BANGKAPOS.COM, BANGKA– Meskipun cat biru di dinding Pos Damkar Pinang Pura mulai mengelupas, logo bertuliskan “Yudha Brama Jaya” yang berada di depan tak sedikit pun melunturkan semangat tangguh petugasnya.
Pukul 7.30 WIB dua petugas berseragam biru duduk di dekat pintu. Kacamata hitam terpasang, pandangan mereka lurus mengawasi jalanan di depan pos. Di atas meja kayu yang mulai kusam terlihat beberapa lembar catatan armada.
Suasana tampak biasa, namun bagi petugas pemadam kebakaran, suasana tenang seperti itu bisa berubah seketika hanya dalam hitungan detik. Di sisi pos, sebuah truk Hino merah dengan nomor polisi BN 9512 PZ berdiri kokoh.
Tulisan “MOBIL SUPPLY AIR KEBAKARAN” terpampang pada badan kendaraan.
Tangkinya mampu membawa sekitar 5.000 liter air. Armada tersebut memiliki peran penting untuk menyuplai kebutuhan air secara berkelanjutan bagi unit pemadam utama ketika proses pemadaman berlangsung.
Terutama ketika api berkobar di kawasan permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan. Namun, di balik kokohnya dan kerasnya suara sirene truk merah itu, ada pekerjaan yang jarang terlihat.
Ada tangan-tangan yang memeriksa pompa. Ada yang mengecek selang. Ada yang memastikan tangki tetap terisi. Ada yang memastikan kendaraan layak bergerak.
Dan ada seseorang yang bertanggung jawab terhadap kesiapan operator serta armada-armada itu sebelum maju ke medan kebakaran.
Namanya adalah Ahmad Bajri. Ia Petugas Pemadam Kebakaran yang termasuk dalam Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pangkalpinang yang dipercaya sebagai Kepala Operator.
Bagi Ahmad, operator bukan sekadar orang yang memegang kemudi. Ada nyawa rekan-rekan yang berada di dalam kendaraan yang ikut menjadi tanggung jawabnya.
“Operator itu sangat penting. Mereka harus bisa membaca situasi dan kondisi ketika berada di lapangan,”kata Ahmad saat dibincangi Bangkapos Kamis (13/08/2026).
Sehari-hari, para petugas pemadam kebakaran bersiaga selama 24 jam dengan pergantian personel mulai pukul 7.30 WIB dengan 4 hari bekerja 3 hari libur.
Ahmad bekerja selama hampir dua puluh tahun. Ahmad Bajri bukan orang baru di dunia pemadam kebakaran. Ia bergabung sejak 2006.
“Saya sendiri di Damkar ini kebetulan dari tahun 2006 saat itu saya masih seperti pemula sama rekan-rekan, hanya sebagai operator atau supir,” katanya.
Namun pekerjaannya tidak berhenti di belakang kemudi. Ia juga membantu sebagai helper dan nozzleman.
Pengalaman selama bertahun-tahun akhirnya membuat Ahmad mendapatkan kepercayaan menjadi Kepala Operator.
“Dikasih kepercayaan oleh pimpinan maupun rekan-rekan yang ada di Damkar Kota Pangkalpinang selaku Kepala Operator. Dikasih mandat yang sangat berat sebenarnya karena terkait masalah nyawa rekan-rekan,” katanya.
Hampir dua puluh tahun bekerja membuat Ahmad memahami bahwa pekerjaan Damkar tidak pernah sekadar mengemudikan mobil.
“ketika mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan tinggi mulai dari 60km di tengah kota hingga 80km di luar kota apalagi membawa beban air berat hingga beberapa teman di dalam mobil itu detik-detik perjuangannya,” katanya.
Ia menjelaskan ketika dipakai, mobil tersebut harus dalam kondisi prima hingga tidak terjadi kecelakaan ataupun kelalaian ketika memadamkan api.
“Ada kejadian ketika sambungan pipa lepas karena rusak, pipa melibas ke sekeliling dengan tekanan yang besar membuat orang sekitar luka, kalo mobil rusak di tengah jalan rumah, orang bisa hangus terbakar,” katanya.
Rp300 Ribu dan Seragam Pemberian Senior
Masa sulit pernah dirasakan oleh Ahmad. Salah satunya ketika ia dan rekan-rekannya belum memiliki perlengkapan seperti sekarang.
Bahkan pada awal pengabdian, bahkan seragam yang dikenakannya saat itu masih mengandalkan pemberian senior.
“Ketika itu kami belum punya baju dinas, masih dikasih-kasih sama senior.”
Penghasilan yang diterimanya juga hanya sekitar Rp300 ribu.
“Penghasilan honor cuma Rp300 ribu.”
Angka tersebut kemudian meningkat secara bertahap. Pada 2009 sekitar Rp900 ribu. Pada 2011 atau 2012 menjadi sekitar Rp1 juta lebih. Kemudian pada 2017 sekitar Rp2 juta.
Namun Ahmad tetap bertahan. Ia menyebut ada satu hal yang membuatnya mampu menjalani perjalanan panjang tersebut.
“Bekerjanya harus besar hati.”
Lalu ia menegaskan: “Ikhlas.”
Kini Ahmad berstatus sebagai PPPK paruh waktu.
Setelah bertahun-tahun mengabdi, ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bekerja dan melayani masyarakat.
