TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sebagai urat nadi perdagangan internasional Indonesia yang menangani arus utama ekspor dan impor nasional, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara tak pernah sepi dari lalu-lalang truk trailer raksasa.
Baca juga: Bea Cukai Tanjung Priok Gagalkan Penyelundupan 5 Motor Harley Davidson dari Tiongkok
Namun, di balik sibuknya pergerakan barang tersebut, tersembunyi tantangan klasik berupa inefisiensi operasional yang kerap memicu kemacetan parah di kawasan pelabuhan dan sekitarnya: perjalanan tanpa muatan (empty trip).
Selama ini ribuan truk sering kali harus masuk ke terminal hanya untuk menurunkan kontainer ekspor, lalu keluar dalam keadaan kosong melompong atau sebaliknya, datang dengan bak kosong hanya untuk menjemput kontainer impor.
Guna memutus rantai perjalanan tidak produktif yang membuang waktu dan bahan bakar tersebut, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) secara resmi mendorong penerapan skema operasional bertajuk Dual Move.
Melalui pendekatan inovatif ini, armada pengangkut kini memungkinkan untuk mengantarkan peti kemas ekspor sekaligus mengambil peti kemas impor dalam satu kali rangkaian kunjungan (single visit) ke dalam terminal.
Langkah strategis ini diharapkan dapat memangkas separuh volume pergerakan armada yang tidak perlu, meminimalkan penumpukan antrean truk, serta secara bertahap menekan biaya logistik nasional.
Guna menyamakan persepsi dan memastikan kesiapan infrastruktur di lapangan, JICT menggelar sosialisasi skema Dual Move yang melibatkan jajaran regulator Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, asosiasi pengusaha freight forwarding, hingga perusahaan trucking di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Kamis(13/8/2026).
Direktur Operasi dan Teknik JICT, Doni Budiono, menegaskan bahwa kecanggihan dan efisiensi di dalam terminal tidak akan ada artinya jika tidak memberikan dampak finansial serta produktivitas yang nyata bagi para pengguna jasa di luar gerbang pelabuhan.
Baca juga: Tanjung Priok Catat Kenaikan Throughput, Masuk 3 Pelabuhan dengan Pertumbuhan Tertinggi di RI
"Efisiensi terminal akan memberikan nilai lebih besar ketika dapat diterjemahkan menjadi produktivitas bagi pengguna jasa. Melalui Dual Move, kami membuka peluang agar satu kunjungan kendaraan dapat menghasilkan dua pergerakan produktif," ujar Doni.
Doni menjelaskan, efektivitas Dual Move nantinya tidak sekadar diukur dari banyaknya transaksi yang masuk, tetapi dari keandalan proses di lapangan dan penurunan signifikan pada indikator Truck Turn Time (TTT) yakni total waktu yang dibutuhkan armada truk mulai dari melintasi gerbang masuk hingga keluar terminal. Evaluasi berkala berbasis data akan terus dilakukan bersama para pengusaha angkutan.
Langkah integrasi operasional ini menyenggol berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasok. Oleh karena itu, dukungan penuh datang dari pihak regulator dan pengelola kawasan pelabuhan.
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, menyatakan bahwa harmonisasi antara tata kelola operasional dan regulasi sangat penting untuk menjaga kelancaran distribusi barang nasional.
"Peningkatan kualitas layanan termasuk bagaimana kita terus menyempurnakan proses, koordinasi, dan produktivitas pergerakan barang maupun kendaraan di dalam ekosistem pelabuhan. Keberhasilan implementasi Dual Move tentu sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak," tegas Heru.
Baca juga: Arus Peti Kemas dan Logistik Melonjak Jelang Lebaran, Terminal Siapkan Layanan 24 Jam
Senada dengan hal tersebut, Senior Manager Komersial Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Chandra Irawan, menyoroti dampak positif program ini terhadap penguraian beban lalu lintas kota. Menurutnya, semakin tinggi tingkat penggunaan skema Dual Move oleh pemilik armada, makin besar pula kontribusinya dalam mengurangi kepadatan truk di arteri jalan raya kawasan Tanjung Priok, Cilincing, hingga Kelapa Gading.