TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Semangat kebinekaan, budaya, dan ketakwaan berpadu dalam Karnaval Budaya dan Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Golo Koe (FGK) 2026 di Waterfront City Marina Labuan Bajo, Rabu (12/8/2026).
Sebanyak 1.584 peserta dari 53 kontingen ambil bagian dalam karnaval yang dimulai dari depan RS Siloam hingga berakhir di pusat kegiatan Waterfront City.
Peserta berasal dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas kategorial Gereja, paroki, WKRI, organisasi wanita Katolik, pemerintah daerah, TNI, Polri, Kementerian Agama, hingga lembaga pendidikan tingkat TKK, SD, SMP, SMA dan SMK.
Karnaval semakin semarak dengan kehadiran berbagai paguyuban etnis yang menampilkan kekayaan budaya Nusantara. Di antaranya tarian Kebalai dari Paguyuban Rote, Reog Ponorogo dari Paguyuban Jawa, tarian Weka dari Sumba, serta tarian Dolo dari masyarakat Lamaholot.
Baca juga: Akunitas Manggarai Barat HadirMeriahkan Festival Golo Koe 2026, Dorong UMKM Lokal Naik Kelas
Keberagaman tersebut menjadi gambaran Labuan Bajo sebagai “Rumah Bersama”, tempat masyarakat dari berbagai suku dan agama hidup berdampingan dalam suasana harmonis dan toleran.
Semarak karnaval juga semakin terasa dengan hadirnya atribut merah putih. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Puncak kegiatan ditandai dengan penampilan Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara yang dibawakan oleh 550 siswa-siswi SMKS Stella Maris Labuan Bajo.
Pertunjukan tersebut bukan sekadar seni tari, tetapi juga menjadi bentuk devosi dan doa dalam gerak yang dipersembahkan kepada Bunda Maria.
Secara filosofis, tarian menggambarkan Maria sebagai sosok ibu yang merangkul semua orang tanpa membedakan suku, agama maupun golongan. Pesan tersebut berpadu dengan budaya lokal Manggarai yang menjunjung tinggi kebersamaan, keberagaman, serta kelestarian alam.
Dalam pertunjukannya, para penari membentuk tiga formasi yang terinspirasi dari filosofi masyarakat Manggarai, yakni Formasi Lingko, yang menggambarkan kearifan lokal dalam pengelolaan tanah dan sumber daya; Formasi FGK 2026, sebagai simbol identitas dan persatuan Festival Golo Koe; serta Formasi Rumah Gendang (Mbaru Niang) lengkap dengan simbol Compang yang merepresentasikan pusat kehidupan, keadilan, dan kedaulatan masyarakat adat.
Penampilan tersebut semakin khidmat dengan iringan musik inkulturatif, pembacaan puisi, serta deklamasi adat atau torok Manggarai. Lagu “Manikmata Lonto Cama” karya Ivan Nestorman turut mengiringi gerakan para penari dan menghadirkan suasana spiritual yang menyentuh ribuan penonton di Waterfront City.
Melalui perpaduan budaya dan religi, Festival Golo Koe 2026 tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga ruang untuk merawat keberagaman, mewariskan nilai-nilai budaya Manggarai kepada generasi muda, sekaligus memperkuat promosi pariwisata berkelanjutan yang berakar pada kearifan lokal.
Semangat tersebut terangkum dalam pesan “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi”, sebagai ajakan untuk menjaga harmoni, budaya, dan kelestarian lingkungan demi masa depan bersama.
Sumber: Siaran Pers Panitia Festival Golo Koe 2026