk bisnis sehari dua hari, balik lagi Jogja.

Saya memang homebase-nya di Jogja. Makanya Bapak yang yakinkan.

"Pulang dulu ke Gorontalo. Masih banyak yang mesti mau bantu. Masih banyak yang mesti mau pikir. Tolong orang sini tidak boleh lari."

Makanya pas 2018 saya bilang, "Oh iya, Pak. Insyaallah."

Tribun Gorontalo : Berarti itu sebelum Covid ya?

Erwinsyah Ismail: Jauh sebelum Covid. Cuma itu sih, Pak Gusnar, Bapak yang meyakinkan saya dan meminta saya untuk balik.

Tribun Gorontalo : Terus kemudian momen pertama kali mendaftar itu bagaimana?

Erwinsyah Ismail: 2018 itu saya diminta sama salah satu ayahanda saya, wakil wali kota zaman itu Pak Marten Taha, pengin jadiin saya wakil wali kota.

Cuma satu dan lain hal, politik enggak jadi. Tapi saya tetap komitmen untuk bantu beliau di kampanye dan lain-lain.

Dan saya 2019 maju jadi anggota DPR seperti itu.

Tribun Gorontalo : Setelah pertama kali terpilih, apa yang paling terbesit di benak Abang sampai akhirnya, "Saya terpilih nih"?

Erwinsyah Ismail: Waktu itu yang saya ingat tentang masyarakat.

Kalau saya bilang soal kemiskinan masyarakat miskin, terlalu normatif.

Terlalu terkeng-bekeng sekali. Saya tipikal orang yang enggak pernah munafik.

Yang saya lihat pertama kali 2019 saya balik di Kota Gorontalo ini adalah bagaimana saya bisa bikin event sebanyak-banyaknya di Gorontalo untuk memutar ekonominya.

Karena cuma dari situ. Kita enggak punya apa-apa di Kota Gorontalo. Kita enggak punya sumber daya alam waktu itu.

Terus habis itu kita mau apa-apa susah. Wisatawan mau ke sini juga.

Saya belajar itu karena di Komisi 3 saya lihat pariwisata.

Jadi pertama kali saya jadi anggota DPR, saya kemudian me-review balik orang-orang yang dulu pernah kerja sama Papa.

Orang-orangnya ada, ketemu lagi. Saya masih, "Oh, si ini jadi ini, si ini jadi ini."

Karena menyesuaikan diri lagi. Waktu buat caleg dulu satu bulan, dua minggu di Jogja, dua minggu di sini.

Nanti kalau sisa uang tinggal beli tiket pulang lagi, isi lagi, balik lagi ke sini. Begitu terus.

Jadi pertama-tama ya harus pindahan dulu dari Jogja ke sini.

Istri saya akhirnya saya tanya, mau ikut ke Gorontalo atau mau di Jogja saja nerusin usaha.

Dia bilang ikut Gorontalo. Ya sudah, ikut Gorontalo.

Tribun Gorontalo : Pindah di sini tahun berapa?

Erwinsyah Ismail: 2019.

Tribun Gorontalo : Jadi begitu terpilih langsung pindah?

Erwinsyah Ismail: Langsung memang pindah di sini. Hal pertama ya kita bikin rumah dulu karena enggak punya rumah.

Terus habis itu ya banyaklah dalam pergaulan, dalam kinerja-kinerja kita.

Cuma kita enggak bisa banyak gerak karena waktu itu 2019 dilantik September tanggal 9.

Orang dilantik, 2020 Februari sudah Covid.

Jadi memang enggak banyak program, enggak banyak aktivitas, langsung PSBB.

Jadi yang saya ingat itu cuma pergi di perbatasan-perbatasan, batasi orang masuk.

Habis itu baku hantam dengan Inpres Nomor 1 Tahun 2020.

Segala anggaran itu boleh digeser untuk Covid.

Itu memang bahaya sekali.

Banyak proyek di-drop, pokoknya backing untuk APD, vaksin, PCR, pengadaan dan lain-lain.

Jadi kita waktu itu di Banggar, saya fokus lihat, plototin itu geser-geser anggarannya bagaimana.

2020 itu karena ada Inpres Nomor 1 Tahun 2020 yang dibuat bahwa boleh semuanya karena force majeure.

Itu yang saya ingat.

Tribun Gorontalo : Sekarang kan sudah sekretaris komisi di Komisi II DPRD Provinsi. Sebagai sosok pimpinan, tantangan terbesar apa yang Abang rasakan selama sejauh ini di DPR?

