TRIBUNJATIM.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan cuaca di sejumlah wilayah Jawa Timur pada Jumat (14/8/2026) didominasi kondisi cuaca cerah hingga berawan.
sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi mengalami kondisi cerah dengan suhu siang hari yang cukup hangat.
Sejumlah daerah seperti Jombang, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, hingga Lamongan diprakirakan didominasi cuaca cerah.
Suhu di sejumlah wilayah tersebut berada di kisaran 29–33 derajat Celsius, sehingga masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan memperhatikan kebutuhan cairan tubuh.
Kondisi serupa juga berpotensi dirasakan di wilayah Jawa Timur lainnya.
Pada periode ini, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia memang tengah berada dalam periode musim kemarau.
Sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim telah memasuki musim kemarau, sementara pengaruh El Niño turut mendukung kondisi yang lebih kering.
Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Kamis 13 Agustus 2026 Didominasi Cerah Berawan, BMKG Ungkap Prediksi Musim Hujan
Baca juga: Fenomena El Nino Memperkuat Kemarau di Jatim, BMKG Peringatkan Potensi Musim Hujan Mundur
Berikut data prakiraan cuaca Jawa Timur untuk Jumat, 14 Agustus 2026 berdasarkan layanan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda:
BMKG Stasiun Meteorologi Juanda juga mengingatkan bahwa prakiraan dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.
Karena itu, masyarakat disarankan selalu mengecek pembaruan informasi resmi BMKG sebelum beraktivitas.
Dengan mengetahui prakiraan cuaca lebih awal, masyarakat dapat menyesuaikan rencana perjalanan dan aktivitas agar tetap aman dan nyaman sepanjang Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca juga: Musim Kemarau 2026 Kapan Berakhir? BMKG Ungkap Jadwal Musim Hujan dan Daerah Rawan Karhutla
Di sisi lain, BMKG sebelumnya telah merilis prakiraan kemunculan El Nino pada Maret 2026.
Karena fenomena tersebut muncul setelah pertengahan tahun, dampak utamanya diperkirakan baru terasa menjelang berakhirnya musim kemarau.
"Yang paling mungkin terjadi adalah awal musim hujan bisa mengalami kemunduran," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno.
Meski demikian, Anung mengingatkan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti tidak terjadi hujan sama sekali.
Dinamika atmosfer masih memungkinkan munculnya hujan dalam waktu tertentu akibat berbagai gangguan cuaca.
"Di tengah musim kemarau masih tetap bisa terjadi hujan. Ada pengaruh Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gangguan atmosfer lainnya yang dapat memunculkan hujan dalam periode singkat," katanya.
Anung menjelaskan dampak El Nino secara umum dirasakan hampir di seluruh wilayah selatan garis khatulistiwa.
Namun, kondisi geografis dan morfologi wilayah menyebabkan tingkat pengaruhnya tidak sama.
Wilayah pegunungan seperti lereng selatan Gunung Semeru maupun kawasan sekitar Gunung Lawu termasuk daerah nonzona musim yang secara klimatologis memiliki curah hujan relatif tinggi sepanjang tahun.
"Di wilayah seperti itu, meskipun terjadi El Nino, hujan tetap ada. Hanya saja jumlahnya menjadi lebih sedikit dibanding kondisi normal," jelasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com