SURYAMALANG.COM | MALANG – Persiapan program angkutan pelajar gratis di Kota Malang memasuki tahap akhir.
Sebanyak 160 unit angkutan kota (angkot) telah memenuhi persyaratan untuk terlibat dalam program Pemerintah Kota Malang (Pemkot Malang) tersebut.
Sekretaris Organda Kota Malang Purwono Tjokro Darsono mengatakan hal itu saat dikonfirmasi mengenai persiapan angkutan kota menjalankan program angkutan pelajar.
Purwono mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan pendataan terakhir terhadap armada yang memenuhi ketentuan.
Sementara itu, Dishub Kota Malang mengalokasikan 80 angkutan kota melayani pelajar untuk program angkutan pelajar.
Dengan kebutuhan 80 kendaraan dalam sekali pelayanan, armada yang tersedia dinilai mencukupi untuk pengaturan dua sif.
“Yang sudah finishing ini angkutan pelajar. Kemarin sebetulnya saat bertemu DPRD Kota Malang, posisi unit berdasarkan yang memenuhi syarat ada 160 unit. Kalau mereka bergabung, dengan kapasitas 80, bisa dibuat dua sif,” kata Purwono kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (13/8/2026).
Meski demikian, belum seluruh pengemudi angkot siap bergabung.
Purwono mengatakan sejumlah pengemudi lain ingin bergabung dalam program tersebut, namun terkendala syarat administrasi seperti kelayakan berkendara hingga keterangan hasil uji KIR.
Organda Kota Malang menyarankan agar pengemudi yang ingin mendapatkan kesempatan dalam program pemerintah untuk segera melengkapi persyaratan kendaraan. Salah satunya menyangkut uji KIR.
Menurut Purwono, pengemudi telah mendapatkan fasilitas uji KIR gratis.
Sementara kewajiban pembayaran pajak kendaraan tetap menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik.
"Teman-teman niat kerja, ya diurus. Kalau tidak, ya kami tidak bisa memaksa. Kami juga ingatkan, ini peluang teman-teman mendapatkan program yang dijalankan pemerintah," ujarnya.
Menurut Purwono, pemenuhan persyaratan penting karena angkot nantinya membawa pelajar.
Karena itu, kelayakan kendaraan maupun kelengkapan administrasi tidak bisa diabaikan.
“Karena yang dibawa ini kan manusia, jadi harus memprioritaskan keselamatan,” tegasnya.
Dari sisi kelembagaan, ia menyebut persiapan koperasi juga telah diselesaikan.
Dari sejumlah koperasi yang sebelumnya dipersiapkan, hasil verifikasi mengarah pada Koperasi Al Setia Kawan.
"Dari koperasi sudah selesai semua. Sudah kami penuhi semua. Dari beberapa koperasi yang siap, setelah diverifikasi, Koperasi Al Setia Kawan. Koperasi yang lain sepakat menginduk ke Al Setia Kawan," jelasnya.
Purwono mengatakan, pengemudi tetap memiliki kesempatan apabila ingin membentuk koperasi baru.
Namun, pembentukan badan hukum tersebut harus mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
Sementara untuk mempercepat pelaksanaan angkutan pelajar, dokumen persyaratan audit yang dibutuhkan telah dirampungkan dan diserahkan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang pada Kamis (13/8/2026).
"Syarat untuk auditnya sudah kami selesaikan hari ini. Kami serahkan ke Dishub Kota Malang," katanya.
Dengan tahapan tersebut, Purwono memperkirakan operasional angkutan pelajar gratis kemungkinan belum dapat dimulai pada pekan ini.
"Kalau minggu ini sepertinya belum, mungkin minggu depan," ujarnya.
