TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tya Ariestya memiliki cara tersendiri dalam membentuk karakter kedua buah hatinya, Kanaka dan Isaka.
Di tengah kemampuan finansial yang memungkinkan dirinya memberikan berbagai fasilitas mewah, Tya justru memilih mengajarkan kesederhanaan, kemandirian, serta cara menghargai uang sejak anak-anaknya masih kecil.
Menurut Tya, pendidikan mengenai kehidupan tidak harus selalu diberikan melalui hal-hal besar.
Ia justru berusaha mengenalkan anak-anaknya pada pengalaman sederhana yang dapat menjadi bekal mereka ketika dewasa.
Salah satu bentuk pendidikan yang diterapkan Tya adalah mendukung putra sulungnya, Kanaka, untuk menjalankan usaha kecil-kecilan.
Baca juga: Ogah Panas dan Ribet, Tya Ariestya Gandeng Kenan Bikin Kerudung Nyaman Buat Ibu Super Sibuk
Kanaka diketahui membuka jasa painting untuk casing ponsel dan tumbler. Dalam menjalankan usaha tersebut, Tya tidak sekadar memberikan modal kepada sang anak, tetapi juga membimbingnya memahami perhitungan keuangan.
"Aku ajarin dia belajar ngitung modal. Aku pengen dia tahu mana yang perlu dikeluarkan dan mana yang tidak," kata Tya di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2026).
Bagi Tya, pengalaman tersebut penting agar anak memahami bahwa mendapatkan sesuatu membutuhkan proses dan usaha.
Ia juga berusaha memastikan kedua anaknya tidak tumbuh dengan anggapan kebahagiaan selalu berkaitan dengan barang mahal.
Cara sederhana Tya dalam memberikan pengalaman kepada anak juga terlihat ketika ia mengajak Kanaka menikmati Gulai Tikungan alias Gultik di kawasan Mahakam.
Meski hanya dibanderol sekitar Rp 7.000 per porsi, pengalaman tersebut justru dianggap Tya dapat meninggalkan kenangan tersendiri bagi anaknya.
"Memori yang dia ingat mungkin bukan beliin mainan mahal, tapi momen makan Gultik itu. Dia sempat kaget harganya," ujarnya.
Tya ingin anak-anaknya terbiasa berada di berbagai lingkungan dan tidak merasa canggung ketika harus menjalani kehidupan sederhana.
"Aku pengen dia bisa masuk ke semua kalangan, dari sekarang dia harus bisa makan di warteg juga," tambahnya.
Nilai kesederhanaan juga diterapkan Tya dalam memilih barang yang digunakan anak-anaknya.
Salah satunya ketika ia membekali Kanaka dengan sebuah ponsel fitur yang hanya memiliki fungsi dasar untuk telepon dan mengirim pesan singkat.
Ponsel yang dibeli dengan harga sekitar Rp 150 ribu tersebut diberikan karena Kanaka kerap merasa khawatir ketika harus berpisah sejenak dari orang tuanya saat berada di tempat umum.
Menariknya, Kanaka justru tidak merasa rendah diri meski menggunakan ponsel sederhana.
"Dia bangga punya barang Rp 150 ribu itu karena di belakangnya dia cat sendiri, dia kreasikan. Anak-anakku alhamdulillah enggak pernah minder dengan barang biasa," tutur Tya.
Menurut Tya, sikap tersebut menjadi salah satu hal yang ingin terus ia tanamkan kepada anak-anaknya agar mereka tidak menilai seseorang berdasarkan barang yang dimiliki.
Pola pikir sederhana juga mulai terlihat dari putra keduanya, Isaka.
Tya mengungkapkan, sang anak pernah menyampaikan pandangan mengenai mobil mewah. Bagi Isaka, harga dan kemewahan kendaraan bukanlah hal utama.
Menurutnya, yang paling penting dari sebuah mobil adalah kemampuannya memberikan perlindungan dari panas dan hujan.
Ucapan sederhana tersebut membuat Tya melihat bahwa nilai-nilai yang selama ini ia tanamkan mulai dipahami oleh anak-anaknya.
Tidak hanya melalui pengalaman sehari-hari, Tya juga memiliki aturan khusus mengenai penggunaan uang jajan.
Setiap kali memberikan uang kepada Kanaka, ia meminta sang anak mencatat pengeluaran yang dilakukan.
"Setiap aku kasih jajan, aku minta dia bikin catatannya. Hari ini uangnya dipakai buat jajan apa saja," jelas Tya.
Menurut Tya, kebiasaan tersebut dilakukan agar anak mulai memahami perbedaan antara pemasukan dan pengeluaran.
"Pemasukan dan pengeluaran diajarin biar dia lebih menghargai uang, jangan menganggap uang itu gampang didapat, jadi dia harus tahu mana yang perlu dikeluarkan dan mana yang tidak," lanjutnya.
Di tengah kesibukannya mendidik anak, Tya juga masih aktif mengembangkan bisnis propertinya.
Ia bersama sang suami, Irfan Ratinggang, diketahui mengelola bisnis kos eksklusif di sejumlah lokasi strategis, mulai dari Setiabudi, Cilandak, hingga Karawang.
Salah satu propertinya berada di kawasan Cilandak dengan bangunan empat lantai yang dilengkapi fasilitas seperti rooftop dan kolam renang.
Tya juga tengah mempersiapkan peluncuran kos-kosan terbaru yang rencananya dilakukan pada 17 Agustus mendatang.
Peluncuran tersebut sekaligus dipersiapkan sebagai hadiah untuk memperingati hari jadi pernikahannya.
Bagi Tya, perkembangan bisnis memang penting untuk mempersiapkan masa depan. Namun, ia menilai pembentukan karakter anak tetap menjadi investasi yang jauh lebih berharga.
"Perjalanan hidup itu panjang, kalau enggak dipupuk kesederhanaan dari kecil, mereka enggak akan siap. Kita enggak selamanya hidup bermewah-mewahan," pungkasnya.
(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)