Erwinsyah Ismail: Di DPR itu setiap orang, yang anggota ada 45, setiap isi kepalanya itu beda-beda.

Dia punya kepentingan tersendiri, dia punya narasi tersendiri, dia punya target tersendiri, dia punya cara berpolitik sendiri.

Dan yang susahnya jadi pimpinan itu adalah menyatukan persepsi.

Misalnya si A minta ini, si B enggak mau.

Bahkan kita kalau di DPR itu sifatnya kolektif kolegial.

Satu enggak setuju bahaya. Kalau dipaksain bahaya. Harus setuju semua dulu.

Memang komunikasinya saja. Harus win-win solution.

Karena di dalam komisi itu kan terdiri dari beberapa orang dari dapil mana, dapil mana.

Setiap dapil tentu beda. Dia punya kepentingan.

Makanya kenapa saya dapil kota paling banyak bikin event, bikin acara, karena masyarakat kota mintanya itu kira-kira.

Tribun Gorontalo : Menurut Abang, di era sekarang ini apa perbedaan signifikan komunikasi politik tradisional dengan komunikasi politik zaman now?

Erwinsyah Ismail: To be honest ya, harus saya jujur, sekarang komunikasi di media sosial itu sedang enggak baik-baik saja.

Buzzer-buzzer yang bukan buzzer sebenarnya itu orang-orang satu dua orang saja.

Kalau buzzer itu sistem yang kita pakai kalau mau pilkada, boosting atau segala macam.

Cuma hari ini yang saya perhatikan, contoh di Gorontalo itu jumlah pengguna akun media sosial, terutama Facebook dan TikTok, itu banyak sekali dan kita enggak tahu itu siapa penggunanya.

Sebenarnya kalau orang komunikasi, ini penjajahan model baru oleh asing. Facebook dibiarin.

Coba sekarang, bisa dicek enggak siapa punya akun media sosial palsu? Siapa punya? Enggak bisa.

Ketika dia log selesai enggak bisa dibuka. Tapi kita disibukkan dengan beragam postingan setiap hari.

Ada yang posting, ada yang hujat. Pokoknya ada yang mau menghujat.

Maksudnya, komunikasi, ruang komunikasi di dunia politik itu adalah vitamin.

Saya dikritik orang banyak, saya apakah melawan? Enggak. Saya anggap itu kritik.

Tapi kritiknya, saya meminta kalau kritik mesti yang membangun. Tidak bebas-bebas saja mau kritik apa.

Semua kita bisa jelaskan. Begitu orang bilang enggak masalah.

Cuma sekarang orang terlalu sibuk dengan Facebook Pro, TikTok affiliate.

Jadi orang yang tadinya enggak ngapa-ngapain di rumah soal ambil konten dia.

Kalau kontennya macam saya lihat ada konten seperti Erpa, dia bawa konten tentang tambang mas, dia bikin video.

Hari ini kita akan menuju tambang karena saya suka nonton konten dan menghasilkan FB Pro.

Menghasilkan dolar dari situ. Ada juga influencer seperti Apin Lele, komedi atau Bapuoki. Produktif.

Tapi ada beberapa juga yang bikin konten head speak.

Sekarang kalau mau terkenal, head speak saja.

Banyak kok di Instagram, orang asal ngomong.

Ada yang menyerang pemerintah pasti banyak followers hari ini.

Tapi kita lupa kemudian asing malah berlomba-lomba untuk membangun dinasti, sistem dan sebagainya.

Artinya begini, dalam komunikasi politik hari ini, misalnya Bapak Gubernur terpilih dengan angka 42 persen.

Berarti ada 58 persen yang tidak memilih Bapak. Secara di atas kertas.

Automatically, apa pun yang Bapak lakukan sebagai gubernur yang benar, tepuk tangan enggak akan ada.

Kenapa?

Orang yang memilih itu pasti sudah support karena dia sudah percaya, sudah trust.

Tapi ketika ada satu kesalahan, atau bukan kesalahan, isu atau dugaan yang menghantam Pak Gusnar, pasti yang 58 persennya pasti.

Dan saya punya aplikasi, saya bisa baca pergantian nama orang-orang walaupun dia pakai akun palsu atau akun anonim.

Namanya siapa, siapa, bahkan yang ada di tim kita digas dulu malahan.

Saya enggak tahu, mungkin di hari itu lagi kenapa-kenapa.

