TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Suara bilah gangsa, kendang, dan harmoni gamelan Bali yang dahulu hanya hidup di ruang-ruang adat, pura, serta banjar, kini telah menjadi bagian dari percakapan musik dunia.
Di balik perjalanan panjang itu, ada salah satu sosok Prof. Dr. I Nyoman Ardjasa Wenten, MFA, maestro Bali yang selama puluhan tahun mendedikasikan hidupnya membawa seni tradisi Pulau Dewata ke panggung internasional.
Lahir di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, 15 Juni 1945, Prof. Wenten membuktikan bahwa seni tradisi Bali mampu melintasi batas geografis.
Dari tanah kelahirannya, ia membawa gamelan hingga ruang-ruang akademik bergengsi di Amerika Serikat.
Baca juga: Kisah Ni Wayan Pageh, Penantian 27 Tahun Berakhir, Rumah Bocornya Di Denpasar Bali Dibedah
Kini menetap di Valencia, California, Prof. Wenten dikenal sebagai pengajar musik dan tari di California Institute of the Arts (CalArts).
Berbekal gelar Master of Fine Arts (MFA) dari CalArts dan doktor etnomusikologi dari University of California, Los Angeles (UCLA), ia tidak hanya mengajarkan teknik memainkan gamelan, tetapi juga memperkenalkan filosofi, nilai spiritual, dan estetika seni Bali.
Langkah Awal Membawa Bali ke Dunia
Perjalanan internasional Prof. Wenten dimulai jauh sebelum ia bermukim di Amerika.
Kecintaannya pada seni Bali membawanya bergabung dalam Misi Kesenian Kepresidenan RI era Presiden Soekarno pada tahun 1965.
Saat itu, ia melawat ke berbagai negara seperti Korea Utara, Republik Rakyat Tiongkok, Kamboja, Thailand, hingga Jepang.
Pengalaman tersebut membuka pandangannya bahwa seni Bali memiliki kekuatan universal.
“Dari perjalanan itu saya melihat bahwa seni budaya Bali bukan hanya milik masyarakat Bali. Seni ini memiliki nilai yang bisa diterima masyarakat dunia,” kenangnya, Kamis 13 Agustus 2026.
Selepas menyelesaikan pendidikan di ASTI Yogyakarta, beasiswa ke Amerika menjadi pintu baru baginya.
Keberangkatan itu bukan sekadar memperdalam ilmu, melainkan menjadi misi memperkenalkan identitas budaya.
Di Amerika, ia mulai mengajar program musim panas selama delapan minggu, yang menjadi cikal bakal pengenalannya akan gamelan Bali ke publik internasional.
Menghidupkan Gamelan di Kampus AS
Seiring berkembangnya kajian etnomusikologi di Amerika, gamelan Bali mendapat tempat di dunia akademik.
UCLA menjadi salah satu pusat pengembangan yang menghadirkan instrumen tradisional dari berbagai negara.
Kehadiran perangkat gamelan tersebut membutuhkan pengajar yang memahami tradisi secara utuh.
Prof. Wenten hadir meneruskan perjuangan tersebut, kiprahnya meluas hingga ke CalArts, kampus seni yang didukung keluarga Walt Disney.
Di sana, ia menjadi pengajar penuh waktu dan membuka ruang bagi mahasiswa Amerika untuk mendalami seni Bali.
Selain itu, ia turut berbagi ilmu di UC Berkeley, UC San Diego, dan San Francisco State University.
Bagi Prof. Wenten, gamelan Bali bukan sekadar permainan instrumen.
Di balik setiap tabuhan terdapat filosofi, hubungan sosial, dan nilai kebersamaan.
Ia juga aktif berkolaborasi dengan seniman dunia, mempertemukan karawitan Bali dengan ekspresi modern.
Beberapa kolaboratornya antara lain Morton Subotnick, Elaine Barkin, Miriam Scott, Robert Kyr, George Lewis, David Rosenboom, L. Subramaniam, Adam Rudolph, dan Bill Alvis.
Puluhan tahun mengajar di Amerika melahirkan generasi pecinta seni Bali yang kemudian membentuk berbagai komunitas, seperti Gamelan Buratwangi (Fragrant Offering) dan Sekar Jaya.
“Budaya akan tetap hidup kalau ada yang meneruskan. Generasi baru harus diberi ruang untuk belajar dan berkarya,” tegasnya.
Dedikasi regenerasi tersebut juga diwujudkan di tanah air melalui pembinaan Sanggar Bharata Muni di Bali.
Anak-anak muda dari sanggar ini bahkan sempat diboyong tampil di Meksiko selama dua bulan serta memamerkan seni Bali di Brasil.
Sebagai komponis, Prof. Wenten terus melahirkan karya inovatif seperti Merapi, Desa Kalapatra, Crossover, dan Jay Hanoman.
Perjalanan hidup dan dedikasinya diabadikan dalam film dokumenter Bali: Beat of Paradise. (*)