“Setelah sekian lama mengabdi dan alhamdulillah masih dikasih rezeki seperti ini, meskipun paruh waktu saya sangat bersyukur.”
Dan ada petugas Damkar yang harus datang ketika orang lain justru berusaha menjauh dari api.
“Setelah sekian lama saya bekerja, ternyata tupoksi Damkar ini bekerja benar-benar ikhlas.”
Bagi Ahmad, pengabdian tidak selalu tentang materi.
“Bekerja benar-benar ikhlas, tidak mengharapkan apa-apa, istri pun ikut mencari penghasilan tambahan dengan berjualan air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,” katanya.
Dari Adrenalin Menjadi Pengabdian ketika pertama kali bergabung, motivasi Ahmad sederhana pekerjaan Damkar terasa menantang.
“Awalnya motivasinya hanya proses kerjanya menantang. Butuh adrenalin awalnya.”
Namun semakin lama, cara pandangnya berubah. Ia mulai memahami bahwa pekerjaan tersebut memiliki makna lebih besar.
Ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Ada rumah yang terbakar. Ada keluarga yang panik.
Di balik seragam Damkar, Ahmad adalah seorang ayah ia memiliki empat anak.
“Saya sudah berkeluarga dan alhamdulillah dikaruniai empat orang anak.” Dua putri dan dua putra. Setiap kali Ahmad berangkat menuju lokasi kebakaran, ada keluarga yang menunggu di rumah.
Istrinya selama ini tetap memberikan dukungan. Namun ketika anak-anak mulai besar sempat melarang untuk bekerja sebagai damkar memahami bahwa pekerjaan ayahnya penuh risiko.
Ahmad memilih menjelaskan kepada mereka. “Sebagai ayah, kita harus menjelaskan kepada anak bagaimana cara kita mencintai pekerjaan.”
Ia ingin anak-anak memahami bahwa pekerjaan tidak selalu harus diukur dari besarnya penghasilan.
“Kita harus mencintai pekerjaan kita walaupun pekerjaan itu tidak membuat kita kaya.”
Tugas seorang kepala operator tidak mudah ia harus melihat bagaimana kesiapan dan kerusakan pada bagian mobil mobil tersebut ia membuat list pengecekan pagi dan malam dari para operator operator dibawahnya.
Mulai dari kesiapan selang, ban mobil, fungsi lampu , Sirine serta mesin high pressure harus di cek dan list setiap hari
Kesiapsiagaan Damkar Pangkalpinang tidak hanya bertumpu pada satu pos. Dari tujuh kecamatan yang ada di Kota Pangkalpinang, saat ini sudah tersedia lima pos Damkar yang ditempatkan di sejumlah sektor pelayanan.
“Dari tujuh kecamatan, alhamdulillah sudah ada lima kecamatan yang ada pos Damkar,” kata Ahmad.
Menurut Ahmad, di masing-masing lima pos tersebut juga ditempatkan satu kendaraan pemadam.
“Untuk kendaraan di lima pos tadi, masing-masing kita menempatkan satu mobil pemadam kebakaran dan mobil air yang total 5 mobil dan ada operator yang dibawah pengawasan saya,”katanya.
20 Hari Menimba Ilmu di Korea Selatan
Perjalanan Ahmad juga pernah membawanya keluar Indonesia. Pada 2018, ia dipercaya mengikuti pendidikan standar internasional di Seoul Fire Service Academy, Korea Selatan dan menjadi satu satunya dari Bangka Belitung yang memiliki sertifikat tersebut.
“Di tahun 2018 saya sempat mengambil standar internasional, satu-satunya orang dari Bangka Belitung dan dikirim ke Korea Selatan hingga saat ini untuk pelatihan langsung di Korea Selatan cuma saya yang memiliki sertifikat tersebut.”
Kesempatan itu diperoleh melalui kerja sama Pemerintah Kota Pangkalpinang dengan United Cities and Local Goverment Asia Pacific (UCLG ASPAC) Pengurangan Resiko Bencana (DRR) dalam program pembangunan daerah.
Selama sekitar 20 hari berada di Korea Selatan, Ahmad mempelajari berbagai teknik penanggulangan kebakaran. Ia pulang membawa pengalaman baru.
“Banyak ilmu yang saya tempa, banyak teknik-teknik kebakaran yang berbeda yang kita dapatkan,” katanya.
Menurutnya, secara prinsip teknik pemadaman tidak jauh berbeda. “Sebenarnya tidak berbeda, cuma metode-metodenya saja yang mereka lakukan,” katanya.
Perbedaannya terletak pada dukungan peralatan. Negara-negara seperti itu kan negara maju, dan mereka sudah ditunjang dengan peralatan-peralatan yang memadai
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah penanganan bahan berbahaya. Perbedaannya penanggulangan bahan-bahan yang berbahaya, gas beracun terdapat tim khusus.
“Mereka ada tim khususnya untuk gas beracun saya berharap mudah-mudahan rekan-rekan Damkar, terutama rekan-rekan Damkar Kota Pangkalpinang, bisa melanjutkan jejak-jejak tersebut,” katanya.
Sebab menurut Ahmad, semakin terlatih seorang petugas, semakin besar pula peluang untuk menyelamatkan nyawa.
“Yang paling penting bagi kami adalah keselamatan. Bukan hanya keselamatan masyarakat, tapi juga keselamatan anggota kami,” ujarnya.(Bangkapos.com/Erlangga).