Saya kasih contoh, seperti waktu itu DPR ada suara untuk Rp393 juta baju dinas gubernur yang dihantam.

Saya baca semuanya orang yang menyampaikan pesannya.

Saya baca satu-satu. Saya hafal nama-namanya.

Saya perhatikan, pola komunikasi pasti dapat.

Mereka cuma dilempar isu, dugaan, terus habis itu Rp393 juta tanpa dijelaskan.

Tapi yang dihujat siapa? Pak Gubernur.

Ada fakta yang ingin saya sampaikan. 2026 anggaran itu Rp393 juta itu ada.

Dan Pak Gubernur belum menggunakan rupiah pun untuk baju dinas.

Di 2026 ini, Agustus ini, bisa dicek.

Bapak enggak menggunakan.

Jadi yang dipakai Pak Gusnar hari ini adalah pengadaan tahun 2025, pertama dia jadi gubernur.

Tapi seolah-olah digiring bahwa ini pemborosan. Dihitung efisiensi.

Efisiensi itu bukan berarti enggak bisa bikin apa-apa.

Efisiensi itu yang tadinya 100 kasih kurang jadi 50. Itu efisiensi.

Bukan berarti tidak bisa bikin apa-apa.

Itulah yang susahnya kita sekarang.

Kalau saya jadi anggota DPR, saya menjelaskan sesuatu yang baik, ada bola muntahnya.

Bukan saya menjelaskan sesuatu yang baik pasti dianggap itu sebagai tugas saya.

Jadi mereka tidak perlu memuji saya.

Saya juga enggak minta dipuji.

Saya masih makan nasi, bukan makan puji.

Saya tidak minta diapresiasi.

Saya ingin mengabarkan bahwa kerjaan saya ini, saya menyampaikan ide ini, saya menggambarkan narasi ini. Tapi susah.

Jadi saya sekarang ini susah. Saya puji Bapak, dipelintir-pelintir di macam-macam.

Tribun Gorontalo : Contoh seperti tulisan yang viral "Jago Papa".

Erwinsyah Ismail: Itu kan agenda setting, Bro.

Kalau kita orang komunikasi, kita tahu apa yang dimaksud setting.

Itu agenda setting. Sampai sekarang masih ada.

Kalau misalnya orang jadi mem, jadi mem, jadi "jago papa", ya it's okay.

Itu memang agenda setting. Ilmu saya, maksudnya memang sengaja seperti itu.

Tribun Gorontalo : Tapi ketika di TikTok saya kritik Pak Gubernur soal perubahan RPJMD, banyak sekali komentar "sinetron ini", "bakutukar di rumah".

Erwinsyah IsmailYa, asal kompak. Jadi saya sudah sampaikan, artinya sampai hari ini pekerjaan saya di DPRD itu tidak pernah diintervensi oleh seorang Gubernur Gusnar Ismail.

Bahkan kalau misalnya pun ada pesan-pesan dari DPR, saya bawa sama beliau.

Bawanya itu ngomong di rumah, ngomong apa adanya.

Mau didengar atau enggak, ya itu haknya Pak Gubernur.

Menghadapi seorang Pak Gusnar, dia sebagai gubernur dan sebagai bapak itu beda.

Dia menentukan, dia menetapkan ruang di situ.

Ini boleh, ini enggak boleh.Seperti itu.

Tribun Gorontalo : Di komunikasi politik itu kan ada yang namanya sifatnya destruktif. Salah satunya adalah propaganda.

Propaganda itu kalau menurut IPA, organisasi nirlaba yang dibangun pada tahun 1937 di Amerika, ada tujuh jenis propaganda.Salah satunya adalah bandwagon.

Bandwagon itu simplifikasinya, "Si A, saya mau pilih si A, kalian enggak ikut. Si A ini bakal menang."

Nah, akhirnya itulah yang terjadi sekarang. Kalau menurut Abang sendiri bagaimana?

Erwinsyah Ismail: Sebenarnya begini. Kalau misalnya kita bicara tentang ilmu, ilmu itu kan ada teorinya pasti. Teorinya ada implementasinya.

Kalau misalnya di agenda setting di komunikasi politik, yang paling benar itu adalah kemudian reading the wave.

Tribun Gorontalo : Reading the wave?

Erwinsyah Ismail: Maksudnya isu apa yang lagi hot hari ini, ya di situ. Nah, cuma kan politisi berada di wave yang saya maksud tadi itu jadi tambah-tambah urusan, Bro..(*/Jefri) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.