Rencana Pembatasan BBM Bersubsidi Tuai Pro Kontra di Masyarakat, Ini Kata Warga dan Pengemudi
Kemal Setia Permana August 13, 2026 10:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah bakal membatasi pembelian bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah atas dan kelompok kaya agar subsidi BBM lebih tepat sasaran.

Hal ini muncul setelah Kementerian Keuangan bersama Kementerian ESDM menyiapkan aturan yang akan menyasar masyarakat yang masuk ke desil 9 dan desil 10. Namun, akan diterapkan secara bertahap.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan masih dilakukan pengkajian dampak pada perekonomian dan potensi pada penghemetan anggaran negara. Kemudian, pemerintah dan Pertamina pun sedang menyiapkan sistem dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung penerapan kebijakan ini.

Rencana ini pun mendapat pro dan kontra di kalangan masyarakat, seperti yang dikatakan salah seorang warga bernama Naviandri asal Riau yang menilai kurang setuju dengan rencana kebijakan tersebut.

"Enggak perlulah pertalite dibatasi untuk desil 9 dan 10, karena kita mengisi kan sesuai tangki kendaraan. Justru, yang perlu ditertibkan itu adalah pedagang liar yang membeli ke SPBU memakai dirijen. Jadi, kalau perlu dibuat aturan enggak boleh jual pertalite atau sejenisnya di luar SPBU," katanya.

Baca juga: Kekurangan 36 Ribu Penerangan Jalan, Sebagian Wilayah Kota Bandung Gelap di Malam Hari

Dia juga menekankan pemerintah tak perlu membuat kebijakan pembatasan penggunaan pertalite bagi desil 9 dan 10, karena memang mereka yang desil 9 dan 10 tangki kendaraannya sudah dibatasi pembeliannya.

"Rata-rata kan tiga liter dan maksimalnya lima liter jika penuh. Dan jika penuh pun bisa tahan sampai dua atau tiga harian," katanya

Sementara itu, di lain pihak rencana kebijakan ini didukung oleh pengemudi taksi online yang ditemui di Jalan Soekarno Hatta, Kamis (13/8/2026).

Menurut Hilman, dia setuju dengan rencana kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan pertalite.

"Saya sih setuju. Karena, jelas itu akan mengurangi penggunaan pertalite sehingga subsidi dari pemerintah itu bisa benar-benar tepat sasaran. Saya saja biasa isi penuh Rp 300-400 ribu dan bisa tahan sampai dua harian," katanya.

Senada dengan Hilman, Heri pun mengaku setuju dengan rencana itu.

"Saya sangat setuju, karena untuk pemerataan dan tepat sasaran BBM bersubsidi itu. Kami ini kan berhak menerima pertalite. Jadi, adanya kebijakan itu nanti bisa menjadi sebuah penyesuaian, dan bagi mereka yang pendapatannya besar atau jangan sampai yang pakai Pajero justru isi pertalite," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.