Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Ortopedi dr. Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan nyeri lutut atau penurunan kemampuan bergerak yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari karena dapat menjadi tanda adanya gangguan fungsi sendi.
"Yang paling utama.. munculnya sakit, ada yang gangguan fungsi," ujar Andito saat peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis.
Menurut dia, gangguan lutut tidak selalu ditandai dengan rasa sakit. Sebagian pasien justru mengalami penurunan kemampuan berjalan, misalnya tidak mampu menempuh jarak yang sebelumnya dapat dilakukan atau harus berhenti dan beristirahat setelah berjalan dalam jarak tertentu.
"Jalan jadi tidak kuat. Tidak sakit, tapi jarak tempuhnya baru jalan 100 meter sudah pengin duduk," katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat fungsi lutut secara keseluruhan, bukan hanya mengandalkan rasa sakit atau hasil pemeriksaan pencitraan untuk menentukan tingkat gangguan.
Andito mencontohkan pasien yang memiliki perubahan bentuk kaki berdasarkan hasil rontgen, tetapi masih mampu berjalan dan menjalankan aktivitas dengan baik. Kondisi tersebut, menurut dia, tidak serta-merta menjadi indikasi untuk melakukan operasi.
"Dia bilang secara rontgen harus dioperasi. Tapi fungsinya masih baik, ya tidak saya operasi," ujarnya.
Sebaliknya, pasien dengan gangguan yang belum terlalu berat tetap dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut apabila mengalami nyeri, pembengkakan, atau gangguan fungsi yang terus berlangsung.
Ia menjelaskan operasi penggantian lutut memang lebih banyak dilakukan pada pasien berusia 60 tahun ke atas, tetapi usia bukan satu-satunya penentu kebutuhan operasi. Pasien lebih muda juga dapat mengalami kerusakan sendi akibat kondisi tertentu.
"Biasanya 60 tahun ke atas. Kebanyakan. Ada yang 25 tahun," katanya.
Menurut Andito, kondisi tulang rawan dan fungsi sendi setiap orang berbeda. Lansia masih dapat melakukan aktivitas fisik apabila kondisi tulang rawannya baik.
"Kalau rawannya masih bagus, silakan jogging. Kalau arthritis, berubah jadi low impact," ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan kerusakan sendi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan apakah pasien masih dapat ditangani dengan terapi nonoperatif atau membutuhkan operasi.
Untuk pasien yang membutuhkan operasi penggantian lutut, teknologi robotik ROSA dapat membantu dokter meningkatkan presisi dalam perencanaan dan pelaksanaan tindakan.
"Robot bisa membaca bergerak dua milimeter. Dua milimeter mata kita tidak bisa lihat, feeling kita tidak bisa melihat," katanya.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi robotik bukan untuk menggantikan dokter, melainkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan ketepatan tindakan. Keputusan medis tetap ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Karena itu, masyarakat yang mengalami nyeri lutut berulang, kesulitan berjalan, atau penurunan kemampuan beraktivitas diimbau segera memeriksakan kondisi tersebut kepada dokter dan tidak menunggu hingga gangguan semakin berat.





