Sego Boran Viral, Warganet Ngaku Makan 4 Orang Bayar Rp350 Ribu, Ini Respons Pemkab Lamongan
Wiwit Purwanto August 13, 2026 09:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Sego Boran Lamongan mendadak viral setelah komentar warganet menyebut makan untuk empat orang mencapai Rp350 ribu.

Pemkab Lamongan kemudian turun tangan, meminta pedagang lebih transparan menyampaikan harga kepada konsumen sebelum transaksi agar tidak menimbulkan persepsi.

Sepiring Sego Boran memang terlihat sederhana. Nasi putih, sambal, kuah bumbu, dan beragam lauk tersaji di atas pincuk atau wadah sederhana yang sudah akrab dengan keseharian masyarakat Lamongan.

Namun, kuliner tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lamongan itu kini ramai diperbincangkan di media sosial.

Perbincangan bermula dari sebuah video berdurasi sekitar 25 detik yang memperlihatkan deretan pedagang Sego Boran berjualan di pinggir jalan Lamongan.

Baca juga: Soto Ayam Lamongan H Tarim Sidoarjo, Depot Soto Resep Keluarga dengan Ambience Tampilan Modern

Perhatian warganet kemudian tertuju pada sebuah komentar yang mengaku pernah makan Sego Boran untuk empat orang dengan total tagihan mencapai Rp350 ribu.

"Pokoknya saya pernah makan 4 orang kena 350 ribu," demikian bunyi komentar dalam video tersebut.

Unggahan itu pun memantik beragam respons. Perdebatan bukan semata-mata soal nominal Rp350 ribu, melainkan juga tentang bagaimana kuliner yang selama ini dikenal sebagai makanan rakyat bisa dipersepsikan mahal ketika harga dan lauk yang dipilih tidak diketahui sejak awal.

Pemkab Lamongan Minta Harga Disampaikan Terbuka

Persoalan tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag).

Kepala Diskoperindag Lamongan Anang Taufik mengatakan, pihaknya telah menindaklanjuti laporan masyarakat dengan melakukan pembinaan dan edukasi kepada pedagang Sego Boran.

"Menindaklanjuti laporan masyarakat terkait adanya penjualan Nasi Boran dengan harga yang dinilai tidak wajar, kami melakukan pembinaan dan edukasi kepada pelaku usaha Nasi Boran," kata Anang.

Menurut Anang, pembinaan tersebut bukan bertujuan mematikan usaha pedagang. Pemerintah justru ingin pedagang tetap dapat mencari nafkah dari kuliner khas Lamongan itu, sementara konsumen mendapatkan kepastian mengenai harga yang harus dibayar.

Baca juga: Kuliner Sego Boran Lamongan Resmi Diakui Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Karena itu, pedagang diminta menyampaikan harga makanan secara jelas kepada pembeli sebelum transaksi dilakukan.

Terlebih, Sego Boran memiliki beragam pilihan lauk dan pelengkap, sehingga besarnya tagihan bergantung pada jenis serta jumlah lauk yang dipilih konsumen.

Dengan keterbukaan harga, pembeli dapat menentukan pilihan sesuai kemampuan dan kesepakatan.

"Kami ingin aktivitas perdagangan berjalan tertib dan transparan. Pedagang juga tetap bisa berjualan, tetapi harga harus disampaikan secara jelas kepada konsumen," tandas Anang, Kamis (13/8/2026).

Diskoperindag tidak memberikan sanksi langsung kepada pedagang terkait persoalan tersebut. Anang mengatakan, mekanisme sanksi diserahkan kepada paguyuban Sego Boran.

"Kalau untuk sanksi, itu kami serahkan kepada paguyuban. Kami dari dinas lebih kepada pembinaan dan edukasi," ujarnya.

Sego Boran Bukan Sekadar Sepiring Nasi

Di tengah viralnya persoalan harga, ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni menjaga nama baik Sego Boran sebagai identitas kuliner Lamongan.

Bagi sebagian masyarakat, Sego Boran bukan sekadar makanan untuk mengganjal perut. Kuliner tersebut telah menjadi bagian dari wajah Lamongan, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi para pedagang yang bertahun-tahun mengandalkan penjualan nasi khas itu untuk menghidupi keluarga.

Boran sendiri merupakan wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Wadah tersebut biasanya dibawa pedagang dengan cara digendong menggunakan selendang. Dari wadah sederhana itulah kemudian lahir nama Sego Boran atau Sego Boranan.

Kuliner ini biasa dijajakan secara lesehan di sejumlah kawasan pasar dan wilayah perkotaan Lamongan. Kekhasannya terletak pada racikan bumbu dan pilihan lauk yang tidak mudah ditemukan pada makanan lainnya.

Ada empuk, pletuk, hingga ikan sili yang menjadi bagian dari kekhasan Sego Boran.

Karena itu, viralnya persoalan harga diharapkan tidak membuat masyarakat melupakan cerita panjang di balik kuliner tersebut. Di satu sisi, konsumen berhak mendapatkan informasi harga yang jelas.

Di sisi lain, pedagang juga berhak mendapatkan ruang untuk terus berjualan dan menghidupi keluarganya. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika transaksi dilakukan secara terbuka dan saling menghargai.

Pada akhirnya, Sego Boran bukan hanya tentang berapa rupiah yang dibayarkan setelah makan. Ada tangan-tangan pedagang yang sejak pagi menyiapkan dagangan, ada keluarga yang menggantungkan penghasilan dari setiap pembeli, dan ada identitas Lamongan yang terus dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, transparansi harga menjadi penting. Bukan hanya agar pembeli merasa nyaman, tetapi juga agar pedagang Sego Boran tetap dipercaya dan kuliner khas Lamongan tersebut terus memiliki tempat di hati masyarakat.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.