Baca juga: Angkot di Malang Naik Level, Dipasangi GPS dan Terintegrasi Trans Jatim Demi Angkutan Sekolah Gratis
Baca juga: Rute Trans Jatim Koridor II Malang Raya, Suhat Bukan Prioritas Karena Bersinggungan dengan Angkot
Purwono menilai program angkutan pelajar dapat menjadi peluang baru bagi pengemudi di tengah kondisi angkutan kota yang terus menghadapi penurunan penumpang.
Namun, peluang tersebut harus diikuti kemauan pengemudi untuk membenahi kendaraan.
"Kalau saya berpikir, angkutan pelajar ini membantu. Hanya saja terhadap teman-teman yang belum memenuhi persyaratan, secara bertahap harus berbenah juga," katanya.
Pembenahan tersebut semakin penting karena angkot juga berpeluang dilibatkan dalam skema feeder atau angkutan pengumpan Trans Jatim.
Apabila program itu terealisasi, pengemudi lain yang belum terakomodasi dalam angkutan pelajar berpotensi mendapatkan kesempatan untuk terlibat.
"Kalau feeder jalan, teman-teman sopir yang lain bisa ikut serta," ujarnya.
Di sisi lain, Organda berharap Pemkot Malang menerima tawaran dukungan program feeder dari Pemprov Jawa Timur.
Menurut Purwono, program tersebut dapat menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola transportasi publik di Kota Malang sekaligus mengintegrasikan angkot dengan Trans Jatim.
Apabila transportasi publik semakin mudah dijangkau dan terintegrasi, Purwono meyakini masyarakat akan memiliki alternatif untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
"Mobilisasi masyarakat bisa berpindah ke angkutan umum. Masyarakat juga bisa berhemat daripada menggunakan kendaraan pribadi," pungkasnya.
Salah satu pengemudi yang belum melengkapi persyaratan administrasi adalah Muhammad Sofi. Sofi menjelaskan, kendala yang ia hadapi adalah biaya.
Meskipun ada layanan gratis, namun Sofi masih belum bisa menjangkau akses tersebut.
Sofi mengaku uji KIR angkot yang dikemudikannya saat ini sudah tidak aktif.
Meski demikian, ia mengaku tidak keberatan mengurus kembali persyaratan kendaraan apabila terdapat fasilitas uji KIR yang masih gratis.
“Sebetulnya tidak kerepotan mengurus uji KIR atau administrasi lainnya. Sekarang mati uji KIR-nya. Kalau gratis saya mau, tapi belum pasti gratis setahu saya,” katanya.
Sofi merupakan salah satu sopir angkot trayek AMG. Ia telah menggantungkan hidup dari balik kemudi angkot sejak 2001.
Lebih dari dua dekade menjadi sopir membuat Sofi merasakan perubahan kondisi angkutan umum di Kota Malang.
Kini, di tengah rencana masuknya Trans Jatim Koridor II, ia mengaku khawatir penumpang angkot semakin berkurang.
“Sejauh yang saya tahu, itu memengaruhi penumpang saya. Mengurangi penumpang,” katanya.
Sementara mengenai rencana menjadikan angkot sebagai feeder Trans Jatim, Cak Mat mengaku belum memahami skema tersebut.
Ia mengatakan pernah mendapatkan informasi dari sesama pengemudi. Namun, informasi tersebut bukan diperoleh melalui sosialisasi resmi yang diikutinya.
Bagi Sofi, rencana perubahan sistem transportasi tersebut belum memberikan kepastian kepada seluruh pengemudi.
Terlebih jumlah angkot di Kota Malang cukup banyak, sedangkan belum diketahui siapa saja yang nantinya bisa terlibat dalam program pemerintah.
“Kurang memuaskan. Karena banyak angkot. Ya kalau dapat, kalau tidak dapat,” katanya.
Karena itu, ia justru berharap dapat tetap menjalankan angkot seperti biasanya.
Selama ini, Sofi melayani penumpang dengan melewati kawasan Terminal Gadang, Mergosono hingga Arjosari.
“Inginya seperti biasa saja. Terminal Gadang, Arjosari, Mergosono,” ujarnya.